Hadi Soesastro, Ekonom yang Rendah Hati

- Editor

Rabu, 5 Mei 2010

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Saat masih tertatih-tatih membangun sistem birokrasi yang efektif, Indonesia ditinggal salah satu pemikir penting tentang itu, Hadi Soesastro (65). Beliau pergi Selasa (4/5) pukul 05.30 di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta.

Jenazahnya disemayamkan di Gedung The Centre for Strategic and International Studies (CSIS), lembaga yang ikut didirikannya, di Jalan Tanah Abang III, Jakarta. Rencananya, Kamis pukul 11.00, jenazah akan dikremasi di Oasis, Tangerang. Misa rekuiem digelar di CSIS, Rabu malam.

Hadi Soesastro meninggalkan seorang istri, Janti Solihin, dan dua putra, Auguste Soesastro dan Albert Soesastro.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam belantara selebriti, dengan gebyar dan kemilaunya, nama Hadi Soesastro adalah alun. Gagasannya hidup dan memengaruhi, tetapi dia memilih dalam keheningan, beradu gagas dalam ruang diskusi, menggulati konsep yang melelahkan.

Ketika efektivitas birokrasi belum dikembangkan, dia telah memikirkannya. Konsepnya adalah transaction costs, yang mengulas biaya yang timbul dari keruwetan hukum dan birokrasi yang arahnya adalah efisiensi dalam kelembagaan.

Setelah bertahun-tahun, konsep itu, kata pengamat ekonomi Didik J Rachbini, tetap aktual. Apalagi saat birokrasi di Indonesia masih dibelit keruwetan. Hadi Soesastro dikenal Didik sebagai pemikir yang membaktikan gagasannya untuk Indonesia. Tak sekadar membangun konsep, tetapi juga mencari solusi.

Kata Didik, beliau juga memberikan masukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat bicara di forum G-20 tahun 2008.

”Dalam berbagai perundingan di forum APEC, kami juga mendapat masukan dari Pak Hadi,” ujar mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda saat melayat.

Sebagai ilmuwan, Hadi aktif membagi ilmu. Di Kompas, dia menulis, selain aktif dalam tim diskusi ahli ekonomi Kompas. Maret lalu, saat fisiknya melemah, dia masih aktif ikut seminar di Beijing yang diselenggarakan CSIS dan Chinese People’s Institute of Foreign Affairs.

Sepulangnya, dia tetap bergiat. ”Saya baru pulang dari KPPOD. Uh… masih banyak masalah dalam implementasi otonomi daerah ini,” ujarnya saat bertemu Kompas dalam jamuan makan malam di kediaman Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

Sejak lama dia mewacanakan kerja sama strategis di Asia Timur. Saat China dan Indonesia menjadi anggota G-20, dia menekankan pentingnya kerja sama dua negara, untuk kepentingan Asia dan ASEAN.

Gelar doktor ekonomi Hadi Soesastro diraih dari Pardee RAND Graduate School, AS. Sebelumnya, dia belajar teknik penerbangan di Technische Hochschule of Aachen, Jerman.

Di mata koleganya di CSIS, Hadi Soesastro dikenal sederhana, kalem, dan murah senyum. ”Sangat nasionalis dan rendah hati,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi dari Amerika Serikat.

Selasa (27/4), Wakil Presiden Boediono menjenguk almarhum di RS Pondok Indah. ”Selalu ada mukjizat,” kata Boediono kepada keluarga, mendoakan kesembuhan beliau.

Namun, Tuhan berkehendak lain. Sang Khalik telah memanggil salah satu ekonom terbaik negeri ini. (JOS/RYO/DIS/OSA)

Sumber: Kompas, Rabu, 5 Mei 2010 | 03:44 WIB

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 31 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB