Home / Berita / Dilema Gema Bawah Air Danau Toba

Dilema Gema Bawah Air Danau Toba

Pencarian Kapal Motor Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara, mulai menemukan titik terang. Pada Minggu (24/6/2018), citra benda yang diduga tubuh kapal teridentifikasi di kedalaman 450 meter. Dua alat canggih yang biasanya digunakan memetakan kontur dasar laut, multibeam sonar echosounder dan side-scan sonar, berperan penting dalam upaya kemanusiaan itu.

Multibeam sonar echosounder merupakan teknologi yang dikembangkan sejak 10-20 tahun lalu, dengan berbagai perkembangan. Bila awalnya, hanya memberi data gradasi berkelir hitam-putih, kini lebih kaya informasi beraneka warna. Dalam pencarian kali ini, alatnya datang dari Basarnas Kepulauan Riau berdaya jangkau hingga 2.000 m.

Alat ini punya cara kerja mirip radar. Namun, bila radar yang digunakan dalam dunia penerbangan memanfaatkan gelombang elektromagnet melalui udara, multibeam sonar memanfaatkan gelombang suara dengan kecepatan rambat tinggi di air, sekitar 1.500 meter per detik. Punya banyak sumber penembak gelombang suara, alat ini tajam menggambarkan objek dalam air.

Saat dilepaskan ke dasar laut, gelombang suara dari alat itu dipantulkan kembali saat membentur “benda keras”. Frekuensi gelombang dan waktu perambatan ini kemudian diproses menghasilkan citra, mosaik, maupun geometri benda di bawah air (echogram).

“Setelah didapat bentuknya, kita bisa tahu benda itu keras atau lembut dari intensitas gelombang,” kata Indra Jaya, Guru Besar Instrumen Akustik Bawah Laut di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Sabtu (23/6/2018).

KOMPAS/PRIYAMBODO–Tim SAR gabungan mengerahkan alat Multibeam Side Scan Sonar untuk melakukan pencarian korban kapal KM Sinar Bangun, di perairan Tigaras, Danau Toba, Simalungun, Sumut, Jumat (22/6/2018).

Di Indonesia, Kapal riset LIPI, Baruna Jaya I, memiliki multibeam sonar berdaya jangkau hingga 11.000 m. Peralatan ini terpasang permanen pada akhir tahun lalu.

Sementara itu, side-sonar scan punya fungsi mirip multibeam sonar. Namun, Indra mengatakan, teknologinya lebih sederhana, umumnya portabel, dan mudah dipasang pada kapal cepat. Di Toba, alat side-sonar scan berasal dari Pusat Oseanografi TNI Angkatan Laut. Jangkauannya hingga 600 m.

Meski resolusinya tak sedetil multibeam sonar, Indra menilai side-scan sonar cukup mencari kapal tenggelam. Peralatan ini juga dimiliki perusahaan atau institusi riset pemerintah.

Hasil perekaman teknologi sonar ini nantinya akan menunjukkan lokasi kapal beserta titik geografis lintang dan bujurnya. Gambaran detil posisi kapal atau tuktuk, sebutan lokal kapal penyeberangan di Toba, juga bisa diketahui. Bahkan bila kapal tak dikenal, ukuran panjang, lebar, tinggi, serta bahan pembuat kapal bisa diidentifikasi.

Sepintas, semuanya terlihat sederhana. Namun, butuh kemampuan khusus mengoperasikannya.

Semakin dalam objek yang bakal diukur maka bias pengukuran berpotensi terjadi sehingga membutuhkan koreksi. Menurut Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional AS, kecepatan gelombang suara di dalam air bervariasi sesuai densitas (kepadatan air) yang bergantung salinitas dan temperatur.Air yang memiliki densitas berbeda bisa saja tak bercampur, menciptakan lapisan termoklin. Lapisan ini membuat rambatan gelombang berbelok seiring perubahan densitas.

Penyelaman Berisiko
Akan tetapi, pekerjaan rumah belum selesai meski bangkai kapal ditemukan. Butuh usaha keras membawa kapal ke perairan lebih dangkal.

Ketua Asosiasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Dalam Air Indonesia Adi S Wardhana mengatakan, evakuasi kapal dan korban pada kedalaman lebih dari 40 m membutuhkan teknik penyelaman dalam (saturation diving). Penyelaman dengan peralatan regular, seperti scuba, hanya memiliki “standar tabel penyelaman” sampai kedalaman 40 m. Selebihnya terlalu berisiko.

Alasannya, waktu selam semakin pendek dan setiap kedalaman 10 m tekanan bertambah 1 atmosfer yang berdampak pada tubuh serta komposisi udara. Dengan lokasi di danau serta kedalaman lebih dari 500 m, tantangan evakuasinya sangat besar.

Adi menceritakan pengalamannya saat mencari korban pesawat Air Asia jurusan Surabaya-Singapura yang jatuh 28 Desember 2014 di Selat Karimata. Saat itu, lokasi jatuh “hanya” di kedalaman 30 meter. Di kedalaman ini, dengan penggunaan peralatan selam regular, praktis hanya sekitar 20 menit saja bisa beraktivitas di bawah air.

“Saat itu, ada rekan penyelam profesional terkena dekompresi. Karena misi kemanusiaan, jadi kurang memerhatikan keselamatan diri,” kata dia.

Selain sangat dalam, penyelaman di Toba juga termasuk penyelaman di ketinggian (altitude diving) mencapai 900 meter di atas permukaan laut. Hal ini memerlukan keahlian penyelaman khusus karena menggunakan perhitungan pengelolaan waktu tertentu.

Pembanding lainnya, adalah proyek pengangkatan kapal tenggelam di kedalaman 45-50 meter di perairan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, sekitar 15 tahun lalu. Pada kedalaman itu, praktis kerja di bawah air hanya lima menit demi keselamatan jiwa. Saat itu, proses pengangkatannya menggunakan metode tradisional memanfaatkan tong plastik berisi udara.

Akan tetapi, bukan berarti pengangkatan di kedalaman hingga ratusan meter tak mungkin dilakukan. Menurut www.divingalmanac.com, pada 4 Juni 2018, percobaan penyelaman saturasi sudah dilakukan di pusat instalasi hiperbarik Hydra 8 milik perusahaan COMEX, di Perancis tahun 1988. Ini disebut-sebut penyelaman ter dalam yang pernah tercatat.

Saat itu, enam penyelam (dua profesional perusahaan dan empat dari militer Perancis/Navy) ditempatkan selama delapan hari nonstop di dalam chamber untuk dipantau untuk menjalani aklimatisasi tekanan sebesar 53 atmosfer sebelum diperkenankan keluar dari chamber yang telah ditempatkan di perairan dengan kedalaman 520 meter.

Di perairan dalam itu, mereka mendapat simulasi pekerjaan pemipaan bawah laut selama 28 jam pada kedalaman 520 meter dan 530 meter. Usai menjalankan tugas, mereka kembali ke dalam chamber dan tinggal di situ selama 18 hari sebagai kompensasi pada dekompresi. Di dalam chamber suplai udara diatur sedemikian rupa sehingga komposisinya menjadi 49 persen hydrogen, 50 persen helium, dan 1 persen oksigen (hydro-helioks).

Menurut Adi, Indonesia belum punya kapal berfasilitas penyelaman dalam. Biayanya sangat tinggi. Dengan berbagai fakta di atas, setelah dipetakan, apa yang akan dilakukan selanjutnya ? Keluarga korban berhak mendapat jawabannya.–ICHWAN SUSANTO/NIKSON SINAGA

Sumber: Kompas, 25 Juni 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: