Home / Berita / inovasi / Greatest, Penjinak Longsor

Greatest, Penjinak Longsor

Pada masa peralihan musim, tanah longsor kerap terjadi di Indonesia.

Kondisi itu dipicu hujan sesaat dengan intensitas tinggi yang mengguyur lereng bertanah lapuk. Untuk mencegah bencana ini, sistem Gravitasi pada Ekstraksi Air Tanah untuk Stabilisasi Lereng diterapkan.
Tanah longsor menjadi perhatian karena kejadiannya sering berujung maut. Bahkan, tahun lalu bencana longsor paling banyak terjadi dan jumlah korbannya. Salah satunya, bencana yang menelan korban jiwa hingga lebih dari 100 orang di Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah, saat puncak hujan pada Desember 2014.

Namun, ancaman itu terus berlanjut pada musim pancaroba yang kini tengah berlangsung. Tanah longsor di Tegalpanjang, Kecamatan Cireunghas, Sukabumi, Jawa Barat, akhir bulan lalu, mengakibatkan 11 rumah tertimbun, 12 orang tewas, dan 2 orang dinyatakan hilang. Longsor dan tanah ambles dua pekan lalu ditemukan di sejumlah titik di jalan nasional Tegal-Purwokerto, Ciregol, Brebes, Jawa Tengah.

Longsor umumnya terjadi di kawasan perbukitan yang memiliki lapisan tanah lapuk dan berpasir yang mudah lepas. Ketidakstabilan lapisan itu dipicu kenaikan muka air tanah yang menyusupi pori-pori tanah lereng hingga terjadi kejenuhan.Ancaman kian besar akibat alih fungsi atau konversi lahan perbukitan.

Kasus Banjarnegara dan kebanyakan bencana longsor lain disebabkan alih fungsi lingkungan vegetasi hutan jadi lahan pertanian dan permukiman terbuka. Akibatnya, tak ada lagi penguatan oleh perakaran pepohonan dan air hujan tak tertahan segera masuk ke tanah.

Peringatan dini
Pada lingkungan yang telanjur beralih fungsi jadi kawasan pertanian dan permukiman, relokasi umumnya sulit dilakukan. Upaya yang ditempuh adalah memasang sistem peringatan dini tanah longsor dengan sistem ekstensometer untuk mengidentifikasi pergerakan tanah lereng. Perangkat itu mampu memberi peringatan dini lewat sirene otomatis agar masyarakat menyelamatkan diri sebelum bencana.

Pada 2007-2008, generasi pertama sistem peringatan dini longsor (SPDL) dibangun Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Sistem itu berupa peralatan manual ekstensometer dipadukan dengan penakar hujan. Uji coba alat itu dilakukan di Banjarnegara, Situbondo, dan Karanganyar. Tahun 2009, alat itu direproduksi di Tiongkok dan 10.000 unit dipasang di beberapa provinsi di Tiongkok.

aafca4aa68b54950a92cd770fe44d256Di Banjarnegara, November 2007, sirene ekstensometer berbunyi empat jam sebelum longsor menimbun 10 rumah. “Tak ada korban jiwa akibat peristiwa itu karena warga dari 35 rumah mengungsi sebelum bencana terjadi,” kata Dwikorita Karnawati, anggota tim perekayasa alat itu, yang kini Rektor UGM.

Kemudian, tim UGM membangun generasi kedua dan ketiga SPDL, yakni sistem berbasis digital dan telemetri. Sejak 2008-2011, UGM telah mendaftarkan lima paten SPDL yang dikembangkan Teuku Faisal Fathani, Dwikorita Karnawati, dan Wahyu Wilopo.

Alat buatan Indonesia tersebut sederhana dengan biaya sekitar 10 kali lebih murah daripada produk asing. Kandungan lokalnya lebih dari 80 persen. Inovasi itu telah menghidupkan empat bengkel industri kecil di sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Sistem itu diaplikasikan di 12 provinsi di Indonesia. Pada 2012 alat itu diekspor ke Myanmar, dan tahun ini alat itu akan diekspor ke Vietnam dan Kroasia.

Rekayasa lereng
Selain upaya memberi peringatan dini longsor, muncul pemikiran dari tim peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, yang dipimpin Adrin Tohari dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, untuk membuat sistem pencegahan longsor.

Alat yang dikembangkan tersebut adalah sistem otomatis penyedot air tanah di kawasan lereng yang rawan longsor. Mereka menamainya “Gravitasi pada Ekstraksi Air Tanah untuk Stabilisasi Lereng (Greatest).

Pada sistem itu, zona lereng yang tak stabil dibor serta dipasangi pipa-pipa dan pompa penyedot. Dengan pemantau ketinggian dan kendali otomatis, pada ketinggian air tertentu pompa akan menyedot dan mengalirkan air ke saluran yang aman. Pemompaan pada sumur itu mengurangi tekanan pada pori di daerah lereng.

Jumlah dan diameter pipa siphon tergantung dari aliran drainase, yakni diameter pipa 10 milimeter untuk 150 liter air per jam per sumur dan 25 milimeter untuk 1 meter kubik per jam.

Instalasi sistem drainase siphon dikembangkan Perancis. Sistem pertama dipasang TP Geo pada 1986 di Perancis timur dan masih berfungsi hingga kini. Kini ada sekitar 200 sistem drainase siphon yang beroperasi di Eropa, termasuk di Italia dan Inggris yang memasang 151 unit.

Sementara di Indonesia, Greatest yang merupakan hasil modifikasi sistem siphon Perancis masih tahap uji coba. “Modifikasi dilakukan pada sistem pemompaannya,” kata Adrin.

Uji coba skala laboratorium pada 2013-2016 dilakukan di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Unit Pelaksana Teknis Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI, di Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah.

Di lokasi itu, tim peneliti membuat tiga lubang bor yang bisa dimasukkan pipa PVC berdiameter 3 inci. Pipa berfungsi sebagai tempat pemasangan filter yang menjadi inlet Greatest. Selanjutnya, filter dihubungkan selang pneumatik.—-YUNI IKAWATI
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 April 2015, di halaman 14 dengan judul “Greatest, Penjinak Longsor”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

TREKfish Bantu Penelusuran Jejak Penangkapan Ikan

Tim peneliti dari IPB University mengembangkan peranti untuk membantu menelusuri jejak penangkapan ikan. Inovasi teknologi ...

%d blogger menyukai ini: