Kuningan Membuka Kebun Raya

- Editor

Kamis, 26 November 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabupaten Kuningan di Jawa Barat membuka kebun raya daerah pertama di provinsi itu, Rabu (25/11). Kebun raya seluas 154,9 hektar itu akan jadi tempat konservasi, pendidikan, penelitian, wisata, dan jasa lingkungan. Pengembangan kebun raya itu di bawah binaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia didampingi Kebun Raya Bogor.

Itu kebun raya daerah ketiga setelah Enrekang, Sulawesi Selatan, dan Balikpapan, Kalimantan Timur. Satu kebun raya lagi akan dibuka di Baturaden, Jawa Tengah, Desember 2015.

“Pembangunan kebun raya di Kuningan bagian dari masterplan kawasan konservasi yang dibuat LIPI. Kami merencanakan ada 47 kebun raya di seluruh Indonesia,” kata Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain saat peluncuran kebun raya di Taman Kuning, taman tematik di Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kuningan, Rabu. Lokasinya berjarak 40 kilometer dari pusat pemerintahan Kuningan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Turut hadir Staf Ahli Gubernur Jabar Bidang Ekonomi Enny Heryani dan Bupati Kuningan Utje Choeriah H Suganda.

Pembangunan kebun raya di Kuningan, ujar Iskandar, amat penting untuk menjaga keanekaragaman hayati yang kini banyak terkikis karena masifnya pembangunan serta ancaman bencana kebakaran lahan. LIPI sebagai lembaga pengkajian dan penelitian bertanggung jawab turut menjaga kekayaan hayati Indonesia di daerah-daerah.

b54e2e967e16420596ba89b8df67f7c6KOMPAS/RINI KUSTIASIH—Suasana di Taman Kuning, salah satu bagian dari Kebun Raya Kuningan, Jawa Barat, yang dibuka Rabu (25/11). Kebun raya seluas 154,9 hektar itu merupakan kebun raya daerah yang pengembangannya berada di bawah pembinaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kebun Raya Kuningan dikelola Pemerintah Kabupaten Kuningan dan menjadi satu-satunya kebun raya tematik bebatuan.

“Ancaman terhadap keanekaragaman hayati itu sangat besar, terutama di daerah di mana tingkat kesadarannya rendah. Oleh karena itu, kami menggalakkan kebun raya di daerah agar dibangun. Tujuannya, menyelamatkan spesies-spesies endemik di wilayah tersebut,” lanjutnya.

Di sisi lain, pembangunan kebun raya di daerah juga bernilai ekonomi bagi warga. Selain dijadikan tempat konservasi, pendidikan, dan penelitian, kebun raya juga punya fungsi ekonomi sebagai kawasan wisata dan jasa lingkungan.

Utje Choeriah menambahkan, dibandingkan dengan daerah lain, kebun raya di Kuningan memiliki kekhasan, yakni keberadaan taman tematik bebatuan. Pada kawasan tematik seluas 10 hektar itu akan ditampilkan morfologi lahan penuh bebatuan.

Lokasi kebun raya itu berbatasan langsung dengan hutan yang dikelola Taman Nasional Gunung Ciremai. Pada kebakaran hutan Ciremai, Juli-Oktober lalu, 30 hektar bagian kebun raya itu turut terlalap api. (REK)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 26 November 2015, di halaman 14 dengan judul “Kuningan Membuka Kebun Raya”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Kamis, 30 April 2026 - 08:17 WIB

Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Berita Terbaru