Bioindustri Mitra Ideal Agroindustri

- Editor

Senin, 29 April 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AKHIR-akhir ini peranan agroindustri semakin sering dikemukakan oleh para pakar pertanian, ilmuwan, teknokrat dan bahkan oleh kalangan politisi, sebagai salah satu kegiatan ekonomi penting yang dapat diandalkan untuk mengatasi kesenjangan ekonomi dan meningkatkan devisa Negara. Agroindustri adalah industri penerapan rekayasa (teknologl) proses yang mengolah hasil-hasil pertanian menjadi berbagai produk akhir bagi konsumsi manusia, sedangkan agribisnis merupakan usaha-usaha pengelolaan kegiatan ekonoml pertanian secara keseluruhan, termasuk agroindustri di dalamnya.

Sejak dekade yang lalu agroindustri sesungguhnya sudah merupakan salah satu bidang teknologi unggulan, dari 11 bidang teknologi yang dianggap besar jasanya bagi kehidupan masyarakat modern. Menurut urutan kepentingan dan kecanggihannya, agroindustri menempati urutan ke-10, setelah mikroelektronika, bioteknologi (bioindustri), material baru, telematika teknologi informatika, robotika, energi baru, tekno medika dan ruang angkasa. Teknologi ke 11, yakni keteknikan, merupakan bidang teknologi tertua yang pengembangannya terus menerus dilakukan untuk mengimbangi kemajuan di bidang-bidang teknologi yang lainnya.

Hampir sama dengan peranan agroindustri dan kaitannya dengan agribisnis, peranan bioindustri sangat erat kaitannya dengan bioteknologi, yakni pemanfaatan agen-agen atau talis biologik untuk kemaslahatan manusia. Dengan demikian, yang dimaksud dengan bioindustri adalah industri penerapan rekayasa (teknologi) proses katalis-katalis biologik (berupa sel-sel mikroorganisme, hewan dan tanaman serta enzim) di dalam bioreaktor, untuk tujuan produksi berbagai produk-produk penting bagi kesehatan dan kesejahteraan umat manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pentingnya agroindustri ekonomi Indonesia adalah untuk meningkatkan devisa negara melalui ekspor berbagai produk-produk olahan hasil pertanian, sedangkan pentingnya bioindustri bagi perekonomian Indonesia adalah untuk menekan (meminimalkan) impor produk-produk bioindustri, seperti obat-obatan, aditif pangan, biopestisida enzim-enzim industri dan lain-lain. Dengan demikian, prospek pengembangan agroindustri dan bioindustri pada PJPT II diharapkah akan seiring dan sejalan dalam meningkatkan ekonomi Indonesia yang semakin kukuh.

Prospek bioindustri
Salah satu kemajuan penting bagi pengembangan bioindustri adalah ditemukannya berbagai galur mikroorganisme industri yang terekayasa genetika dan bersifat superior dalam mensitesa produk-produk penting. Penemuan-penemuan tersebut juga ditopang oleh adanya penemuan-penemuan sensor-sensor biologik, material baru untuk rancang bangun bioreaktor, sistem kultivasi yang semakin canggih, yang melibatkan kontrol otomatik serta pengendalian oleh komputer, serta disempurnakannya operasi pemurnian produk yang lebih efektif, efisien dan relatif lebih murah biayanya.

Dalam kaitannya dengan agroindustri, bioindustri yang berpeluang dikembangkan dan memanfaatkan limbah-limbah kegiatan agroindustri sebagai substrat misalnya tetes tebu, onggok, limbah lignoselulosa dan lain-lain) adalah bioindustri untuk produksi etanol, biomassa protein, pakan ternak, asam-asam organik, asam-asam amino (beserta turunannya, diantara MSG), produk-produk gula cair dan turunannya (sirup gluikosa, sirup fruktosa konsentrasi tinggi, dekstran, sorbitol) dan lain-lain.

Kelompok produk lain yang mempunyai prospek pasar yang cerah dan seyogyanya dikembangkan, adalah bioindustri untuk produksi antibiotika (penisilin, sefalosporin, tetrasiklin, dan lain-lain), vitamin B12, dan berbagai produk biopolimer, seperti xantan, pululan dan polihidroksibutirat. Pengembangan produk-produk biopolimer dirasakan sudah semakin mendesak, karena hampir semua kebutuhan biopolimer di Indonesia (70 persennya dibutuhkan oleh industri pangan) harus diimpor dari negara-negara maju. Pengembangan pululan dan polihidroksibutirat sebagai biopolimer yang mudah terurai oleh mikroorganisme perombak, dalam waktu yang dekat sangat diharapkan dapat menggantikan fungsi plastik sehingga masalah pencemaran lingkungan dapat dikurangi.

Kelompok produk berikutnya yang penting dikembangkan di Indonesia adalah produk-produk eksklusif masa kini, di antaranya obat-obatan anti-anemia, obat kanker (interleukin-2) dan penyakit jantung, hormon-hormon pertumbuhan, antibodi-antibodi monoklonal untuk penyakit AIDS serta kit diagnostik, obat-obatan DNA rekombinan untuk darah dan pengobatan lainnya, vaksi untuk penyakit hewan (ternak), dan lain-lain.

Sistem kerja bioindustri
Pada umumnya proses pada bioindustri harus bersifat aseptik atau sucihama. Dengan demikian, substrat (bahan baku atau media yang mengandung berbagai nutrien dan factor-faktor penumbuh) serta bioreaktornya harus disterilisasi pada suhu tinggi (biasanya 121 derajat Celsius selama 30 menit). Setelah suhu substrat diturunkan ke suhu kultivasi yang diinginkan (misalnya 30 derajat Celcius), maka inokulum(dalam hal ini misalnya kultivasi dengan sel mikroorganisme) ditambahkan. Campuran kemudian diaduk secara terus-menerus selain diberikan udara sebagai sumber oksigen. Selama kultivasi senyawaan-senyawaan pembantu, seperti asam, basa dan antibusa, ditambahkan secara aseptik untuk mempertahankan kondisi yang optimal bagi pertumbuhan mikroorganisme dan pembentukan produk yang diinginkan.

Setelah diperoleh hasil yang tertinggi, biomassa yang terbentuk pada cairan hasil kultivasi dipecahkan (untuk melepaskan produk-produk intraseluler), dan disentrifusi untuk memisahkan biomassa dari produknya. Cairan hasil pemisahan biomassa kemudian dilalukan kepada suatu membran (ultrafiltrasi, mikrofiltrasi, atau osmosis-balik) untuk pemurnian produknya. Taraf akhir pengerjaan adalah uji coba mutu dan fungsi produknya terutama bila produk yang dihasilkan adalah obat-obatan yang disintesa oleh mikroorganisme yang terekayasa genetika, misalnya interferon interleukin-2 dan lain-lain.

E. Gumbira-Sa’id, staf pengajar Jurusan Bioteknologi Industri Pertanian FATETA dan PAU Bioteknologi, IPB, Bogor

Sumber: Kompas, tanpa diketahui tanggal terbitnya

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Berita ini 12 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Berita Terbaru