Catatan Iptek; Solusi Palsu Nuklir

- Editor

Kamis, 7 Januari 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kesepakatan Paris yang diketok 12 Desember 2015 berisi tekad ”penghuni bumi”—diwakili para pemimpin—untuk menurunkan emisi guna menahan kenaikan suhu rata- rata global di bawah 2 derajat celsius dibandingkan suhu era pra-Industri (sebelum Revolusi Industri), sekaligus mencari upaya membatasi kenaikan hingga 1,5 derajat celsius di atas suhu pada era pra-Industri.

Dua pertiga, kira-kira 65 persen, dari total emisi gas rumah kaca (GRK) global berasal dari pembangkit listrik dan pemanas serta transportasi. Sebagian besar bertumpu pada sumber energi batubara—sumber emisi GRK paling intensif. Sektor energi jadi tantangan terbesar mengatasi problem perubahan iklim. Di sisi lain, energi tulang punggung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial meski emisi GRK dari aktivitas militer dihitung terpisah.

Untuk mencapai target pembatasan kenaikan suhu global itu, mau tak mau negara-negara harus menurunkan emisi GRK besar-besaran (deep cut)—terutama negara maju. Negara-negara harus membuat jejak rendah karbon yang bisa mendukung pertumbuhan ekonomi dan (memperluas) akses terhadap energi. Caranya, di antaranya melakukan efisiensi energi, mengurangi inefisiensi batu bara, meningkatkan investasi untuk energi baru dan terbarukan (EBT), mengurangi emisi metana (CH4), serta reformasi subsidi bahan bakar fosil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam isu energi baru dan terbarukan, nuklir lantas menarik perhatian untuk menjadi salah satu opsi jalan keluar mengurangi emisi karbon. Sumber energi tenaga nuklir dianggap sebagai sumber energi yang tidak mengemisikan gas karbon, sama seperti sumber energi tenaga air (hydropower).

Uranium ditemukan pertama kali oleh ahli kimia Jerman, Martin Klaproth, tahun 1789. Penelitian di Jerman, Inggris, Perancis, AS, dan Inggris antara lain telah membawa nuklir sebagai bom atom selain untuk kesejahteraan (pertanian dan kesehatan). Tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Amerika menjatuhkan dua bom atom di Kota Hiroshima dan Nagasaki, yang menjadi mimpi buruk Jepang. Perang Dunia II pun usai. Kini, pembangkit listrik tenaga nuklir berkisar 16-17 persen dari pembangkit listrik global ( http://world-nuclear.org).

Di Paris, Desember lalu, sejumlah aktivis lingkungan mengingatkan, nuklir adalah solusi keliru untuk perubahan iklim.

Penelitian tim Mark Jacobson dari Stanford University, AS, menunjukkan: transisi ke penggunaan energi terbarukan—angin, air, dan tenaga matahari—hingga 100 persen secara global pada 2030 amat mungkin. Tanpa membutuhkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Pembangunan PLTN hanya akan memperlambat transisi (This Changes Everything, Capitalism vs The Climate, Naomi Klein, 2014).

Arjun Makhijani, President Institute for Energy and Environmental Research, dalam makalahnya untuk Nuclear Fuel Cycle Royal Commission, AS, Oktober, menandaskan hal sama.

Makhijani menuliskan, teknologi nuklir, baik teknologi light water reactors (LWR) maupun pressurized heavy water reactors (PHWR), tidak masuk kriteria teknologi murah dan cepat. Padahal, kriteria itu dibutuhkan untuk menjawab masalah perubahan iklim. Membangun PLTN butuh satu dekade—butuh proyeksi tepat untuk kebutuhan energi. Sementara, pembangkit listrik bersumber air, angin, atau matahari hanya butuh hitungan bulan (skala kecil) atau beberapa tahun.

Dalam proses pembangunan PLTN juga terjadi emisi karbon -nuklir masuk kategori teknologi industri berat. Nuklir pun bersifat ekstraktif, karena bahan dasarnya, uranium, adalah barang tambang. Anggapan PLTN tidak mengemisikan karbon gugur. Kebutuhan akan air juga tidak menjamin keberlanjutan.

Makhijani menambahkan, biaya pembangunan PLTN amat tinggi dan berisiko terus meningkat. Untuk Indonesia, hal itu amat relevan ketika harga dipatok dalam dollar AS.

Harga listrik dari PLTN, 60-134 dollar AS per megawatt jam (MWh), dengan risiko keuangan di masa depan, risiko bencana luar biasa, serta biaya penyimpanan/pembuangan limbah. Sementara pembangkit energi angin harganya 60 dollar AS per MWh tanpa risiko keuangan atau bencana luar biasa.

Di luar itu semua, isu etika tak bisa dipinggirkan. Direktur Badan Limbah Nuklir Perancis (FNWA) ANDRA Francois Chenevier mengatakan, ”Sungguh tidak bertanggung jawab, kita mendapatkan manfaat dari pembangkit tenaga nuklir dan meninggalkan urusan limbahnya pada generasi mendatang.” (Worldwatch Paper 106, Nuclear Waste: the Problem That Won’t Go Away, Worldwatch Institute, 1991). Nuklir solusi keliru (perubahan iklim)?–BRIGITTA ISWORO LAKSMI
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Januari 2016, di halaman 14 dengan judul “Solusi Palsu Nuklir”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?
Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Berita ini 15 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Kamis, 22 Januari 2026 - 11:08 WIB

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Januari 2026 - 10:52 WIB

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB