Home / Artikel / Tanggung Jawab

Tanggung Jawab

Aspek kehidupan yang paling menyedihkan saat ini adalah sains menambah pengetahuan lebih cepat daripada masyarakat menambah kearifan.

Isaac Asimov, penulis dan ahli biokimia (1920-1992)

HUKUM Gravitasi tercipta dari peristiwa jatuhnya apel di atas kepala Newton. Dan, begitulah ilmu pengetahuan diciptakan; sebagai tanggapan terhadap alam. Pun sains dan teknologi yang diciptakan untuk menjembatani kebaikan alam dan kebutuhan manusia, bukan untuk menguasai alam.

Namun, godaan terbesar manusia adalah syahwatnya; untuk menguasai dan menundukkan. Terutama terhadap alam, dengan membongkar perut bumi, menggunduli hutan, meracuni tanah dan sungai, serta mengeruk laut. Semua demi industrialisasi, atas nama pendapatan negara, sambil berilusi tentang ”kemajuan” dan ”kesejahteraan”, tetapi tak paham arti kebaikan bersama.

Pada zaman ini, tak sedikit ilmuwan termasuk dalam golongan intellectual corrupt. Mereka menggunakan ilmunya untuk memanipulasi, tanpa kepekaan dan komitmen terhadap masalah-masalah besar menyangkut manusia dan kemanusiaan. Mereka ini tak enggan membalik risiko petaka menjadi gula-gula.

Julien Benda dalam The Betrayal of the Intellectuals (1955) memberi penekanan pada moral pemimpin yang harus menyatu dalam diri seorang intelektual. Dapat dilihat apakah seorang intelektual berkhianat, naif, atau tak paham medan pertarungan sehingga salah mengambil langkah (Syafii Maarif, 2013).

Kawasan pegunungan gamping yang terus diburu pabrik semen, misalnya, adalah habitat yang terbentuk selama jutaan tahun. Bahkan, ikut membentuk peradaban manusia.

Wilayah itu menjadi habitat keragaman hayati di hutan yang menyelimutinya dan menjaga integritas ekologis. Tandon air di perutnya mengairi sawah dan lahan pertanian, memberikan kehidupan bagi manusia melintasi waktu dan wilayah.

Kalau wilayah itu dihancurkan oleh kegiatan manusia, teknologi secanggih apa pun mustahil mengembalikannya, kecuali menunggu alam memulihkan diri, dan butuh waktu berlintas generasi. Keberlangsungan hidup dipertaruhkan.

Ironis, sementara komitmen tentang perubahan iklim terus digemakan, proses penghancuran alam tak pernah reda.

Lumpuhnya kesadaran
Kemajuan sains dan teknologi tidak berjalan seiring kesadaran manusia. Kesadaran kritis yang digagas Paulo Freire (1985) tak mampu bersaing dengan kesadaran palsu yang meruyak seperti virus. Ruang publik menjadi ruang kontestasi pengetahuan.

Yang bersandar pada pengetahuan dan pengalaman menyangkut alam dan kehidupannya, dipandang lambat, lemah, dan selalu dikalahkan. Pengetahuan warga tentang wilayahnya hampir selalu dipandang sebelah mata oleh ilmuwan menara gading dan penguasa yang main mata dengan korporasi.

Dengan kesadaran kritis orang mampu menolak hegemoni gagasan dan pemikiran yang tampak menjanjikan, tetapi sebenarnya pepesan kosong. Barangkali karena itu, Gramsci (1971) mengingatkan untuk menolak hegemoni pihak yang dominan.

Pertarungan antara pengetahuan (Barat-Timur, formal-nonformal), antara kaum intelektual bersama penguasa dan pengusaha, dengan rakyat yang merawat alam, adalah pertarungan kehidupan. Martabat manusia bukan bagaimana memenanginya, melainkan bagaimana menolak manipulasi dan penghancuran.

Oleh: Maria Hartiningsih dan ahmad arif

Sumber: Kompas, 15 Juli 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peringkat ”e-Government” Indonesia

Menurut PBB, sejak 2018 secara global terjadi peningkatan rata-rata skor e-government pada 193 negara anggota ...

%d blogger menyukai ini: