Cermati Gejala Longsor

- Editor

Rabu, 2 Januari 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bencana longsor yang terjadi di Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, pada Senin (31/12/2018), hendaknya meningkatkan kewaspadaan masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor. Apalagi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan hujan masih akan terjadi di wilayah Indonesia hingga beberapa bulan mendatang.

Terkait hal itu, ada beberapa poin yang perlu dicermati bagi masyarakat yang tinggal daerah rawan longsor, seperti di sekitar lereng perbukitan.

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA–Tim SAR gabungan bersama warga mencari korban akibat longsor yang melanda Kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (1/1/2019). Longsor yang terjadi pada Senin (31/12/2018) sore tersebut menyebabkan 11 korban meninggal dunia, 3 orang luka berat, dan 24 orang belum ditemukan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Kepala Sub Bidang Mitigasi Gerakan Tanah Wilayah Barat, Bidang Mitigasi Gerakan Tanah, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Sumaryono PVMBG, gejala awal longsor antara lain:

1. Retakan tanah
Masyarakat perlu memperhatikan kondisi tanah di sekitar tempat tinggal. Sebelum terjadi longsor besar, biasanya muncul retakan tanah. Jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, air dapat masuk ke retakan tersebut dan membuat tanah menjadi labil sehingga membuat tanah menggelincir atau longsor karena lapisan bawah jadi licin.

2. Amblesan kecil
Sebelum terjadi longsor besar, biasanya terdapat gejala awal berupa amblesan-amblesan kecil di sekitar lereng. Hal ini terjadi setelah hujan terjadi di wilayah tersebut.

3. Muncul rembesan air
Rembesan air menyerupai mata air kerap muncul tiba-tiba di lereng dan tebing sebelum terjadi longsor. Jika air yang keluar sudah berupa lumpur, itu pertanda bahwa tanah sudah bercampur air. Artinya lapisan tanah itu sudah mulai terkikis akibat air yang meresap dan keluar seperti mata air.

4. Kerikil berjatuhan
Runtuhan batu terjadi ketika sejumlah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Hal ini biasanya terjadi pada lereng yang terjal hingga menggantung, terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah. Jika sudah mendapati kerikil berjatuhan, masyarakat diimbau langsung menyelamatkan diri karena bisa jadi terdapat batuan besar yang sedang menggelinding jatuh ke bawah. (SUCIPTO)–A PONCO ANGGORO

Sumber: Kompas, 1 Januari 2019

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan
Biomedis atau Teknik Biomedis?
Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Sabtu, 26 September 2026 - 21:10 WIB

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 September 2026 - 20:32 WIB

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 September 2026 - 20:13 WIB

Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB