Dosen UGM Terima Penghargaan dari ASEAN

- Editor

Senin, 2 Juli 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr Ahmad Agus Setiawan, dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Fakultas Teknik UGM, terpilih sebagai salah satu penerima ASEAN Science and Technology (S&T) Fellowship.

Dia terpilih menerima beasiswa khusus (fellowship) dari The ASEAN Foundation bersama dengan 16 ilmuwan lainnya di wilayah ASEAN. Beberapa di antaranya dari Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Brunei Darussalam.

Agus merupakan pakar Sistem dan Perencanaan Energi Terbarukan UGM. Spesialis energi bersih untuk Bank Dunia dalam proyek peningkatan energi di Kementerian ESDM untuk kebijakan energi nasional. Saat ini ia juga berkontribusi dalam perumusan rancangan peraturan daerah (perda) untuk energi terbarukan di DIY.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Para penerima fellowship ini terpilih berdasar rekam jejak pencapaian dan potensi untuk memajukan ilmu pengetahuan di ASEAN,” kata Agus, dalam keterangan tertulis yang dikirim Sabtu (30/6/2018).

DOK HUMAS UGM–Ahmad Agus Setiawan

Agus menerangkan, The ASEAN S&T Fellowship memberikan kesempatan bagi para ilmuwan muda dari negara-negara anggota ASEAN untuk menerapkan pengetahuan dan kemampuan analitis mereka untuk menyelesaikan tantangan kebijakan publik. Para penerima beasiswa akan ditempatkan di sejumlah kementerian atau lembaga lain di negara asalnya.

Selama 1 tahun, penerima beasiswa akan ikut bekerja meningkatkan kapasitas teknis di kementerian atau lembaga pemerintah untuk mendorong pembuatan kebijakan guna mengatasi persoalan yang ada.

”Di sini kami diharapkan bisa mendorong para pembuat kebijakan untuk menggunakan lebih banyak pendekatan berbasis sains dalam pembuatan kebijakan dan keputusan,” kata pria yang pernah menerima Habibie Award 2014 dan Australian Alumni Award 2011 for Sustainable Economic and Social Development ini.

Fellowship diselenggarakan mengikuti rencana aksi ASEAN tentang sains, teknologi, dan inovasi 2016-2025. Berfokus pada isu perubahan iklim, energi berkelanjutan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta inovasi kebijakan. Adapun kegiatan pertama para penerima beasiswa khusus ini dimulai dengan orientasi dan lokakarya pada 25-30 Juni 2018 di Jakarta. (NAR)

Sumber: Kompas, 2 Juli 2018

Informasi terkait

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan
Biomedis atau Teknik Biomedis?
Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Berita ini 42 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 21:10 WIB

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 September 2026 - 20:32 WIB

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 September 2026 - 20:13 WIB

Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan

Jumat, 18 September 2026 - 06:33 WIB

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Berita Terbaru

Artikel

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:10 WIB

Artikel

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:32 WIB

Artikel

Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:13 WIB

Artikel

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Jumat, 18 Sep 2026 - 06:33 WIB

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB