Home / Artikel / Catatan Iptek; Ilmuwan

Catatan Iptek; Ilmuwan

Ilmu pengetahuan dan teknologi dari waktu ke waktu terus berkembang. Semakin kompleks, dan sering kali perkembangannya tak berjalan linier. Dari akar sejarahnya, ilmu pengetahuan (modern) semula bersumber pada tradisi teknis dan tradisi spiritual pada era sebelum peradaban (A History of The Sciences, Stephen F Mason, 1962). Konvergensi keduanya pada zaman pertengahan atau awal zaman modern melahirkan ilmu pengetahuan (sains).

Manusia terus memburu kemajuan sains dan teknologi demi mencapai kesejahteraan—tak jelas dan tak ada yang ingin tahu di mana batasnya. Kesejahteraan yang dicapai dapat berupa kesejahteraan material dan nonmaterial.

Di satu sisi, sains dan teknologi (iptek) menghasilkan hal-hal yang memudahkan hidup manusia, memberikan kenyamanan, dan kesenangan. Di sisi lain, perjalanan pemikiran manusia melalui sains, seperti diungkapkan tokoh genius bidang fisika teori Stephen Hawking: ”Tujuan kita tak lain adalah menemukan deskripsi menyeluruh tentang semesta tempat kita hidup.” (Stephen Hawking, Quest for A Theory of Everything, Kitty Ferguson, Bantam Press, 1992). Yang kedua ini pun tidak jelas batasnya: entah kapan bisa terwujud.

Penguasaan iptek terus berkembang, bergerak maju secara otonom, tetapi ia bukan berada di dalam ruang kosong. Iptek berupaya mencari sebagian kebenaran ilmiah dari sebuah sistem atau subsistem. Persoalannya, ruang hidup kita merupakan kumpulan sistem dan subsistem dengan relasi yang demikian kompleks. Iptek bergerak di ruang-ruang yang di dalamnya terdapat beragam makhluk hidup, unsur-unsur, dan zat-zat kimia yang alamiah ataupun sintetis serta benda-benda.

Dalam konteks pembangunan, peran iptek menjadi amat jelas. Kerja iptek yang berupaya mendapatkan kebenaran ilmiah melalui metodologi ilmiah menjadi pilar penting. Ketika sebagian besar pembangunan merupakan upaya mengintervensi alam dan proses di dalamnya, analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) menjadi kunci penting.

Tentang amdal, yang demikian lama tertutup dan baru akhir-akhir ini mulai dilakukan sidang amdal terbuka, bukan rahasia lagi, kerap kali dilakukan tanpa metodologi yang jelas. Kasus copy-paste bukan rahasia lagi, sering terjadi. Padahal, amdal dilakukan pihak-pihak yang kompeten secara teknis dan ilmu pengetahuan. Mereka adalah para ilmuwan, para akademisi.

Di pundak mereka sebenarnya upaya menyejahterakan masyarakat terletak. Persoalan nyata kesejahteraan berbicara tentang masalah kemiskinan, ketidakadilan pengelolaan sumber daya, dan meningkatnya kerentanan pada bencana.

Berbincang dengan Salfius Seko, dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura, suatu siang di Pontianak, persoalan iptek dan pembangunan bisa diteropong dengan lebih sederhana: apa peran akademisi (baca: ilmuwan) dalam pembangunan kita—yang selalu diberi label: pembangunan berkelanjutan.

Titik awal adalah amdal. Amdal harus berdasar pada kerja ilmiah. ”Berbicara ilmiah adalah berbicara kebenaran.” Kami sepakat. Persoalannya, ketika iptek bertemu dengan ilmu politik dan ilmu ekonomi, jadi tercampur aduk. Kepentingan ekonomi (baca: Pendapatan Domestik Bruto) kini jadi panglima pembangunan. Maka, Seko berujar, ”Arah kepentingan berubah, tak lagi berdasarkan ilmu pengetahuan yang mengabdi kebenaran.”

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang semula dikembangkan untuk menjadi alat pencapai kesejahteraan berubah sifat menjadi alat mematikan (alam dan manusia). Contoh terdekat adalah kebakaran hutan dan lahan tahun lalu. Akibat mengabaikan iptek, terjadi kerugian Rp 221 triliun, sekitar 11,6 persen APBN 2015!

Di sisi lain, perkembangan iptek yang telah membuat makin terfragmentasinya ilmu membuka lebih besar peluang terjadi dampak negatif. Saat perspektif yang digunakan hanya sebagian, perspektif lain akan tersingkir. Dampak buruk tak terelakkan.

Dalam orasi ilmiahnya bulan lalu, Guru Besar Tetap Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Hariadi Kartodihardjo menyatakan, ”Implementasi scientific forestry (disadari atau tidak) kurang peka terhadap persoalan kemiskinan, ketidakadilan, dan kehilangan kekayaan negara. Hal ini akibat pengertian hutan lebih kental pada unsur biofisik, khususnya kayu, dari pada unsur sosial dan hasil hutan lainnya.”

abbasDari berbagai fakta di atas, pembangunan berkelanjutan yang berprinsip memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi mendatang semakin ”jauh panggang dari api”, amat sulit terwujud.

Perbincangan dengan Seko kian menciutkan hati. Kami tersadar, ilmu dari Barat yang dibawa gelombang kolonialisasi telah (sukses) menggulung ilmu-ilmu lokal, tradisional, yang dipandang ”tidak ilmiah”, ”klenik”, dan seterusnya.

Pengetahuan komunitas Orang Rimba, yang bergenerasi hidup di hutan, misalnya, ditolak. Padahal, mereka yang sebenarnya berinteraksi dan berkomunikasi langsung dengan alam sehingga paham proses siklus alam. Mereka tidak menggunakan model matematika karena mereka hidup bersama alam. Mereka ada di dalamnya.–BRIGITTA ISWORO LAKSMI
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Maret 2016, di halaman 14 dengan judul “Ilmuwan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: