Home / Artikel / Belum yang Terburuk

Belum yang Terburuk

CATATAN IPTEK
Setelah serangkaian bencana alam yang menewaskan 3.349 orang dan hilang sebanyak 1.432 orang, tahun 2018 ditutup dengan bencana longsor di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada Senin (31/12/2018). Sebanyak 9 orang meninggal dunia dan 34orang masih dicari. Namun, sederet kejadian ini sebenarnya belum skenario terburuk yang bisa melanda.

?Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban jiwa akibat bencana pada tahun 2018 ini naik 984 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2017, jumlah korban jiwa sebanyak 309 jiwa, sekalipun dari frekuensi bencana lebih banyak 10 persen dibandingkan 2018.

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA–Tim SAR gabungan bersama warga mencari korban akibat longsor yang melanda Kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (1/1/2019). Longsor yang terjadi pada Senin (31/12/2018) sore tersebut menyebabkan 11 korban meninggal dunia, 3 orang luka berat, dan 24 orang belum ditemukan.–KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA (TAM)–01-01-2019

?Besarnya jumlah korban jiwa akibat bencana alam pada tahun 2018 ini disumbangkan oleh bencana geologi. Sementara bencana hidrometeorologi cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya, salah satunya karena fenomena El Nino yang memundurkan musim hujan.

Sumber: BNPB, 2018

?Sekalipun frekuensinya hanya 3,2 persen dari total frekuensi bencana di Indonesia, bencana geologi terbukti yang paling mematikan. Rentetan gempa bumi di Lombok saja telah menewaskan 564 orang. Kombinasi gempa bumi, likuefaksi dan tsunami di Sulawesi Tengah menyebabkan 3.475 orang meninggal dunia dan hilang. Sedangkan tsunami di Selat Sunda menewaskan 437 orang dan 16 orang hilang.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Sumur Layak Direlokasi – Pemukiman penduduk Desa Sumber Jaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, masih porak poranda saat dipantau melalui helikopter bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Willem Rampangilei, Rabu (26/12/2018), pasca diterjang tsunami pada Sabtu (22/12/2018). Pemukiman penduduk di bibir pantai ini layak direlokasi ke tempat yang lebih aman karena tingginya ancaman bencana tsunami.–KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

?Padahal, di balik korban jiwa yang mencapai ribuan ini, sebenarnya alam masih bermurah hati. Ketiga bencana geologi yang menyumbangkan jumlah korban terbanyak di tahun 2018 belum mencapai kekuatan puncak dari potensi ancamannya.

?Misalnya, dari ketiga bencana ini tidak terjadi pada saat jam kerja dan sekolah. Sejak tsunami Aceh 2004yang menewaskan 200.000 jiwa, kita memang belum diuji dengan gempa bumi di waktu-waktu genting ini. Padahal, seperti pernah terjadi di Sichuan, China pada 12 Mei 2008, gempa yang terjadi pada jam sekolah bisasangat mematikan. Sebanyak 70.000 penduduk di Sichuan tewas akibat gempa itu dan sekitar 10.000 di antaranya anak-anak sekolah.

?Selain itu, rentetan gempa di Lombok, juga tidak diikuti tsunami besar. Rekaman data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa M 7 di Lombok pada 5 Agustus 2018 yang memicu tsunami 13 cm, sedangkan gempa M 6,9 pada 19 Agustus terekam tsunami setinggi 18 cm.

?Padahal, mekanisme sesar naik Flores yang menjadi sumber gempa di utara Nusa Tenggara Barat ini memiliki riwayat bisa memicu tsunami. Jika sumber gempa saat itu sedikit ke utara atau di bawah laut seperti terjadi di Flores pada 1992, tsunami besar bisa melanda pesisir utara Lombok dengan jeda waktu kurang dari 10 menit. Energi gempa di Lombok juga “dicicil” dalam beberapa kali kejadian. Jika energinya saat itu dikeluarkan sekaligus, tentu magnitudo gempa bisa jauh lebih besar.

?Sementara gempa di Sulawesi Tengah bisa lebih mematikan lagi jika sumbernya sedikit lebih ke selatan dibandingkan yang terjadi pada 28 September 2018 lalu. Jika itu yang terjadi, dampak guncangan terhadap Kota Palu maupun tsunaminya bisa lebih tinggi.

?Selain itu, gempa di Sulawesi Tengah saat itu terjadi pada sore, sebelum benar-benar gelap, ketika banyak orang masih di luar rumah. Khusus di Pantai Talise, gempa itu terjadi sebelum dimulainya Festival Palu Nomoni.

?Banyak korban selamat yang mengaku melihat perubahan muka air laut sesaat setelah gempa, sehingga mereka segera menjauh dari pantai, seperti disaksikan masyarakat di Desa Loli, Kabupaten Donggala. Sekalipun ratusan rumah rusak di desa ini, korban jiwa tidak lebih dari 8 orang.

?Jika gempa disusul tsunami dan likuefaksi di Sulawesi Tengah terjadi pada malam hari, korbannya bisa jauh lebih banyak lagi, seperti terjadi saat tsunami melanda pesisir Banten dan Lampung pada 22 Desember 2018 lalu. Besarnya korban bencana di Selat Sunda, selain disebabkan kejadian pada malam hari dan tanpa peringatan dini, juga banyaknya wisatawan yang berlibur di tepi pantai.

?Namun, korban bisa lebih banyak lagi jika tsunami terjadi di puncak liburan akhir tahun. Apalagi, energi dari longsoran yang memicu tsunami kali ini, masih belum seberapa dibandingkan saat letusan Krakatau 1883 meruntuhkan seluruh tubuh gunungnya, sehingga memicu tsunami hingga lebih dari 20 meter dan menewaskan lebih dari 36.000 orang di pesisir Banten dan Lampung.

?Ketika meletus waktu itu, tinggi Krakatau mencapai 1.200 meter dari permukaan laut. Sedangkan ketinggian Anak Krakatau saat longsor baru 338 mdpl dan kemudian menjadi 110 mdpl setelahnya.

?Bisa dikatakan, tsunami dari Anak Krakatau ini hanyalah peringatan awal dari potensi bencana yang bisa jauh lebih besar melanda pesisir di kawasan ini. Tak hanya dari Gunung Anak Krakatau, ancaman tsunami juga bisa berasal dari gempa bumi, mengingat kawasan ini berada di zona subduksi. Potensi gempa bumi di kawasan ini, menurut Peta Sumber Gempa Bumi Nasional 2017 yang disusun Pusat Studi Gempa Bumi nasional mencapai M 8,7.

? Semua daerah yang dilanda bencana geologi ini sebenarnya telah diketahui kerentanannya, dan apa yang telah terjadi di tahun 2018 ini jelas bukan yang terakhir yang bisa melanda negeri ini. Dengan 127 gunung api aktif dan berada di antara tiga lempeng yang bertumbukan, gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api hanyalah soal waktu. Jangan lupa, di tahun 2019 ini, bencana hidrometerologi bisa kembali menguat seperti tren sejak 10 tahun terakhir.

?Maka, dengan latar belakang geologi dan sejarah perulangannya di masa lalu, bencana sudah harus benar-benar menjadi bagian dari strategi hidup di negeri ini. Pengurangan risiko bencana harus menjadi arus utama pembangunan….–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 2 Januari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ketimpangan Risiko

CATATAN IPTEK Risiko setiap orang dalam menghadapi wabah Covid-19 berbeda-beda. Hal itu tergantung dari daya ...

%d blogger menyukai ini: