Home / Berita / Perdana, ITB Anugerahkan Doktor Kehormatan kepada Perempuan

Perdana, ITB Anugerahkan Doktor Kehormatan kepada Perempuan

Institut Teknologi Bandung menganugerahkan gelar doktor kehormatan (honoris causa) kepada Chief Executive Officer PT Paragon Technology and Innovation Nurhayati Subakat di Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/4/2019). Nurhayati menjadi perempuan pertama yang menerima gelar itu dari ITB.

Sebelumnya, terdapat 11 orang penerima doktor kehormatan dari ITB. Beberapa di antaranya adalah Presiden pertama Indonesia Soekarno, Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono, mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hartanto Sastrosoenarto, serta peraih nobel Prof Peter Agre dan Prof Finn Erling Kydland.

Chief Executive Officer PT Paragon Technology dan Innovation Nurhayati Subakat (kanan) menerima gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari Institut Teknologi Bandung (ITB) di Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/4/2019).
KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA–Chief Executive Officer PT Paragon Technology and Innovation Nurhayati Subakat (kanan) menerima gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari Institut Teknologi Bandung (ITB) di Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/4/2019).

“Penganugerahan doktor kehormatan ini akan mencatat sejarah tersendiri bagi ITB. Sebab, beliau (Nurhayati Subakat) adalah perempuan pertama yang mendapat gelar tersebut,” ujar Ketua Tim Promotor Yeyet Cahyati Sumirtapura.

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA–Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Yeyet Cahyati Sumirtapura di Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/4/2019).

Yeyet mengatakan, doktor kehormatan diberikan kepada seseorang yang telah memberikan sumbangsih nyata memajukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Selain itu, juga berdampak luar biasa bagi perkembangan kebudayaan bangsa serta kemanusiaan.

Menurut Yeyet, Nurhayati merupakan perempuan Indonesia yang telah berkarya nyata bagi masyarakat. Inovasi karyanya juga berkontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

PT Paragon Technology and Innovation (PTI) yang dipimpin Nurhayati memproduksi kosmetik dengan merek dagang Wardah. Perusahaan tersebut menjadi industri kosmetik nomor satu di Indonesia dengan memproduksi 135 juta produk per tahun.

ITB dengan bangga memberikan penghargaan kepada semua pihak yang menghasilkan karya-karya nyata untuk berkontribusi bagi pembangunan bangsa menuju lebih maju dan sejahtera.

Yeyet mengatakan, PT PTI juga menghasilkan produk dengan formula unggulan. Salah satunya formula maskara pertama di Indonesia yang tembus air.

Selain Wardah, PT PTI juga mempunyai empat merek lainnya, yaitu Make Over, Emina, IX, dan Putri. Perusahaan berbasis riset dan inovasi ini mempekerjakan 10.194 karyawan.

“ITB dengan bangga memberikan penghargaan kepada semua pihak yang menghasilkan karya-karya nyata untuk berkontribusi bagi pembangunan bangsa menuju lebih maju dan sejahtera,” ujarnya.

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA–Chief Executive Officer PT Paragon Technology and Innovation Nurhayati Subakat (kanan) menerima gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari Institut Teknologi Bandung (ITB) di Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/4/2019).

Nurhayati menempuh pendidikan sarjana dan apoteker di ITB pada 1971-1975. Sebelum menjalankan usahanya sendiri, dia pernah bekerja sebagai manajer pengendali mutu di Wella Cosmetics pada 1975-1985.

Sejak 1985, Nurhayati mendirikan industri rumahan produk sampo. Saat itu, usahanya hanya dijalankan dua karyawan. Nurhayati pun terus mengembangkan formulasinya hingga mampu bersaing di pasar sampai saat ini.

Berbagai dimensi dan parameter mutu selalu dipertimbangkan dalam menciptakan formula produknya. Hal itu meliputi parameter mutu, organoleptik, keamanan, efikasi, serta ditambah parameter halal.

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA–Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Kadarsah Suryadi (depan, kiri) di Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/4/2019).

Nurhayati mengatakan, penganugerahan gelar doktor kehormatan tersebut menambah motivasi untuk terus berinovasi. “Gelar ini diperoleh berkat hasil kerja tim. Jadi, ini penghargaan untuk karya anak bangsa. Mungkin kami pertama kali, perusahaan yang merupakan produk lokal bisa menyaingi produk multinasional,” ujarnya.

Rektor ITB Kadarsah Suryadi mengatakan, penganugerahan gelar doktor kehormatan kepada Nurhayati diharapkan menginspirasi perempuan-perempuan Indonesia untuk terus berkarya dan berinovasi.–TATANG MULYANA SINAGA

Editor MOHAMAD FINAL DAENG

Sumber: Kompas, 5 April 2019
————————————-
Perempuan Didorong Memaksimalkan Potensinya

Chief Executive Officer PT Paragon Technology and Innovation Nurhayati Subakat mendorong kaum perempuan Indonesia memaksimalkan potensinya. Salah satunya dengan berwirausaha sehingga dapat menciptakan lapangan kerja.

Hal itu disampaikan Nurhayati usai menerima gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari Institut Teknologi Bandung di Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/4/2019). Nurhayati menjadi perempuan pertama yang menerima gelar itu dari ITB.

“Ini membuktikan perempuan juga mempunyai potensi untuk berprestasi. Jadi, jangan sia-siakan potensi yang dimiliki,” ujarnya.

PT Paragon Technology and Innovation (PTI) memproduksi kosmetik bermerek Wardah. Perusahaan tersebut menjadi industri kosmetik nomor satu di Indonesia dengan menghasilkan 135 juta produk per tahun.

Selain Wardah, PT PTI juga mempunyai empat merek lainnya, yaitu Make Over, Emina, IX, dan Putri. Perusahaan berbasis riset dan inovasi ini mempekerjakan 10.194 karyawan.

Akan tetapi, kesuksesan tersebut tidak diraih secara instan. Sekitar 34 tahun lalu, Nurhayati membangun usahanya dengan dua karyawan.

Sebelum menjalankan usahanya sendiri, Nurhayati pernah bekerja sebagai manajer pengendali mutu di Wella Cosmetics pada 1975-1985. Pengalaman itu menjadi modal untuk mengembangkan formulasi produknya.

Tahun 1985, sarjana farmasi dan apoteker ITB tersebut memulai usahanya dengan memproduksi sampo. “Memang waktu kuliah tidak belajar spesifik tentang kosmetik. Namun, industri ini mirip dengan obat. Jadi, saya menyukainya,” ujarnya.

Nurhayati menuturkan, ketika kuliah, dia menyukai pelajaran formulasi. Hal itu pula yang diterapkan untuk terus berinovasi menghasilkan produk-produk terbaru.

“Saya mengerjakan sesuatu yang saya senangi. Dengan meramu, saya mendapatkan formulasi baru,” ujarnya.

Nurhayati mengatakan, perjalanan bisnisnya tidak selalu berjalan mulus. Industri rumahannya sempat terbakar pada 1990. Akibatnya, dia merugi karena produksi usahanya terganggu.

Akan tetapi, dia tidak menyerah. Dia justru semakin terpacu berinovasi. Salah satunya menghasilkan formula unggulan berstandar internasional seperti mascara pertama di Indonesia yang tembus air.

“Dalam bisnis, tidak boleh gampang menyerah. Harus terus berinovasi,” ujarnya. Berbagai dimensi dan parameter, seperti mutu, organoleptik, keamanan, dan efikasi, serta halal, selalu dipertimbangkan. Ini dilakukan agar mampu bersaing dengan industri multinasional.

Nurhayati berharap, semakin banyak kaum perempuan terjun ke dunia wirausaha. Menurut dia, hal itu menjadi salah satu cara berkontribusi membangun bangsa.

“Kita sekolah disubsidi oleh negara. Kalau sampai tidak memberi sesuatu untuk negara, itu mubazir,” ucapnya.

Ketua Tim Promotor Doktor, Yeyet Cahyati Sumirtapura, menilai Nurhayati merupakan perempuan Indonesia yang telah berkarya nyata bagi masyarakat. Inovasi karyanya juga berkontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“ITB dengan bangga memberikan penghargaan kepada semua pihak yang menghasilkan karya-karya nyata untuk berkontribusi bagi pembangunan bangsa menuju lebih maju dan sejahtera,” ujarnya.

Oleh TATANG MULYANA SINAGA

Sumber: Kompas, 5 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: