Jumlah Gempa Meningkat Drastis

- Editor

Rabu, 3 Januari 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebanyak 6.929 kali gempa bumi terjadi di Indonesia sepanjang 2017. Jumlah ini berarti 1.000 kali lebih banyak dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Gempa dengan dampak kerusakan dan korban jiwa terbanyak bersumber dari sesar aktif di daratan.

Rekaman data gempa bumi di Indonesia ini disampaikan Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono di Jakarta, Senin (1/1). ”Berdasarkan magnitudo atau kekuatan gempanya, selama 2017 yang paling banyak terjadi di Indonesia dominan berkekuatan kecil,” kata Daryono.

Gempa dengan kategori kecil ini, menurut Daryono, yang kekuatan kurang dari M 4. Gempa kecil ini terjadi 5.116 kali yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Berikutnya gempa dengan kekuatan M 4,1 sampai M 5 terjadi 1.658 kali pada 2017. Adapun gempa berkekuatan M 5,1 hingga M 6,0 hanya terjadi 147 kali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Banyaknya gempa kecil ini terutama disumbangkan dengan gempa swarm (terjadi secara beruntun) yang terjadi di Jailolo, Maluku Utara, pada 27 September 2017 sampai 31 Oktober 2017, sebanyak 2.809 kali.

Daryono menambahkan, selama 2017 terekam gempa dengan kategori kuat, yaitu memiliki magnitudo M 6,1 hingga M 7 sebanyak 6 kali. ”Sebagian besar gempa kuat ini menimbulkan kerusakan,” katanya.

Sementara gempa besar dengan kekuatan berkisar M 7,1 hingga M 8 terjadi dua kali. Pertama, gempa terjadi di sekitar wilayah Maluku Utara berkekuatan M 7,1 pada 29 April 2017. Episenter gempa ini lebih dekat wilayah Filipina sehingga lebih banyak menimbulkan kerusakan bangunan rumah di Provinsi Sarangani, Mindanau Selatan. Hal itu tidak berdampak kerusakan di wilayah Indonesia.

Gempa besar kedua terjadi di Laut Sulawesi dengan kekuatan M 7,2 pada 10 Januari 2017. Itu termasuk jenis gempa hiposenter dalam akibat aktivitas subduksi di kedalaman 629 kilometer. ”Karena hiposenternya dalam, gempa ini hanya menimbulkan spektrum guncangan pada wilayah yang luas dan tidak menimbulkan kerusakan,” kata Daryono.

Gempa merusak
Dari kategori dampaknya, tercatat 19 kali gempa merusak di wilayah Indonesia. Salah satunya adalah gempa Deli Serdang, Sumatera Utara, berkekuatan M 5,6 pada 16 Januari 2017. Berikutnya gempa di Bali selatan berkekuatan M 5,6 pada 22 Maret 2017 dan gempa Tasikmalaya, Jawa Barat, M 5,4 pada 24 April 2017.

Gempa merusak juga terjadi di Morowali, Sulawesi Tengah, berkekuatan M 5,7 pada 24 Mei 2017 dan gempa Poso, Sulawesi Tengah, berkekuatan M 6,6 pada 29 Mei 2017. Gempa Padangsidempuan, Sumatera Utara, berkekuatan M 5,5 pada 14 Juli 2017 juga tergolong merusak.

Terbaru, gempa Tasikmalaya, Jawa Barat, berkekuatan M 5,1 pada 15 Desember 2017. Kejadian itu menyebabkan 451 rumah rusak berat, 579 rumah rusak sedang, dan 1.095 rusak ringan. Korban meninggal mencapai 4 orang, 11 orang luka berat, dan 25 orang luka ringan.

”Gempa merusak yang terjadi selama 2017 pemicunya didominasi oleh aktivitas sesar aktif. Dari seluruh gempa merusak sebanyak 19 kali kejadian, 16 gempa merusak dipicu aktivitas sesar aktif. Hanya tiga gempa merusak yang dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng,” kata Daryono.

Berdasarkan data BMKG, sepanjang 2017 tidak terjadi gempa dahsyat dengan kekuatan di atas M 8,1 di wilayah Indonesia. Namun, ahli gempa Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, mengkhawatirkan, siklus gempa-gempa berkekuatan di atas M 8 berpeluang terjadi di Indonesia di masa mendatang.

”Salah satu yang sekarang banyak dikhawatirkan berasal dari zona subduksi di selatan Jawa. Gempa Tasikmalaya beberapa waktu lalu baru peringatan dari potensi gempa besar di zona ini,” kata Irwan. (AIK)

Sumber: Kompas, 2 Januari 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa
Cerpen: Lagu dari Koloni Senyap
Di Balik Lembar Jawaban: Ketika Psikotes Menentukan Jalan — Antara Harapan, Risiko, dan Tanggung Jawab
Tabel Periodik: Peta Rahasia Kehidupan
Kincir Angin: Dari Ladang Belanda Hingga Pesisir Nusantara
Surat Panjang dari Pinggir Tata Surya
Berita ini 7 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 19 November 2025 - 16:44 WIB

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami

Rabu, 12 November 2025 - 20:57 WIB

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Sabtu, 1 November 2025 - 13:01 WIB

Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa

Kamis, 2 Oktober 2025 - 16:30 WIB

Di Balik Lembar Jawaban: Ketika Psikotes Menentukan Jalan — Antara Harapan, Risiko, dan Tanggung Jawab

Rabu, 1 Oktober 2025 - 19:43 WIB

Tabel Periodik: Peta Rahasia Kehidupan

Berita Terbaru

Berita

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami

Rabu, 19 Nov 2025 - 16:44 WIB

Artikel

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Rabu, 12 Nov 2025 - 20:57 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Tarian Terakhir Merpati Hutan

Sabtu, 18 Okt 2025 - 13:23 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Hutan yang Menolak Mati

Sabtu, 18 Okt 2025 - 12:10 WIB