Kesepakatan Paris

- Editor

Kamis, 9 November 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pulau-pulau kecil tenggelam. Beruang kutub kehilangan rumah. Sumber air berkurang drastis. Penyakit tropis meluas. Tanaman pangan gagal panen. Terumbu karang memutih, berakibat pada anjloknya populasi ikan. Permukaan air laut naik sehingga sekitar 100 juta manusia harus bermigrasi. Bencana alam hidrometeorologi dan ikutannya akan semakin sering terjadi, menguat, dan meluas: topan, badai, banjir, dan tanah longsor.

Narasi panjang tentang bencana diingat setiap kali Konferensi Perubahan Iklim berlangsung. Berkumpulnya sekitar 10.000 orang dari sekitar 200 negara pada Pertemuan Para Pihak dalam Kerangka Kerja PBB tentang Konvensi Perubahan Iklim (COP UNFCCC) di Bonn, Jerman, 6-17 November, akan mencari konsensus tentang bagaimana Kesepakatan Paris diimplementasikan mulai 2020. Saat ini, 169 negara dari 197 para pihak telah meratifikasi kesepakatan tersebut. Setiap negara mengajukan Niatan Kontribusi Nasional (NDC) yang memuat berapa besar kontribusi penurunan emisi dan dari mana penurunannya.

Target Kesepakatan Paris adalah menahan kenaikan suhu rata-rata bumi di bawah 2 derajat celsius dan dengan upaya keras tidak melampaui 1,5 derajat celsius dari temperatur sebelum Revolusi Industri. Faktanya, pada awal 2016, kenaikan suhu rata-rata bumi mencapai 1,48 derajat, mendekati batas 1,5 derajat celsius batas Kesepakatan Paris yang disetujui 12 Desember 2015 di Paris. Kenaikan pada Februari 2016 mencapai 1,55 derajat celsius, kenaikan suhu rata-rata bumi tertinggi yang pernah tercatat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari penelitian para ahli klimatologi ditemukan: kalaupun emisi dari aktivitas manusia mendadak dihentikan sekarang, kandungan gas rumah kaca (GRK) dalam atmosfer tetap mampu meningkatkan suhu bumi sekitar 1,3 derajat celsius pada akhir abad ini. Agar kenaikan temperatur tidak melampaui 2 derajat celsius, peluangnya amat tipis, tinggal 5 persen. Analisis ini didasarkan dari statistik pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan populasi di 150 negara. Dampaknya jelas: kerja dalam ekosistem akan kolaps.

Berlawanan dari prakiraan di atas, ahli fisika dari Oxford University, Richard Millar, berdasarkan hasil studinya yang dimuat Nature Geoscience menyebutkan, target Kesepakatan Paris 1,5 derajat celsius bukannya tidak mungkin, tetapi tercapai, hanya saja ”sangat, sangat sulit”.

Pendapat ini ditentang banyak pihak karena didasarkan pada laju kenaikan suhu bumi pada era saat tingkat emisi melambat, yang disebut sebagai periode climate hiatus (kesenjangan sistem iklim), yaitu pada awal milenium hingga 2014. Pada periode ini, dari sejumlah penelitian menunjukkan, sistem iklim secara temporer menekan kenaikan suhu.

Yang pasti, saat ini Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) sedang menyusun laporan tentang makna kenaikan suhu bumi 1,5 derajat celsius. Laporan ini baru akan terbit tahun depan.

Ada yang harus diingat. Dalam sistem perubahan iklim berlaku prinsip: umpan balik positif. Hal lainnya, meledaknya populasi global tidak sebangun dengan kenaikan suhu global karena terjadi di negara berkembang yang tingkat emisi per kapita jauh lebih rendah daripada tingkat emisi per kapita negara maju. Negara-negara maju yang telah sukses menurunkan emisi
tercatat negara-negara Eropa Barat yang populasinya relatif rendah.

Maka, ”hiruk pikuk” COP-23 UNFCCC di Bonn, Jerman, kali ini amat ditunggu hasilnya. Apakah konsensus tentang implementasi NDC dalam Kesepakatan Paris menyulitkan negara-negara berkembang atau tidak? Kecenderungan selama ini adalah: konsensus tersebut berimplikasi pada ketergantungan negara-negara berkembang kepada negara-negara maju. Adakah target 1,5 derajat celsius akan membawa keadilan iklim? Mari kita mencecap Kesepakatan Paris: kebersamaan dalam memikul tanggung jawab itu bakal terasa manis atau hambar…?–BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Sumber: Kompas, 8 November 2017

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital
Terkubur untuk Hidup
Berita ini 14 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:50 WIB

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB