Catatan Iptek; Kebun Raya

- Editor

Minggu, 14 Mei 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keindahan ada di seputar kita. Namun, biasanya kita perlu berjalan di kebun dulu untuk mengenalinya.

Jalaluddin Rumi (1207-1273, penyair sufi)

Hidup yang begitu cepat sering membuat orang tidak sempat berefleksi, apalagi memperhatikan keindahan sekeliling. Maka, Rumi mengajak untuk berhenti sejenak, mensyukuri apa yang kita miliki di dalam ”kebun” kita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Begitulah cara Rumi memaknai rahmat yang melekat dalam diri, keluarga, dan kawan, yang kerap terlupakan. Dalam kebun yang sesungguhnya, kita juga sering abai terhadap keberadaan dan fungsinya. Kebun, tempat segala jenis tanaman tumbuh dan ditumbuhkan, tempat serangga, burung, dan binatang lain bersimbiose untuk kelangsungan siklusnya, sebenarnya juga menjadi pendukung kehidupan manusia. Kebun adalah produsen oksigen, pengikat air, sekaligus sumber plasma nutfah untuk kesejahteraan, terutama di kebun raya yang luas.

Kebun raya sebagai kawasan konservasi tumbuhan secara ex situ—yang berarti tumbuh di luar daerah asalnya—sudah lama menjadi pusat penelitian dengan sistem pendokumentasian koleksi tumbuhan yang memudahkan untuk pengembangan dan pendayagunaan lebih lanjut.

Di dunia ada lebih dari 800 kebun raya yang dianggap penting dengan kebun raya tertua dibangun di Universitas Pisa (1543) dan Universitas Padua (1545) di Italia, saat menjelang berakhirnya zaman Renaissance. Dengan tujuan awal pembelajaran tanaman obat, kebun raya kemudian berkembang di seluruh dunia.

Hampir semua universitas besar memiliki kebun raya. Sebutlah Arnold Arboretum di Universitas Harvard, Amerika Serikat; Kebun Raya Universitas Bonn di Jerman; Kebun Raya Universitas Cambridge di Inggris; dan Kebun Raya Hortus di Universitas Leiden, Belanda.

Di Indonesia total ada 32 kebun raya yang mewakili 17 dari 47 ekoregion, dengan Kebun Raya Bogor sebagai yang tertua. Meski cikal kebun raya adalah kebun bergaya Inggris di belakang rumah dinas Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Sir Thomas Stamford Bingley Raffles (1811-1815), Kebun Raya Bogor resmi dibangun pada periode Gubernur Jenderal Godert van der Capellen (1816-1826) pada 1817.

Kebun Raya Bogor—kini seluas 87 hektar—menjadi salah satu pusat konservasi tumbuhan terbesar di Asia Tenggara. Pada ulang tahunnya yang ke-200 yang baru diperingati pekan lalu, Kebun Raya Bogor telah mengoleksi 12.531 spesimen dari 3.228 jenis tanaman. Dari sejumlah koleksi itu, banyak di antaranya adalah tanaman langka. Yang paling populer tentu saja Rafflesia patma yang baru mekar pada 2010 dan 2012 serta Amorphophallus titanum atau bunga bangkai yang kerap salah kaprah disebut sebagai bunga raflesia. Ada juga kayu eboni yang sudah kian langka di habitat aslinya.

Namun, koleksi Kebun Raya Bogor sebenarnya lebih dari itu. Vanili, kina, teh, karet, hingga kelapa sawit berawal di Kebun Raya Bogor sebelum akhirnya dibudidayakan di Nusantara. Penataan koleksi tak hanya mengikuti kaidah taksonomi, tetapi juga arsitektur lanskap. Dengan demikian, selain untuk konservasi dan pendidikan, kebun raya juga indah dan menarik untuk sekadar berwisata.

Dengan segala kelebihan di atas, Kebun Raya Bogor ternyata belum masuk 10 kebun raya terbaik dunia. Di antaranya ada Kebun Raya Jardim Botanico di Rio de Janeiro, Brasil, yang merupakan rumah bagi 6.500 spesies tanaman. Juga Kebun Raya Brooklyn di New York, Amerika Serikat, dengan jumlah pengunjung lebih dari 900.000 orang per tahun. Ironisnya, Singapura yang keanekaan hayatinya terbatas masuk yang terbaik dengan koleksi lebih dari 20.000 jenis anggrek di Kebun Raya Singapura atau Kebun Raya Nasional Kirstenbosch di Cape Town, Afrika Selatan, yang khusus membiakkan tanaman endemik.

Indonesia, tampaknya, memang harus belajar banyak.–AGNES ARISTIARINI
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Mei 2017, di halaman 18 dengan judul “Kebun Raya”.

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB