Home / Berita / Perkantoran Rentan Penularan Covid-19

Perkantoran Rentan Penularan Covid-19

Ruangan dengan sirkulasi udara tertutup menjadikan perkantoran sebagai arena yang rentan penularan Covid-19. Karena itu, protokol kesehatan yang ketat mesti diterapkan di ruang publik dan gedung perkantoran.

KOMPAS/ADITYA DIVERANTA—Sejumlah pekerja di Jalan Haji Agus Salim, Jakarta Pusat, keluar kantor saat jam istirahat siang, Rabu (22/7/2020). Di masa Pandemi Covid-19, sebagian dari mereka turut gelisah dengan muncul kluster penularan di kawasan perkantoran. KOMPAS/ADITYA DIVERANTA

Perkantoran menjadi pusat penularan baru Covid-19. Ruangan dengan sirkulasi udara tertutup menjadikan perkantoran sebagai arena yang rentan penularan. Protokol kesehatan yang ketat dan pembatasan kepadatan orang dalam ruangan wajib diterapkan di perkantoran untuk mengurangi risiko.

“Saya sudah lama meyakini Covid-19 bersifat air borne, sehingga bisa menular lewat udara. Kalau kita ada dalam satu ruang tertutup dengan orang yang kena Covid-19 dalam waktu lama, kemungkinan tertular tinggi. Ini menyebabkan gedung perkantoran rentan penularan,” kata David Handojo Muljono, Wakil Kepala Bidang Penelitian Translasional Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Kementerian Riset dan Teknologi, di Jakarta, Kamis (23/7/2020).

David menjelaskan, virus SARS-CoV-2 pemicu Covid-19 tidak hanya menular melalui percikan (droplet) dari pernapasan yang segera jatuh dan menempel di permukaan. Karena itu, upaya mengurangi risiko penularan tidak cukup dengan rajin mencuci tangan dan menjaga jarak minimal dua meter.

Namun, semakin banyak bukti bahwa virus ini bisa menyebar di udara dalam partikel lebih kecil dari percikan atau mikrodroplet, yang didefinisikan sebagai di bawah lima mikron. Oleh karena itu, jika berada di ruangan tertutup bersama banyak orang, tetap wajib memakai masker.

“Seperti kalau ada orang merokok di sekitar kita dan kita mencium baunya, virus ini bisa melayang di udara seringan itu selama sekitar 8 jam, baru mengendap. Jadi, tidak hanya saat batuk atau bersin, dari napas biasa juga bisa menyebar. Saran saya, kalau di perkantoran tetap harus pakai masker,” tuturnya.

Selain itu, menurut David, sirkulasi udara di dalam ruangan juga harus diatur dengan baik. “Jika menggunakan pendingin ruangan, jangan arahkan anginnya ke kita. Akan lebih baik jika ada penyedo udara di tengah ruangan,” ujarnya.

Sebuah studi baru oleh para ilmuwan di Universitas Nebraska yang diunggah ke situs berbagi hasil riset medrxiv.org minggu ini menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa SARS-CoV-2 yang diambil dari mikrodroplet, dapat mereplikasi dalam kondisi laboratorium.

Sekalipun artikel ini belum mendapatkan review dari sejawat, hal itu menguatkan hipotesis bahwa berbicara dan bernapas normal, tidak hanya batuk dan bersin, bisa menyebarkan Covid-19 atau penyakit yang disebabkan virus korona tipe baru. Dosis infeksi virus bisa menempuh jarak lebih dari dua meter.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengubah panduannya terkait risiko penularan melalui udara ini. Disebukan,“Penularan aerosol jarak pendek, khususnya dalam ruangan tertentu, seperti ruang penuh sesak dan tidak berventilasi dalam waktu lama dengan orang yang terinfeksi tidak dapat dikesampingkan.”

Perubahan ini muncul setelah 239 ilmuwan menulis di jurnal Clinical Infectious Diseases dan meminta kepada serta dan lembaga kesehatan masyarakat lainnya untuk mewaspadai transmisi Covid-19 di udara.

Risiko membesar
Ketua Umum Ikatan Ahli Masyarakat Indonesia Ede Surya Darmawan mengatakan, risiko penularan di perkantoran meningkat. Kondisi itu terjadi seiring dengan tingginya aktivitas, tanpa disertai dengan penerapan protokol kesehatan yang baik.

“Banyak sekarang menganggap wabah seolah berakhir, karena kampanye yang dibangun memang untuk menenangkan masyarakat. Ini kesalahan fatal, karena penularan terus terjadi. Kerentanan ini harus disampaikan supaya jika memang harus kembali bekerja, termasuk di perkantoran, orang terus waspada,” katanya.

Ede menegaskan, otoritas pemerintahan seharusnya bisa berperan dengan memperketat penggunaan masker di -ruang publik, termasuk di transportasi umum. Demikian halnya pengelola perkantoran harus serius menerapkan protokol kesehatan.

” Setiap masuk kantor harus dicek suhunya, selain wajib memakai masker. Kenapa harus ribet? Ya, perilaku kita harus diubah karena perilaku lama tidak berisiko. Kalau kita berada di satu ruangan yang sama dengan yang telah sakit selama lebih dari 15 menit, kalau tidak pakai masker besar kemungkinan telah tertular,” ungkapnya.

Untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat, pemerintah seharusnya terus menyampaikan kondisi sesungguhnya penularan wabah ini, termasuk cara mengendalikannya. Data menunjukkan, jumlah kasus dan korban jiwa di Indonesia juga terus naik.

Pada Kami terjadi penambahan 1.906 kasus positif dan 117 orang meninggal dalam sehari. Sehingga total ada 93.657 kasus positif dan 4.576 korban jiwa yang telah terkonfirmasi positif. Jumlah korban yang meninggal sebelum ada tesnya lebih banyak lagi.

Dengan penambahan kasus ini, posisi Indonesia dalam urutan negara dengan jumlah kasus terbanyak terus naik menjadi ke-24. Jika akhir pekan lalu, Indonesia menyalip jumlah kasus positif di China, hari ini kita menyalip Mesir, padahal jumlah tes per populasi di Indonesia merupakan yang paling rendah di antara ke-24 negara ini. Jika kapasitas tes terus ditingkatkan, angka kasus di Indonesia bisa jauh lebih tinggi.

Angka positivity rate atau tingkat kepositifan dari orang yang diperiksa cenderung meningkat, yaitu 14,45 persen pada Kamis. Ini lebih tinggi dari rata-rata tingkat kepositifan secara akumulaif sebesar 12,28 persen.

Cepat dan akurat
Sejauh ini, tes Covid-19 yang cepat dan akurat terkendala di banyak negara, termasuk Indonesia. Karena itu, untuk pertama kali tim peneliti dari Queen Mary University of London, Inggris, memimpin uji klinis tes Covid-19 dengan metode PCR terbaru yang hasilnya selesai kurang dari satu jam.

Sistem pengujian cepat berbasis PCR ini dikembangkan Novacyt, perusahaan bioteknologi yang memproduksi alat dan reagen untuk diagnosis molekuler.

Dalam keterangan tertulis Queen Mary University of London, uji klinis melibatkan 2.000 staf dan penghuni di 50 rumah perawatan East London Health and Care Partnership, untuk melihat efektivitas tes Covid-19 harian dalam menekan infeksi, rawat inap, dan kematian.

Tim uji coba memakai usap hidung. Dalam uji klinis ini, penduduk, staf, dan pengunjung di 25 rumah perawatan akan menerima pengujian harian pada mesin pengujian cepat yang memiliki kapasitas memproses 100 sampel sehari. Sebagai perbandingan, 25 rumah perawatan lain menerima pengujian dari laboratorium standar seminggu sekali.

Profesor Jo Martin dari Queen Mary University of London yang memimpin penelitian ini mengatakan, ”Upaya ini berpotensi membawa sistem pengujian Covid-19 baru yang cepat kepada mereka yang berisiko tinggi. Jika terbukti berhasil dalam perawatan di rumah, itu bisa sangat berguna dalam berbagai pengaturan, membantu membuat diagnosis cepat dan menjaga lingkungan bebas dari Covid-19.”

Dengan pengujian harian yang cepat, hasilnya bisa dilaporkan kembali ke panti jompo pada hari yang sama sehingga mereka dapat mengambil tindakan untuk mengurangi penularan dan mencegah penyebaran ke komunitas yang lebih luas.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 24 Juli 2020

Share
x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: