Inilah Penyebab Cuaca Kering di Jawa

- Editor

Kamis, 7 Januari 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tidak seperti akhir tahun 2014 yang cenderung penuh hujan, cuaca di Pulau Jawa selama pekan terakhir di 2015 relatif kering. Hujan yang turun pun kebanyakan hanya berintensitas ringan. Penyebabnya terdapat dinamika atmosfer yang membuat massa udara basah dari utara tertahan sehingga tidak melewati Pulau Jawa.

“Ada sistem yang menghambat, yaitu karena adanya pusat tekanan rendah di Selat Karimata, sebelah barat Kalimantan Barat,” ujar Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) A Fachri Radjab, Senin (4/1), di Jakarta.

Pusat tekanan rendah itu menarik arus udara dari Benua Asia, mengingat sifat dasar angin adalah mengalir dari lokasi bertekanan udara tinggi ke tempat yang bertekanan rendah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi itu membuat angin yang bersifat basah dari utara tidak mencapai Jawa. Menurut Fachri, pusat tekanan rendah merupakan hal yang lumrah terjadi di area Selat Karimata, mengingat atmosfer di area khatulistiwa sangat dinamis.

Angin yang dominan berembus di area Jawa berasal dari Australia. Angin ini bersifat kering sehingga tidak menyuplai uap air secara memadai untuk menjadi hujan. Pertemuan angin antara yang berasal dari utara dan selatan pun terjadi di Laut Jawa sehingga hujan deras lebih berpeluang di area laut di utara Pulau Jawa.

Kepala Sub-Bidang Analisis dan Informasi Iklim BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menambahkan, kondisi relatif kering di Indonesia pada akhir 2015 terkait dengan variabilitas iklim yang dikenal sebagai osilasi Madden Julian (MJO). MJO merupakan pergerakan massa udara di sekitar khatulistiwa yang berlangsung pendek dengan siklus 30-60 hari sekali.

5c31b32019d741839a0d8fa61d19929cKOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA–Kepala Bidang Informasi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) A Fachri Radjab menjelaskan kondisi cuaca di kantor BMKG, Jakarta, Senin (4/1). Potensi hujan di Jawa hanya intensitas ringan-sedang, tetapi berpotensi terus meningkat menjadi sedang-lebat, terutama di akhir pekan ini.

Osilasi tersebut memiliki karakteristik konvektif, berasosiasi dengan banyaknya awan yang berarti meningkatkan peluang hujan pada daerah yang dilewatinya. Namun, terdapat juga fase subsiden pada fenomena MJO. Dalam fase tersebut, udara bergerak turun sehingga menekan konveksi, mengurangi potensi pembentukan awan, dan mengurangi peluang hujan.

Ardhasena mengatakan, dalam beberapa hari terakhir, fase subsiden MJO sedang melintasi Indonesia. Hal itulah yang membuat peluang hujan berkurang walaupun tidak berarti menihilkan hujan.

Hujan lebat
Fachri mengatakan, pusat tekanan rendah di Selat Karimata diprediksi terus melemah dalam tiga hari ke depan. Dengan demikian, arus udara dari utara akan semakin ke selatan dan pertemuan angin akan bergeser dari Laut Jawa ke Pulau Jawa, membuat hujan berintensitas sedang-lebat lebih berpeluang turun di Jawa, terutama di Jawa bagian barat. “Potensi hujan sedang-lebat terus naik di Jawa. Waktu yang perlu diwaspadai adalah akhir pekan ini,” ucapnya.

Hari ini hingga Rabu, daerah yang berpotensi mendapatkan hujan berintensitas sedang-lebat ialah Sumatera bagian selatan, area Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) bagian selatan, Kalimantan bagian barat, dan Papua. Kondisi tersebut tidak banyak berbeda dengan prediksi tujuh hari ke depan.

Hujan berintensitas ringan jika jumlah curah hujan 0,1-5 milimeter per jam atau 5-20 mm per hari, intensitas sedang 5-10 mm per jam atau 20-50 mm per hari, dan intensitas lebat 10-20 mm per jam atau 50-100 mm per hari.

J GALUH BIMANTARA

Sumber: Kompas Siang | 4 Januari 2016

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 4 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB