Home / Artikel / Gempa Karo Buktikan Pola Fraktal Kegempaan Sistem Sesar Sumatera

Gempa Karo Buktikan Pola Fraktal Kegempaan Sistem Sesar Sumatera

PADA tanggal 10 September 1996 pukul 22.23 WIB penduduk Kabupaten Karo, Sumatera Utara dikejutkan gempa berkekuatan 5,9 skala Richter. Gempa ini mengakibatkan kerusakan 145 rumah di 11 desa, di antaranya desa Mardingding, Kinangkong, Lau Baleng, Perbulan, Lausolu, Tanjung Pamah, Laumulgap, Lau Kesumbat, Rambahtampu, Lau Pakat. Dilaporkan lima orang luka dan tiga gedung sekolah, tiga gereja, satu gedung KUD, dan satu puskesmas rusak berat.

Penelitian kami lebih lanjut menunjukkan bahwa gempa ini berhubungan dengan aktivitas dari segmen sesar Toru, Sistem Sesar Sumatera, yang kecepatan pergerakannya mencapai 25 milimeter per tahun dan lintasannya melalui daerah Mardinding, Tarutung sampai Sipirok.

Meskipun gempa ini tidak menimbulkan dampak sehebat gempa Liwa 15 Februari 1994 yang memakan korban 90 orang atau gempa Kerinci 7 Oktober 1995 dengan korban 200 orang, tapi menarik untuk membahas secara singkat mekanisme terjadinya gempa ini yang masih berkaitan dengan gempa Liwa dan Kerinci tersebut.

Menarik juga kemungkinan terjadinya gempa Karo ini telah kami ramalkan dalam tulisan kami di harian Kompas tanggal 9 November 1995. Ini berarti sudah dua kali kami meramalkan secara tepat kemungkinan terjadinya gempa di Sistem Sesar Sumatera, setelah sebelumnya secara tepat dilakukan pendugaan kemungkinan terjadinya gempa Kerinci dua bulan sebelum gempa itu betul-betul terjadi (Kompas, 10 September 1995)

Metoda fraktal
Kemampuan untuk melakukan pendugaan terjadinya gempa masih merupekan hal yang sangat langka di dunia. Oleh karena itu, pendugaan yang tepat terjadinya gempa, seperti pada kasus gempa Kerinci, mendapatkan publikasi luas dalam skala nasional maupun internasional, seperti pada jurnal resmi Ikatan Ahli Geofisika Eropa dan Ikatan Ahli Gempa Amerika.

Dalam tulisan singkat berikut ini dibahas penelitian untuk pendugaan terjadinya gempa di Sistem Sesar Sumatera dengan memanfaatkan metoda fraktal yang dilakukan oleh peneliti dari ITB, BPPT dan Geoteknologi-LIPI yang dibiayai oleh proyek Dewan Riset Nasional –Riset Unggulan Terpadu (RUT) II dan IV. Seperti telah kami kemukakan pada tulisan di Kompas tanggal 9 November 1995, Sistem Sesar Sumatera terdiri atas 11 segmen dengan dimensi fraktal D=1,00-1,24 yang dapat dikelompokkan lagi menjadi tiga bagian. Kelompok pertama dengan D=1,00-1,02 dan terdiri dari segmen Singkarak-Kerinci- Seblat dan Kepahiang. Kelompok kedua D=1,06-1,15 yaitu segmen Aceh, Toru/Tarutung, Asik/Padangsidempuan dan Muaralaboh. Dan kelompok ketiga D=1,19-1,24 terdiri atas segmen Alas, Ranau/Liwa dan Semangko (Lihat gambar).

Pemodelan fraktal menunjukkan ada hubungan relatif konstan antara dimensi fraktal dan perioda terjadinya gempa merusak (kekuatan lebih dari lima skala Richter) dan hal ini yang merupakan dasar bagi pendugaan jangka panjang (jangka tahunan) kapan dan dimana terjadinya gempa di 11 Segmen Sesar Stimatera itu.

Sebagai contoh pada kelompok pertama gempa merusak terjadi setiap 4-6 tahun, pada salah satu segmen kelompok itu. Gempa besar terakhir pada kelompok ini terjadi di segmen Seblat pada bulan November 1990, sehingga pada tahun 1994-1996 akan terjadi gempa besar lagi di salah satu segmen kelompok ini. Pendugaan ini terbukti benar dengan terjadinya gempa Kerinci tanggal 7 Oktober 1995.

Pada kelompok kedua gempa besar terjadi setiap 6-8 tahun. Gempa terakhir pada kelompok ini terjadi pada segmen Aceh tanggal 12 September 1990, sehingga kemungkinan akan terjadi gempa besar lagi pada salah satu segmen kelompok ini antara tahun 1996-1998. Hal ini terbukti benar dengan terjadinya gempa Karo pada segmen Toru tanggal 10 Oktober 1996.

Kemampuan pendugaan terjadinya gempa ini sangat penting karena sangat berguna bagi usaha mitigasi bencana gempa terkait sehingga kerugian sosial-ekonomi yang diakibatkannya dapat ditekan. Hal ini sangat penting bagi Indonesia yang wilayahnya termasuk kedalam daerah gempa aktif, yang antara lain ditandai oleh timbulnya 10 gempa yang bersifat merusak setiap tahun.

Saat ini kebanyakan gempa terjadi pada daerah yang tidak berpenduduk padat tapi dengan semakin meningkatnya pembangunan fisik di seluruh wilayah Indonesia, maka ancaman kerugian sosial ekonomi akibat bencana gempa juga akan meningkat tajam. Sebagai contoh gempa Liwa dan Kerinci yang terjadi pada daerah yang relatif belum berkembang saja telah mengakibatkan korban jiwa 300 orang, 4.000 orang luka, 20.000 bangunan hancur dan kerugian ekonomi sekitar Rp 1 trilyun.

Pada daerah-daerah yang lebih padat tingkat pemukimannya, seperti daerah perkotaan maka risiko kerugian meningkat tajam. Sebagai contoh gempa Kobe (Jepang) 16 Januari 1995 mengakibatkan 5.502 orang tewas, 36.896 orang luka, 200.000 bangunan hancur dan kerugian ekonomi Rp 100 trilyun atau hampir sama dengan APBN Indonesia dalam satu tahun.

Jadi terjadinya gempa Karo ini sepertinya mengingatkan kembali pada kita semua, setelah terlena sekian lama, tentang perntingnya kewaspadaan yang terus-menerus menghadapi ancaman bahaya gempa dan pentingnya penelitian perilaku gempa, sehingga tidak terjadi lagi bencana dramatis seperti pada gempa Liwa, Gempa Kerinci, gempa Irian Jaya maupun tsunami di Banyuwangi.

(Sigit Sukmono dan MT Zen, deputi Ketua BPPT)

Sumber: Kompas, Kamis, 9 Januari 1997

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Masa Depan Pendidikan Tinggi dan Universitas

Banyak ahli membayangkan sebuah dunia di mana universitas dan perusahaan bekerja sama untuk menata kembali ...