Home / Berita / Bukti Baru Covid-19 Bisa Ditularkan Melalui Udara

Bukti Baru Covid-19 Bisa Ditularkan Melalui Udara

Studi terbaru menunjukkan, Covid-19 bisa ditularkan melalui udara di ruang tertutup. Karena itu, penggunaan masker menjadi keharusan untuk mencegah penularan penyakit yang disebabkan virus korona baru.

Penelitian terbaru semakin menguatkan bahwa Covid-19 bisa ditularkan melalui udara di ruang tertutup dan merekomendasikan pentingnya penggunaan masker. Bukti terbaru ini didapatkan dari penularan yang terjadi di antara sesama penumpang bus berpenyejuk ruangan udara di China.

Kajian yang dilakukan tim peneliti dari University of Georgia ini dipublikasikan di jurnal JAMA Internal Medicine edisi September 2020. Penularan Covid-19 melalui udara telah lama dicurigai, tetapi bukti empirisnya terbatas.

”Studi kami memberikan bukti epidemiologi penularan dari jarak jauh, yang kemungkinan besar melalui udara,” kata Ye Shen, profesor epidemiologi dan biostatistik di College of Public Health- University of Georgia, yang juga penulis utama studi ini, dalam keterangan tertulis, Rabu (30/9/2020).

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih beranggapan bahwa penularan Covid-19 atau penyakit yang disebabkan virus korona tipe baru terutama melalui kontak dekat melalui tetesan sekalipun belakangan menyatakan ada kemungkinan melalui tetesan lebih kecil atau mikrodroplet di udara.

”Kajian kami menunjukkan, jarak sosial (1 meter) dan cuci tangan yang diterapkan secara luas tidak secara efektif mencegah penularan secara global. Sebaliknya, jumlah kasus Covid-19 baru meningkat dengan mantap,” kata Shen.

Shen dan tim bekerja dengan ahli epidemiologi dari dua pusat pengendalian dan pencegahan penyakit di China untuk melacak infeksi setelah acara ibadah luar ruangan besar di Provinsi Zhejiang. Beberapa peserta ternyata naik dua bus ke acara tersebut, menciptakan eksperimen alam yang unik bagi para peneliti.

Studi kami memberikan bukti epidemiologi penularan dari jarak jauh, yang kemungkinan besar melalui udara.

Kedua bus telah menutup jendela dan mesin penyejuk ruangan (AC) berjalan, kata Changwei Li, profesor epidemiologi di Universitas Tulane dan rekan penulis studi. Satu bus membawa pasien yang terinfeksi virus SARS-CoV-2 pemicu Covid-19 dan yang lainnya tidak.

Dari penumpang yang kemudian tertular, sebagian besar naik bus yang sama dengan pasien Covid-19 sebelumnya. Meskipun kedua kelompok tersebut kemudian berbaur dengan kerumunan lebih besar pada acara ibadah tersebut, jumlah kasus baru yang dikaitkan dengan acara itu jauh lebih rendah. Itu menunjukkan bus menjadi titik transmisi utama.

Beberapa penumpang bus yang menunjukkan gejala Covid-19 ternyata tidak duduk di dekat penumpang yang terinfeksi sebelumnya.

Berdasarkan temuan ini, peneliti menduga, penularan terjadi melalui partikel aerosol halus yang diedarkan di ruang tertutup dan ini makin potensial terjadi dalam ruangan berpenyejuk ruangan. Karena itu, Shen berharap temuan ini akan mendorong lebih banyak orang untuk memakai masker di tempat umum, terutama di dalam ruangan.

”Memahami rute penularan Covid-19 sangat penting untuk menahan pandemi sehingga strategi pencegahan yang efektif dapat dikembangkan dengan menargetkan semua rute penularan potensial,” kata Shen. Temuan ini memberikan dukungan kuat untuk mengenakan penutup wajah di lingkungan tertutup dengan ventilasi buruk.

Dalam konteks Indonesia, hasil kajian ini bisa menjelaskan tingginya penularan di perkantoran di Indonesia. Masalahnya tingkat kepatuhan masyarakat di Indonesia terhadap pemakaian masker relatif rendah.

Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada 7-14 September, 17 persen dari 90.967 responden menyatakan sangat tidak mungkin atau tidak mungkin terinfeksi Covid-19. Sementara yang mengatakan sangat mungkin tertular 19,3 persen, 34,3 persen cukup mungkin tertular, dan 29,4 persen mungkin tertular penyakit menular tersebut.

”Kita perlu lebih keras lagi meningkatkan atau menggencarkan mengenai pemahaman masyarakat tentang Covid-19 bahwa siapa pun bisa terkena risiko karena Covid-19 tidak mengenal umur, jenis kelamin, pendidikan, dan status sosial,” kata Kepala BPS Suhariyanto saat mempresentasikan surveinya di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana, pekan lalu.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 30 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: