Home / Berita / Dampingi Petani Hadapi Perubahan Iklim

Dampingi Petani Hadapi Perubahan Iklim

Perubahan iklim menyebabkan awal musim semakin sering bergeser. Pola dan intensitas hujan juga berubah, yang kerap memicu ledakan hama pertanian. Hal ini menuntut perubahan adaptasi petani, terutama dalam menentukan saat awal tanam dan komoditas pertanian yang sesuai.

“Petani tidak bisa dibiarkan sendiri dalam beradaptasi menghadapi perubahan iklim. Di banyak negara, seperti Australia, produk prediksi cuaca dan iklim menjadi sangat vital,” kata Kepala Bidang Layanan Informasi Iklim Terapan, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Marjuki, Senin (2/4/2018), di Jakarta.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Aalto, Finlandia yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications pada 28 Maret 2018 menemukan bahwa siklus iklim berskala regional seperti El Nino mempengaruhi hingga dua per tiga hasil panen global. Disimpulkan, adaptasi pola budidaya terhadap dinamika iklim yang kini berubah menjadi kunci bagi ketahanan pangan di masa depan (Kompas, 31 Maret 2018).

Menurut Marjuki, sejumlah kajian menunjukkan, awal musim hujan maupun kemarau di Indonesia semakin kerap bergeser sehingga bisa membingungkan petani. Selain itu, kecenderungan hujan lebat dalam durasi pendek semakin sering.

“Pola hujan semakin runcing. Selain rawan memicu bencana, dampaknya pada sektor pertanian juga sangat besar, misalnya memicu ledakan hama,” kata dia.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Sawah di Lagadar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (8/11/2016). Perubahan iklim yang berdampak antara lain pada pergeseran musim membuat petani tradisional harus semakin mencermati kondisi alam untuk menentukan awal masa tanam.

Pola tanam tradisional yang didasarkan pada tradisi turun temurun perlu dikombinasikan dengan prediksi dan pemantauan iklim dari otoritas meteorologi dan klimatologi.

“Beberapa daerah seperti di Bali, kelompok Subak sudah rutin meminta informasi iklim dari kami. Diharapkan lebih banyak lagi petani yang bisa memanfaatkan produk iklim BMKG,” kata dia.

Marjuki menambahkan, akurasi prediksi iklim BMKG saat ini sudah lebih dari 70 persen. “Selalu ada probabilitas dalam prediksi iklim oleh karena itu saat ini ada sistem asuransi untuk petani,” kata dia.

Sekolah Lapangan Iklim
Menurut Marjuki, literasi merupakan kunci penting dalam menghadapi perubahan iklim. “Untuk itulah BMKG membentuk SLI (Sekolah Lapang Iklim) sejak tahun 2010,” kata dia.

Jika pada awalnya SLI BMKG hanya dilakukan di dua provinsi, yaitu Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, saat ini sudah dilakukan di 33 provinsi dengan titik berat di daerah sentra pangan.

“SLI tahap pertama targetnya untuk memberikan pemahaman soal iklim kepada pemerintah daerah, SLI tahap kedua ditargetkan untuk para penyuluh pertanian,” kata dia.

Saat ini, kata Marjuki, mulai dilakukan SLI tahap ketiga yang mulai melibatkan kelompok tani dengan lahan percobaan di bawah asistensi penyuluh yang sudah diberi pemahaman sebelumnya.

“Diharapkan literasi konsep pemahaman informasi iklim terintegrasi mulai dari pengambil kebijakan sampai petani di tiap provinsi,” kata dia.

Sebagai evaluasi per kegiatan di daerah, hasil panen akhir dihitung dengan melibatkan Badan Pusat Statistik setempat dan dibandingkan dengan produksi rata-rata wilayah tersebut. “Hasilnya umumnya lebih tinggi dari rata-rata,” kata dia.

Sekalipun demikian, Marjuki mengakui, SLI yang dilakukan masih belum menjangkau petani di seluruh Indonesia. Masih banyak petani yang belum mendapatkan pendampingan untuk menghadapi pola iklim yang berubah ini.

Kondisi Cuaca
Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto mengatakan, saat ini sebagian wilayah Indonesia sudah mulai memasuki pergantian musim hujan ke kemarau. Untuk bagian barat Indonesia masih dominan angin baratan aliran dari benua Asia yang basah.

BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA–Awal musim kemarau diperkirakan segera tiba di sejumlah wilayah. Jika dibandingkan terhadap rata-ratanya selama 30 tahun (1981- 2010), awal musim kemarau 2018, sebagian besar daerah yaitu 180 ZOM (52,6 persen) mundur jika dibandingkan dengan rata-ratanya dan 121 ZOM (35,4 persen) sama terhadap rata-ratanya. Sedangkan yang maju terhadap rata-rata 41 ZOM (12,0 persen).

Namun demikian, diperkirakan dalam beberapa hari kedepan, dominasi baratan akan digantikan aliran timuran dari Benua Australia. “Monsun Australia membawa udara relatif kering dan Jawa mulai memasuki awal musim kemarau di sejumlah wilayah,” kata dia.

Sekalipun mulai masuk kemarau, hujan secara sporadis masih berpeluang terjadi untuk wilayah Jawa bagian barat. “Dinamika cuaca di atas sifatnya harian bergantung pada dinamika pusaran angin selatan Jawa barat,” kata dia.

Sedangkan suhu panas dan kering selama beberapa hari terakhir ini, menurut Siswanti berkaitan dengan adanya pergerakan massa udara sepanjang Khatulistiwa atau Madden Julian Oscillation (MJO) fase kering yang diperkirakan bertahan hingga akhir pekan ini.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 3 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: