Home / Berita / Cuaca Kering Bukan karena El Nino

Cuaca Kering Bukan karena El Nino

Setidaknya sejak pekan terakhir Desember 2015, hampir semua wilayah Indonesia mengalami cuaca kering meskipun sedang musim hujan. Penyebabnya bukan El Nino, melainkan fenomena skala mingguan yang dinamakan Osilasi Madden-Julian.

Cuaca kering dan hawa gerah, atau jika hujan, hanya berintensitas ringan dan singkat, antara lain terjadi di Jakarta, Magelang, dan Yogyakarta. Masa Natal dan Tahun Baru biasanya ditandai hujan turun, seperti akhir tahun 2014. “Kering sekarang hanya jeda sesaat, setelah ini akan basah kembali,” kata Kepala Subbidang Analisa dan Informasi Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan, Senin (4/1) di Jakarta.

Fenomena Osilasi Madden- Julian (MJO) merupakan salah satu faktor utama kondisi kering di hampir semua wilayah Indonesia. Kondisi kering hanya pada dasarian (10 hari) ketiga Desember 2015, dengan jumlah curah hujan terpantau lebih rendah dibandingkan dasarian kedua Desember.

Mulai pekan pertama Januari ini, dampak berkurangnya curah hujan karena MJO mulai hilang. Ardhasena menegaskan, fenomena El Nino yang diprediksi masih berlangsung hingga Maret sudah tidak memiliki dampak terhadap Indonesia sehingga tidak memiliki kaitan dengan cuaca kering akhir-akhir ini.

5c31b32019d741839a0d8fa61d19929cKOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA–Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) A Fachri Radjab menjelaskan kondisi cuaca terkini dan prediksi selama sepekan mendatang, Senin (4/1) di Kantor BMKG, Jakarta. Potensi hujan di Jawa saat ini hanya intensitas ringan-sedang, tetapi berpotensi terus meningkat menjadi sedang-lebat, terutama pada akhir pekan ini.

MJO merupakan variasi intraseasonal atau variasi skala mingguan hingga bulanan, dengan durasi 30-90 harian, berupa pergerakan massa udara mengelilingi bumi dari barat ke timur di sekitar khatulistiwa. Fenomena itu terjadi di wilayah tropis dan umumnya memicu anomali angin, suhu muka laut, dan perawanan sehingga peluang hujan meningkat di daerah yang dilewati MJO.

Peluang hujan naik jika MJO dalam fase konvektif melalui suatu wilayah. Namun, kata Ardhasena, fase konvektif MJO diikuti fase subsiden, yakni gerakan udara ke bawah yang menekan konveksi sehingga sedikit mengurangi potensi intensitas hujan. MJO pada fase subsiden inilah yang pada pekan terakhir Desember lalu melintasi Indonesia sehingga mengurangi potensi hujan.

Tekanan rendah
Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik BMKG A Fachri Radjab menambahkan, cuaca yang relatif kering beberapa hari terakhir di Pulau Jawa dipengaruhi pusat tekanan rendah di Selat Karimata, barat Kalimantan Barat. Pusat tekanan rendah itu menarik massa udara bersifat basah yang berembus dari Benua Asia sehingga tidak sempat mencapai Jawa.

Hal itu membuat pertemuan angin dari utara dan selatan terjadi di Laut Jawa sehingga potensi hujan lebat lebih besar di area laut tersebut. Namun, menurut Fachri, pusat tekanan rendah diprediksi terus melemah dalam tiga hari mendatang sehingga angin dari utara akan mampu mencapai Jawa dan meningkatkan potensi hujan.

Fachri juga mengonfirmasi bahwa El Nino, fenomena peningkatan suhu muka laut di Samudra Pasifik, tidak berdampak terhadap kondisi berkurangnya curah hujan akhir-akhir ini. “Udara yang dominan memengaruhi berasal dari Samudra Hindia dan Benua Asia,” ujarnya.

Ardhasena menuturkan, masyarakat Indonesia sudah tidak perlu mengkhawatirkan dampak El Nino, tetapi sudah harus mewaspadai ancaman banjir.

Fachri mengatakan, saat ini potensi hujan lebat menguat di Jawa, termasuk area Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Waktu yang perlu diwaspadai, terutama akhir pekan ini. (JOG)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Januari 2016, di halaman 14 dengan judul “Cuaca Kering Bukan karena El Nino”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: