Home / Berita / Petani Beradaptasi dengan Memanfaatkan Teknologi

Petani Beradaptasi dengan Memanfaatkan Teknologi

Perubahan iklim membawa dampak buruk bagi berbagai aspek kehidupan, termasuk pertanian. Untuk itu, petani mulai beradaptasi terhadap perubahan iklim dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi.

Ketua Pusat Penelitian Perubahan Iklim Universitas Indonesia yang juga Guru Besar Biologi Konservasi Universitas Indonesia Jatna Supriatna menyampaikan, dampak perubahan iklim pada sektor pertanian bisa memicu soal pangan bagi masyarakat. Itu terkait kondisi cuaca ekstrem, seperti kekeringan ataupun hujan berkepanjangan.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS–Seorang petani memeriksa tanaman padi yang gagal panen karena kekeringan di lahan pertanian di Dusun Siraman III, Desa Siraman, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (27/6/2018).

”Jika petani tak mengantisipasi dampak perubahan iklim, komoditas terancam dan kerugian besar akan terjadi,” katanya dalam diskusi peluncuran laman web Warung Ilmiah Lapangan dan Sistem Informasi Data Agrometeorologi Petani di Depok, Selasa (4/12/2018).

Sejauh ini, perubahan iklim memengaruhi sektor pertanian dan pangan. Petani dituntut beradaptasi pada perubahan iklim, misalnya mengembangkan agrometeorologi atau ilmu mengatur sumber daya, seperti air dan tanah.

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI–Yunita Triwardani Winarto

Guru Besar Antropologi Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia Yunita T Winarto mencontohkan, kejadian ekstrem dari perubahan iklim seperti kenaikan suhu minimum dan keragaman pola pergantian musim. Akibatnya, petani tak bergantung pada pengetahuan tradisional dan empiris.

”Program pembelajaran agrometeorologi melalui Warung Ilmiah Lapangan jadi inisiatif kami membantu petani mengembangkan kapasitas mengantisipasi perubahan iklim,” ujarnya.

Warung Ilmiah Lapangan (WIL) ialah pembelajaran agrometeorologi oleh petani melibatkan ilmuwan dan penyuluh pertanian. Itu meningkatkan pengetahuan petani soal skenario musiman sesuai perubahan iklim.

Yunita menambahkan, WIL mendorong petani menjadi pembelajar yang aktif dalam melakukan pengamatan dan pencatatan harian data curah hujan serta agroekositem, mulai dari kondisi tanah, tanaman, hama, dan penyakit. Selain itu, petani juga mendokumentasikan, menganalisis, dan mendiskusikan hasil temuan secara bersama-sama. Ilmuwan pun turut berperan memberi pengetahuan baru tentang agrometeorologi kepada petani.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Nurkilah

Awal musim tanam
Sementara Ketua Asosiasi Pengukur Curah Hujan Kabupaten Indramayu Nurkilah mengatakan, saat ini para petani tidak bisa lagi menentukan awal musim tanam dengan metode tradisional. “Dulu orangtua mengajarkan dengan pranata mangsa atau sistem kalender sebagai penanda awal musim tanam. Namun, dengan kondisi iklim saat ini, metode itu tidak lagi sesuai,” ucapnya.

Sejak menerapkan metode yang diajarkan dalam WIL, petani lebih mampu beradaptasi berdasarkan evaluasi dari pencatatan yang dilakukan sebelumnya. Adaptasi dan antisipasi dilakukan dengan mempertimbangkan kesuburan tanah, pemilihan varietas, pengelolaan air, dan strategi pengendalian hama.

“Hal ini menjadi modal utama kami untuk menghindari risiko berkurangnya produksi ataupun gagal panen. Jadi, produksi bisa meningkat, lingkungan pun tetap sehat,” kata Nurkilah.–DEONISIA ARLINTA

Sumber: Kompas, 5 Desember 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: