Home / Berita / Mitigasi Risiko Tsunami Selatan Jawa

Mitigasi Risiko Tsunami Selatan Jawa

Potensi tsunami yang mencapai 20 meter di selatan Jawa agar disikapi dengan perbaikan tata ruang wilayah pantai yang diterapkan dengan baik serta kesiapansiagaan masyarakat.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO—Pekerja menaiki mobil bak terbuka di kompleks Bandara Internasional Yogyakarta, Kulon Progo, DI Yogyakarta, Senin (30/3/2020). Bandara itu mulai beroperasi penuh sehari sebelumnya dengan melayani 115 rute penerbangan. BIY berkapasitas 20 juta penumpang per tahun atau 11 kali lebih besar dibanding Bandara Internasional Adisutjipto. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Riset terbaru tentang potensi gempa bumi dan tsunami di selatan Jawa harus menjadi dasar mitigasi. Teknologi peringatan dini tsunami merupakan bagian dari upaya mitigasi, tetapi yang paling penting adalah penataan ruang dan membangun kesiapsiagaan masyarakat untuk evakuasi mandiri.

“Pengabaian (risiko) bisa sangat fatal, karena menimbulkan korban sangat banyak. Ini tidak boleh lagi berulang. Wilayah yang pernah terdampak bencana, baik oleh gempa, tsunami, dan likuefaksi seperti Palu dan Aceh, harusnya tidak boleh lagi dihuni,” kata Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro, dalam diskusi daring, Rabu (30/9).

Diskusi dilakukan terkait kajian terbaru tentang potensi gempa bumi besar dan tsunami yang bisa melada pesisir selatan Jawa. “Tugas kami (dalam mitigasi) adalah bagaimana teknologi bisa berperan menjawab persoalan ini. Kita sudah punya sistem peringatan dini tsunami, dilengkapi buoy serta kabel optik (sensor tsunami) di Selat Sunda,” kata dia.

Dalam kajian yang dipimpin Sri Widiantoro dari Global Geophysics Research Group, Intistitut Teknologi Bandung (ITB) disebutkan, zona pertemuan lempeng di selatan Jawa menyimpan potensi gempa bumi dan tsunami besar. Kajian dipublikasikan di jurnal Nature pada 17 September 2020.

“Ada zona sepi gempa (seismic gap) di tempat terjadinya tumbukan lempeng Indo-Australia yang menyusup ke lempeng Eurasia. Mestinya bergerak, tetapi terkunci. Ini mengakumulasi energi. Kalau lepas bisa memicu gempa,” kata Sri.

Dengan data ini, menurut Sri, timnya kemudian membuat simulasi. “Ada banyak skenario yang dibuat, hanya di jurnal ditulis tiga,” kata dia.

Dalam paper tersebut disebutkan, zona gempa di selatan Jawa terbagi dua segmen, yaitu selatan Jawa Barat yang jika lepas bisa memicu gempa M 8,9 dan segmen Jawa Tengah – Jawa Timur bisa memicu gempa M 8,8. Sedangkan jika kedua segmen pecah bersamaan potensi gempanya bisa mencapai M 9,1. “Kalau bersamaan pecahnya, tsunami di bagian barat Jawa bisa 20 meter, 12 meter di timur. Di antaranya rata-rata bisa mencapai 4,5 – 5 meter,” kata dia.

Peneliti gempa bumi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawijaya mengatakan, potensi gempa dan tsunami di selatan Jawa bukan isu baru. Zona kegempaan ini merupakan bagian dari subduksi yang memanjang mulai dari Aceh, selatan Jawa, bahkan hingga selatan Bali dan Lombok. “Tahun 2013 saya sudah mempresentasikan ini dalam pertemuan di AGU (American Geophysical Union),” kata dia.

Sekalipun sudah diketahui berpotensi gempa, namun kapan periode keberulangannya sulit diketahui. “Kalau di Sumatera sudah dikenal siklus gempanya. Misalnya, sebelum gempa Aceh 2004 sebelumnya ada gempa lebih besar tahun 1450. Sebelum gempa Nias 2005 sebelumnya ada gempa 1861. Di selatan Jawa, kita belum punya datanya,” kata dia.

Tata Ruang
Kepala Pusat Geoteknologi LIPI Eko Yulianto mengatakan, potensi tsunami 20 meter di selatan Jawa dibangun berdasarkan sejumlah asumsi, yang bisa jadi tingginya akan berbeda oleh peneliti lainnya. Namun, dia meyakini bahwa tsunami memang pernah terjadi di selatan Jawa.

Sebelumnya, Eko telah menemukan sejumlah deposit tsunami di pesisir selatan Jawa dari Lebak, Banten hingga Pacitan, Jawa Timur, yang menunjukkan bahwa tsunami besar memang pernah terjadi di masa lalu. Deposit tsunami juga ditemukan di sekitar lokasi Bandara Internasional Yogyakarta.

Eko mengatakan, untuk mengurangi risiko bencana tsunami, aspek paling penting adalah mengelola tata ruang wilayah pantai. “Kita mestinya bisa belajar dari kasus tsunami Selat Sunda dan Palu 2018. Kedua tsunami ini terhitung kecil yang landaan gelombang sekitar 200 meter dari garis pantai. Jika aturan sempadan pantai dipatuhi, seharusnya korban jiwa dan kerugian bisa diminimalkan,” kata dia.

Selain tata ruang, masyarakat harus ditanamkan kesadaran dan pengetahuan pentingnya evakuasi mandiri, yaitu segera menjauh dari pantai jika merasakan guncangan gempa kuat dan lama. “Jangan bergantung pada sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS),” kata dia.

Dalam serangkaian kejadian sebelumnya, mulai dari tsunami Mentawai 2010, tsunami Palu 2018 dan tsunami Selat Sunda 2018, sistem InaTEWS ini belum terbukti efektif menyelamatkan masyarakat karena berbagai alasan teknis. Misalnya, guncangan gempa merusak berbagai sarana termasuk pasokan listrik sehingga sistem tidak berfungsi.

“Bencana sangat erat kaitannya dengan perilaku manusia. Teknologi atau sistem peringatan dini hanyalah alat bantu yang tidak terlalu membantu jika perilaku manusianya tidak bisa tertib dan semaunya sendiri,” kata dia.

Eko menambahkan, analisis risiko ini juga harus memperhitungkan tsunami bisa terjadi dalam kondisi terburuk, misalnya malam hari dan kepadatan lalu lintas tinggi. “Maka menyediakan tempat evakuasi sementara tsunami menjadi penting. Ini tidak harus dibangun secara khusus namun bisa dengan memfungsikan bangunan-bangunan yang sudah ada dan diuji kekuatannya,” kata dia.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 1 Oktober 2020

Share
%d blogger menyukai ini: