Catatan Iptek; Capres dan Visi Iptek

- Editor

Rabu, 25 Juni 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Investasi di bidang pendidikan dan infrastruktur, juga peningkatan riset teknologi dan ilmu pengetahuan, akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan kesejahteraan untuk kita semua.

William J Clinton (Presiden Amerika Serikat 1993-2001)

HINGGA dua kali debat calon presiden, pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan teknologi sebagai sarana pengembangan sumber daya manusia kurang banyak terungkap. Padahal, sebagaimana diungkapkan Presiden Clinton, pengembangan riset dan teknologi, terutama yang mampu menjawab tantangan industrialisasi, akan lebih cepat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi suatu negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut data Badan Pusat Statistik, dari total angkatan kerja yang mencapai 118,19 juta orang pada Agustus 2013, yang bekerja adalah 110,80 juta orang dan pengangguran 7,39 juta orang. Dari jumlah mereka yang menganggur tersebut, proporsi terbesar adalah lulusan SMA umum sebanyak 1.925.563 orang. Sementara jumlah sarjana yang tidak mendapat pekerjaan sebanyak 441.048 orang.

Hasil penelitian menunjukkan, hampir 80 persen mahasiswa menggeluti bidang studi pendidikan dan ilmu-ilmu sosial. Sisanya kuliah di bidang teknologi dan sains. Padahal, di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, saat ini lebih banyak diperlukan sumber daya manusia yang menguasai teknologi dan sains untuk menjawab tantangan nasional.

Kehadiran para insinyur penting untuk membangun infrastruktur dan industri manufaktur yang banyak menyerap tenaga kerja. Namun, yang terjadi pertumbuhan industri manufaktur kalah dengan sektor jasa karena minimnya inovasi.

Masuk visi-misi
Pada visi-misi dan program kerja kedua kandidat presiden yang dimuat di laman Komisi Pemilihan Umum, sebenarnya masing-masing sudah menyinggung visi iptek tersebut.

Kandidat presiden nomor satu Prabowo-Hatta menyebutkan pentingnya memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan karsa dan karya bangsa yang berdaya saing tinggi. Caranya dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mewajibkan kembali kurikulum matematika dan bahasa Inggris untuk sekolah dasar.

Prabowo-Hatta juga menjanjikan perbaikan kualitas dan fasilitas pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi dengan mengalokasikan bantuan dana. Selain itu, ada program penyediaan komputer dan pembangunan internet gratis.

Pada kandidat presiden nomor dua Jokowi-JK, upaya mewujudkan bangsa yang berdaya saing adalah melalui program Indonesia Pintar dan Indonesia Sehat. Indonesia Pintar menjamin wajib belajar 12 tahun dan bebas pungutan. Pendidikan dasar akan menekankan 70 persen pembangunan karakter dan 30 persen sains. Proporsi itu terus berubah sampai akhirnya di perguruan tinggi 60 persen politeknik dan 40 persen sains.

Pasangan Jokowi-JK juga mewajibkan pengetahuan dan penguasaan teknologi sebagai kurikulum pendidikan, selanjutnya memprioritaskan pembiayaan kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi unggulan.

Selanjutnya ada pembangunan science and techno park, politeknik dan SMK-SMK, dengan prasarana dan sarana teknologi terkini. Ini menjadi sumber daya untuk meningkatkan akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional melalui industri manufaktur.

Mana visi iptek yang membumi? Anda semua yang menentukan.

Oleh: Agnes Aristiarini

Sumber: Kompas, 19 Juni 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Berita Terkait

Menghapus Joki Scopus
Kubah Masjid dari Ferosemen
Paradigma Baru Pengendalian Hama Terpadu
Misteri “Java Man”
Empat Tahap Transformasi
Carlo Rubbia, Raja Pemecah Atom
Gelar Sarjana
Gelombang Radio
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 20 Agustus 2023 - 09:08 WIB

Menghapus Joki Scopus

Senin, 15 Mei 2023 - 11:28 WIB

Kubah Masjid dari Ferosemen

Jumat, 2 Desember 2022 - 15:13 WIB

Paradigma Baru Pengendalian Hama Terpadu

Jumat, 2 Desember 2022 - 14:59 WIB

Misteri “Java Man”

Kamis, 19 Mei 2022 - 23:15 WIB

Empat Tahap Transformasi

Kamis, 19 Mei 2022 - 23:13 WIB

Carlo Rubbia, Raja Pemecah Atom

Rabu, 23 Maret 2022 - 08:48 WIB

Gelar Sarjana

Minggu, 13 Maret 2022 - 17:24 WIB

Gelombang Radio

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB