Home / Sosok / Djisman S Simandjuntak; Keberagaman yang Memajukan Bangsa

Djisman S Simandjuntak; Keberagaman yang Memajukan Bangsa

Kebiasaan ilmuwan merayakan ulang tahun dengan peluncuran buku tak berlaku bagi ekonom Djisman Sjarifuddin Simanjuntak. Ia memilih merayakan ulang tahunnya ke-70 secara sederhana di gedung Centre for Strategic and International Studies, Tanah Abang, Jakarta, pekan lalu.

Perayaan itu tidak diisi pidato atau kesaksian, kecuali dari rekan-rekannya dan tentu Djisman sendiri. Bukan pidato resmi dan ilmiah, melainkan kenangan dan keakraban, baik sebagai sesama ilmuwan maupun rekan kerja. Kesan sepi-sepi saja dan sederhana tetapi bermakna tampaknya sesuai dengan sosok sang yubilaris. Ia tidak pernah meledak-ledak, tetapi menukik ke dalam. Orang melihat gambaran itu saat ia terlibat dan menjabat di CSIS serta Ketua Dewan Eksekutif Yayasan Prasetiya Mulya yang menaungi Universitas Prasetiya Mulya.

Djisman Simandjuntak kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan Bandung, Jawa Barat. Sempat bekerja sebagai auditor, ia melanjutkan studi ke Jerman untuk meraih pendidikan master dan gelar doktor ilmu ekonomi dari Universitas Koln tahun 1983. Lalu ia bekerja di CSIS dan kini di Prasetiya Mulya.

Apakah makna semua perjalanan itu bagi Djisman?

”Intinya, perjumpaan dengan kultur keberagaman. Semula saya sangat kental dengan budaya Batak dan Protestan. Kemudian ke Bandung berjumpa dengan keberagaman. Dari segi etnisitas, saya bertemu dengan suku Sunda, Jawa, Tionghoa, dan barat tentunya karena di antara guru-guru saya ada yang dari Eropa,” tuturnya.

Ia sempat bekerja sebagai auditor dan di tempat itu ia bersua dengan nilai-nilai akuntansi yang intinya harus mempertanggungjawabkan sesuatu, baik besar maupun kecil. Di Jerman, ia berjumpa dengan kultur Jerman. Semua itu, di satu sisi, merupakan keistimewaan, tetapi juga menuntut tanggung jawab sebagai peneliti dan pendidik. Untuk itu, ia meramu semua hal yang digali dalam perjumpaan itu melalui tulisan-tulisan yang mendorong kemajuan masyarakat.

”Saya dipanggil ke sini (Universitas Prasetiya Mulya) untuk memimpin pada 1989. Sebelum di sini, saya di CSIS menjadi kepala departemen ekonomi. Prasetiya Mulya tidak asing bagi saya karena saya pernah mengajar di sini sebelumnya dan pertemuan pengurusnya kadang di CSIS sehingga saya sering menguping,” kisah Djisman di kantornya di lantai satu Universitas Prasetiya Mulya, beberapa hari setelah perayaan ulang tahunnya di CSIS.

Keberagaman
Saat memulai kerja di Prasetiya Mulya, Djisman kembali berjumpa dengan keberagaman karena lembaga itu adalah pergerakan keberagaman. Ia cocok dan malah menganggap bekerja di tempat itu sebagai panggilannya.

”Sesuatu yang kita kejar dalam panggilan adalah kemajuan manusia. Artinya, pertama percaya pada kemampuan manusia untuk memahami hukum alam dan menggunakannya untuk kesejahteraan manusia dan pelestarian alam. Ini elemen kemajuan manusia,” katanya. Djisman melanjutkan, kedua adalah kemampuan manusia membebaskan diri dari belenggu naluri dan mengimbangi naluri itu dengan kemampuan berpikir ketika menjalani kehidupan.

Ketiga, manusia harus mampu membangun institusi di tengah berbagai kompleksitas. Di sinilah manusia mengelola kompleksitas itu. Akan tetapi, jika terlalu menyederhanakannya, manusia tak memecahkan masalah yang satu, malah memunculkan masalah baru.

”Kemajuan manusia itu cita-cita universal. Sebagai guru, hal itu yang selalu saya ungkapkan bahwa cita-cita manusia bukan untuk menumpuk harta, melainkan belajar untuk memajukan manusia,” katanya.

Ia percaya, kemajuan manusia itu akan terjadi jika ada lingkungan yang mengakui keberagaman dan toleransi. Ia mengambil contoh, masyarakat Eropa maju karena mereka toleran, yaitu memberi ruang bagi yang aneh-aneh. Dalam masyarakat yang demikian akan tumbuh basis inovasi.

”Selama kita tidak toleran, kita tidak bisa menjadi bangsa inovatif. Intoleransi adalah musuh dari inovasi bangsa,” ujarnya.

Djisman melihat intoleransi menguat ketika masyarakat makin terfragmentasi menurut etnik dan agama. Ia menduga, ada sesuatu dengan kondisi geografi Indonesia yang menyebabkan fragmentasi itu begitu tajam. Pembangunan infrastruktur terkait konektivitas diakui bisa mengurangi masalah itu karena akan mempertemukan orang dengan berbagai latar belakang.

Kehadiran teknologi digital berupa gawai juga akan memudahkan komunikasi dan pertemuan antarwarga. Akan tetapi, teknologi ini juga bersifat paradoksal, yaitu di satu sisi memajukan komunikasi, tetapi di sisi lain malah membelah-belah warga. Contohnya, masyarakat malah membuat grup-grup yang memiliki kesamaan hobi, minat, aliran, keyakinan, dan lain-lain.

”Itu masyarakat granular. Kita masing-masing bergabung, tetapi sebenarnya terfragmentasi (terbelah). Paling merusak adalah granulasi berbasis primordial. Kita perlu mencari cara dengan menerima realitas baru itu, tetapi sesuatu yang baik yang menjadi viral di kelompok-kelompok itu, bukan yang merusak,” katanya.

Modal manusia
Ia yakin, permasalahan bangsa bisa ditangani dan kemajuan bangsa bisa dicapai jika terjadi akumulasi modal manusia (human capital). Pendidikan akan memupuk modal manusia untuk perkembangan. Indonesia yang memiliki sumber daya alam perlu mengarahkan hasil dari sumber daya alam itu menjadi sumber biaya pendidikan. Tidak banyak bangsa yang berhasil melakukan ini.

”Mimpi saya adalah Indonesia yang naik kelas dalam satu generasi. Sungguh-sungguh naik kelas tuntas, paling tidak menjadi masyarakat dengan penghasilan menengah-atas dalam satu generasi karena polanya seperti itu di negara lain. Inggris, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok berhasil naik kelas dalam satu generasi,” katanya.

Ia menyayangkan dalam beberapa hal sebagai bangsa Indonesia belakangan malah mengalami kemunduran. Ada yang memberi tahapan peradaban dalam tiga tahap, yaitu takhayul, agama, dan sains teknologi. Ia mengandaikan, dari skor 1 sampai 5, Indonesia pernah masuk ke skor 2,5, tetapi sekarang malah mundur ke 2,1 atau 2,2. Agama menjadi sangat kuat.

”Abad 21 mestinya menjadi renaisans kedua. Keberlanjutan peradaban harus inklusif, biarkan agama menjadi bagian dari rombongan peradaban. Ilmu pengetahuan dan teknologi tak bisa congkak. Akan tetapi, yang di luar ilmu pengetahuan juga tidak boleh congkak,” katanya.

Sayangnya, kaki yang menyokong peradaban, yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia, sangat lemah. Ilmu pengetahuan dan teknologi bukan segalanya, melainkan dibutuhkan dalam elemen evolusi peradaban. Ia akan berkembang di tengah masyarakat yang mengakui keberagaman dan toleransi. (STS)
KOMPAS/HERU SRI KUMORO

PROF DR DJISMAN SJARIFUDDIN SIMANDJUNTAK

LAHIR:
Sipahutar, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 1 Januari 1947
ISTRI:
Liliana Aliwarga
PENDIDIKAN:
Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan Bandung
Master in Monetary Economics and Public Finance di Universitas Koln, Jerman
Doktor di dalam bidang perdagangan di Univesitas Koln, Jerman
KARIER (ANTARA LAIN):
1973-1974: Auditor di SGV-Utomo
1985-1987: Kepala Departemen Ekonomi CSIS
1989-2003: Dekan Prasetiya Mulya Business School
2005-2009 Presiden Direktur Prasetiya Mulya Management Institute
2005-sekarang: Ketua Dewan Direktur Yayasan CSIS
2008-sekarang: Ketua Dewan Eksekutif Yayasan Prasetiya Mulya

ANDREAS MARYOTO
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 Januari 2017, di halaman 16 dengan judul “Keberagaman yang Memajukan Bangsa”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: