Home / Sosok / GKR Hayu, Kawinkan TI dan Budaya Keraton

GKR Hayu, Kawinkan TI dan Budaya Keraton

Gusti Kanjeng Ratu Hayu (33), putri keempat Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X, punya ambisi mengangkat dan mengenalkan tradisi keraton ke seluruh dunia. Salah satu cara mewujudkan ambisinya tersebut adalah dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Terlahir sebagai putri keraton, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, yang bernama kecil Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurabra Juwita, tumbuh dewasa dengan cara melanglang buana. Mengenyam pendidikan formal di sejumlah negara, mulai dari Australia, Singapura, Amerika Serikat, hingga Inggris, memaksanya untuk hidup mandiri, jauh dari fasilitas keraton.

Kesederhanaan dan sikap rendah hati Hayu terasa saat dia menerima kunjungan Kompas di kediamannya yang hijau dan asri di Keraton Kilen, Yogyakarta, Selasa (8/8). “Panggil Mbak saja,” kata Hayu ketika kami beberapa kali memanggilnya dengan sebutan Kanjeng Ratu.

Sambil menyesap espresso yang dipadu dengan es dan susu, Hayu menuturkan kesehariannya kini diisi dengan tanggung jawab sebagai penghageng atau Kepala Tepas Tandha Yekti (Divisi Dokumentasi dan Teknologi Informasi) Keraton Yogyakarta.

Tugas utama divisi ini adalah mengangkat budaya dan tradisi Keraton Yogyakarta ke lingkungan luar keraton. Di samping itu, divisi ini juga bertanggung jawab atas pengembangan dan penggunaan teknologi informasi dalam lingkup internal keraton.

Intinya, Hayu bertanggung jawab terhadap setiap kegiatan dokumentasi dan upaya pemanfaatan serta pengembangan teknologi informasi di Keraton Yogyakarta.

Sebelum Tepas Tandha Yekti dibentuk pada 2012, tanggung jawab dokumentasi Keraton Yogyakarta diemban sejumlah abdi dalem. Namun, karena tidak terkoordinasi dengan baik, hasil dokumentasi berupa berkas, catatan, dan foto malah tercecer di banyak tempat.

Selain dibantu enam abdi dalem, Hayu juga merekrut sekitar 20 tenaga lepas profesional untuk membantunya mengemas informasi terkait keraton. “Mereka ini menjadi satu-satunya tim dokumentasi resmi di keraton dan mengemas konten untuk dibagikan kepada masyarakat,” kata Hayu.

Pada pertengahan 2015, Keraton Yogyakarta meluncurkan akun resmi Facebook mereka dengan nama Kraton Jogja serta akun resmi Twitter dan Instagram dengan akun @kratonjogja. Lalu dua tahun berselang, Keraton Yogyakarta meluncurkan situs resmi bernama kratonjogja.id.

Verifikasi konten
Secara daring, Tepas Tandha Yekti menyasar generasi muda pengguna media sosial untuk mencintai budaya Jawa. Seluruh konten disampaikan lewat situs resmi, dan akun media sosial telah terverifikasi oleh akademisi ahli kebudayaan Jawa dan para sesepuh abdi dalem.

“Lewat jalur ini, kami membagikan informasi soal budaya Jawa secara umum dan tradisi keraton secara khusus. Kami juga dapat berinteraksi untuk meluruskan beberapa persepsi keliru soal tradisi dan budaya keraton yang ada di tengah masyarakat,” kata penggemar berat aneka gim ini.

Terkait pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi dalam internal keraton, Hayu telah menyiapkan target jangka panjang untuk mengintegrasikan setiap divisi dalam keraton dalam sebuah sistem e-governance.

Hayu membayangkan, suatu saat Sultan Hamengku Buwono X dapat memeriksa data terbaru terkait Keraton Yogyakarta, menggunakan telepon pintar atau sabak digital. Begitu juga dengan masyarakat yang membutuhkan layanan, misalnya untuk mengurus serat kekancingan atau sertifikat silsilah asal-usul keluarga.

“Suatu saat data dari setiap departemen di Keraton Yogyakarta menjadi tidak terpisah-pisah dan terperbarui serta terintegrasi dengan komputer. Perlahan tetapi pasti, keraton sedang bertransisi ke arah sana,” tutur Hayu.

Sejak belia, istri dari Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro ini memang sudah akrab dengan internet. Namun, berdasarkan pengalamannya, dia mengaku kesulitan mendapatkan informasi terkait keraton di luar negeri. Dari sanalah ide menghadirkan Keraton Yogyakarta ke dunia maya muncul. Dengan demikian, informasi soal keraton dapat diakses dari seluruh belahan dunia.

Agar mudah dipahami, informasi terkait tradisi yang dibagikan akun media sosial Twitter @kratonjogja dibuat dengan dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Ke depan, konten dalam situs resmi kratonjogja.id juga akan disampaikan dengan dua bahasa. “Saat pengelolaan situs sudah mapan, kami akan buat juga konten berbahasa Inggris,” ujar Hayu.

Hayu hidup berpindah-pindah sejak duduk di bangku SMP. Ia menjalani pendidikan SMP di SMP Stella Duce I Yogyakarta dan Brisbane Adventist College, Australia. Masa SMA pun dia jalani di dua negara, yakni di SMA Negeri 3 Yogyakarta dan International School of Singapore, Singapura. Saat sekolah di Singapura, ia secara otodidak mulai mempelajari HTML dan CSS.

Untuk mewujudkan cita-cita masa kecilnya sebagai seorang ahli komputer, Hayu memutuskan melanjutkan jenjang S-1 di jurusan Computer Science, Stevens Institute of Technology, New Jersey, Amerika Serikat.

Selama satu tahun menjalani perkuliahan, Hayu menyadari bahwa antusiasme utamanya ada di bidang teknologi sistem informasi. Tidak ada kata terlambat baginya, Hayu pun pindah ke jurusan Information System Management di Bournemouth University, Inggris.

Setelah menyelesaikan studi di Inggris, 2007, Hayu magang di Microsoft Indonesia untuk mengisi posisi sektor publik. Setahun berselang, 2008, Hayu hijrah ke industri perangkat lunak pengembang aplikasi perbankan bernama Aprisma Indonesia.

“Sebagai project manager saat itu, saya berhubungan langsung dengan klien yang kebanyakan adalah bank BUMN. Kadang kalau ada proyek kejar tayang, saya dan tim bisa sampai tidur di tempat klien untuk menyelesaikan proyek,” ujar Hayu.

Pada 2013, Hayu memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan melanjutkan studi S-2. Sambil mencari beasiswa, dia bekerja di Gameloft Indonesia yang berkantor di Yogyakarta. Pada saat itu, Hayu mulai mengelola dan mempelajari Tepas Tandha Yekti.

Meski sudah ditunjuk sebagai penghageng sejak 2012, Hayu baru dapat fokus penuh mengelola Tepas Tandha Yekti pada akhir 2015, atau tepat setelah menyelesaikan studi S-2 jurusan Business Administration Leadership and IT Policy, Fordham University, New York, Amerika Serikat.

Hayu mengikuti kata hatinya, mencurahkan segenap ilmu dan pengalamannya untuk kemajuan Keraton Yogyakarta. Konsekuensi dari pilihannya ini, ia harus ikhlas terpisah jarak ribuan kilometer dengan suaminya yang kini menjabat Kepala Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa Regional Samoa, Tokelau, dan Kepulauan Cook.

Semua Hayu lakukan demi mengejar ambisinya mengangkat dan mengenalkan tradisi keraton ke seluruh dunia.

DIMAS WARADITYA NUGRAHA

Sumber:7 Oktober 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: