Home / Berita / Berharap Pulih dari Korona dengan Remdesivir

Berharap Pulih dari Korona dengan Remdesivir

Dunia terus berjuang menghadapi wabah penyakit Covid-19 melalui pencarian obat dan vaksin yang efektif. Data awal uji coba skala besar penggunaan obat antivirus remdesivir dinilai menjanjikan.

GILEAD SCIENCES INC/HANDOUT VIA REUTERS–Teknisi lab memuat botol berisi obat coronavirus (Covid-19) dengan obat remdesivir di fasilitas Gilead Sciences di La Verne, California, Amerika Serikat, 18 Maret 2020.

Data awal studi internasional skala besar, obat antivirus remdesivir memberi secercah harapan dalam perlombaan menemukan obat melawan virus korona baru yang menginfeksi lebih dari tiga juta orang di seluruh dunia. Pemberian obat remdesivir terbukti memangkas waktu pemulihan dari infeksi virus itu.

”Dari data yang ada, remdesivir memiliki dampak positif, yakni waktu pemulihan 31 persen lebih cepat. Hal ini membuktikan obat dapat memblokir virus (SARS-CoV-2 pemicu penyakit Covid-19). Ini akan menjadi pengobatan standar,” kata Direktur NIAID Dr Antho Fauci dalam wawancara dengan NBC News, Rabu (29/4/2020).

Pasien yang diobati dengan remdesivir membutuhkan waktu pemulihan 31 persen lebih cepat daripada mereka yang menerima plasebo atau tidak diobati. Sebagaimana dikutip livescience, pasien yang mendapat remdesivir melalui infus butuh waktu untuk pulih rata-rata 11 hari, sedangkan pasien yang mendapat plasebo rata-rata membutuhkan waktu 15 hari untuk bisa pulih.

Selain pulih lebih cepat, rata-rata lebih sedikit orang dalam kelompok remdesivir yang meninggal daripada kelompok plasebo meski tak signifikan secara statistik. Tingkat kematian pada kelompok penerima remdisivir 8 persen, lebih rendah dibandingkan dengan tingkat kematian kelompok plasebo yang sebesar 11 persen.

—Teknisi laboratorium menginspeksi vial obat remdesivir yang diuji klinis untuk obat Covid-19 di fasilitas Gilead Sciences facility di La Verne, California, Amerika Serikat, pada 11 Maret 2020.

Dewan pemantau data dan keselamatan independen (DSMB) telah bertemu pada 27 April lalu untuk meninjau data dan membagikan analisis sementara mereka dengan tim studi. Berdasarkan ulasan mereka, penggunaan remdesivir bagi pasien Covid-19 lebih baik daripada plasebo menurut waktu pemulihan.

Pemulihan dalam riset itu didefinisikan dalam tiga cara, yakni pasien cukup baik untuk melepaskan oksigen meski masih dirawat inap, cukup sehat untuk dipulangkan ke rumah sakit meski belum sepenuhnya sehat, dan pasien keluar dari rumah sakit dan kembali beraktivitas normal. Pasien diberi remdesivir tiap hari selama 10 hari dirawat inap.

Uji coba terkontrol secara acak itu dimulai 21 Februari lalu dengan melibatkan 1.063 pasien di 75 rumah sakit di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Jerman, Denmark, Spanyol, Yunani, dan Inggris. Studi itu didanai Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (National Institute of Allergy and Infectious Diseases/NIAID), bagian dari National Institutes of Health (NIH).

Peserta pertama percobaan terapi adaptif Covid-19 (Adaptive Covid-19 Treatment Trial atau ACTT) itu ialah seorang warga negara Amerika Serikat yang dipulangkan setelah dikarantina di kapal pesiar Diamond Princess, yang merapat di Yokohama, Jepang. Ia mengajukan diri untuk berpartisipasi di lokasi riset pertama di University of Nebraska Medical Center atau Nebraska Medicine, Februari lalu.

—Satu vial obat remdesivir ditunjukkan dalam konferensi pers tentang dimulainya studi obat remdesivir pada pasien Covid-19 di University Hospital Eppendorf di Hamburg, Jerman, 8 April 2020, untuk mengatasi pandemi virus korona baru SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19.

Sebanyak 68 situs akhirnya bergabung dalam riset itu, yakni 47 situs di AS serta 21 situs di Eropa dan Asia. Uji coba ditutup untuk pendaftaran pada 19 April lalu. Menurut NIAID, dalam siaran pers, pihaknya memberi informasi perkembangan rencana ACTT ke depan. Ini merupakan uji coba adaptif untuk menggabungkan perawatan investigatif tambahan.

Profesor Mahesh Parmar, Direktur MRC Clinical Trials Unit di UCL, yang telah mengawasi persidangan di Uni Eropa, sebagaimana dikutip theguardian, mengatakan, ”Ini merupakan uji coba internasional berskala besar pertama yang melaporkan penggunaan remdisivir untuk mengobati pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Hasilnya menjanjikan.”

”Hasil studi ini menunjukkan obat tersebut dapat meningkatkan waktu pemulihan. Sebelum obat ini dapat tersedia lebih luas, sejumlah hal diperlukan, yakni data dan hasil mesti ditinjau regulator untuk menilai apakah obat itu dapat dilisensikan dan perlu penilaian oleh otoritas kesehatan terkait di berbagai negara,” ujarnya.

”Waktu empat hari lebih singkat bagi perbaikan klinis pasien Covid-19 yang menerima remdesivir pada uji coba NIAID mirip dengan beda lima hari dalam uji coba kami pada pasien China yang diobati 10 hari setelah onset penyakit. Selanjutnya, butuh data lengkap dan akses yang adil terhadap remdesivir,” kata Peter Horby, profesor bidang penyakit menular yang baru muncul dan kesehatan global di University of Oxford.

Derek Hill, profesor pencitraan medis di University College London, mengatakan, ini merupakan uji coba terkontrol secara acak, di mana separuh pasien diberi plasebo, sehingga hasilnya lebih dapat diandalkan daripada dalam studi pengamatan di mana semua pasien menerima obat.

”Ini hasil awal menjanjikan,” ungkapnya. Dalam kondisi normal, obat ini masih akan beberapa bulan atau tahun lagi disetujui untuk digunakan pada pasien. ”Namun, mengingat kondisi saat ini darurat, regulator obat bisa memberi persetujuan khusus dalam waktu dekat jika ada studi terkontrol berkelanjutan keamanan dan kemanjurannya,” ujarnya.

Sejauh ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) belum menyetujui obat apa pun untuk terapi virus korona, tetapi berencana mengumumkan otorisasi penggunaan darurat untuk remdesivir. Kepada CNN, Kamis (30/4/2020), FDA mengatakan sedang dalam pembicaraan dengan Gilead Sciences, perusahaan berbasis di California, Amerika Serikat, yang memproduksi remdesivir, tentang penyediaan obat bagi pasien.

”Sebagai bagian dari komitmen FDA untuk mempercepat pengembangan dan ketersediaan pengobatan Covid-19 yang potensial, kami telah terlibat dalam diskusi dengan Gilead Sciences mengenai produksi remdesivir bagi pasien secepat mungkin sesuai kebutuhan,” kata juru bicara FDA, Michael Felberbaum.

Durasi dosis lebih pendek
Sementara itu, Gilead Sciences, Rabu (29/4/2020), mengumumkan hasil uji coba fase tiga investigasi antivirus remdesivir pada pasien rawat inap dengan manifestasi parah Covid-19. Riset menunjukkan kemanjuran yang serupa terapi remdesivir dengan durasi dosis 5 hari dan 10 hari.

”Kami mengevaluasi obat ini seiring pandemi global. Beberapa riset bersamaan membantu memberi informasi apakah remdesivir aman dan efektif bagi pasien Covid-19 dan cara terbaik terapi,” kata Kepala Staf Medis Gilead Sciences, perusahaan biofarma berbasis riset yang memproduksi remdesivir di Amerika Serikat, dalam siaran pers, Rabu (29/4/2020).

REUTERS / MIKE BLAKE—Perusahaan farmasi Gilead Sciences Inc terlihat setelah mereka mengumumkan uji coba fase 3 obat antivirus remdesivir yang diteliti pada pasien dengan penyakit coronavirus parah (Covid-19), selama berjangkitnya penyakit Covid-19, di Oceanside, California, AS, 29 April 2020.

Hasil riset itu melengkapi data dari studi remdesivir yang dikontrol plasebo yang dilakukan NIAID dan membantu menentukan durasi pengobatan optimal dengan remdesivir. Riset ini menunjukkan potensi bagi beberapa pasien diobati dengan rejimen 5 hari sehingga bisa memperluas jumlah pasien yang dapat diobati dengan remdesivir.

Dalam analisis eksplorasi, pasien yang menerima remdesivir 10 hari dari gejala punya hasil lebih baik daripada yang diobati setelah 10 hari ada gejala. ”Ini menggembirakan karena pasien yang diobati dengan remdesivir 5 hari mengalami peningkatan klinis sama dengan pasien diobati selama 10 hari,” kata Aruna Subramanian, Profesor Klinis Kedokteran dari Stanford School of Medicine dan salah satu pemimpin investigator studi itu.

Remdesivir umumnya ditoleransi dengan baik pada kelompok pengobatan 5 hari dan 10 hari. Efek samping paling umum terjadi pada lebih dari 10 persen pasien di dua kelompok itu adalah mual dan gagal napas akut. Peningkatan enzim hati (ALT) tingkat 3 atau lebih tinggi pada 7,3 persen pasien dengan 3 persen pasien yang menghentikan pengobatan remdesivir karena peningkatan tes hati.

Uji klinis acak multi pusat fase tiga untuk remdesivir atau disebut studi SIMPLE ini dilakukan di negara-negara dengan prevalensi tinggi Covid-19. Studi ini dilakukan di 180 lokasi percobaan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, Amerika Serikat, China, Perancis, Jerman, Hong Kong, Jepang, Spanyol, Singapura, dan Taiwan. Uji klinis itu ditargetkan tuntas Mei nanti.

—Sejumlah vial obat remdesivir yang sedang diteliti untuk terapi bagi pasien Covid-19 atau penyakit yang disebabkan virus korona baru terlihat di fasilitas produksi pabrik Gilead Sciences di La Verne, California, Amerika Serikat, 18 Maret 2020.

Namun, uji coba multisenter acak di sepuluh rumah sakit di Hubei, China. terhadap 237 pasien menunjukkan tidak ada perbedaan siginifikan antara mereka yang mendapatkan remdesivir dan kelompok kontrol yang mendapat plasebo. Persidangan itu dihentikan lebih awal karena kesulitan mendaftarkan peserta lantaran wabah telah mereda di China.

”Meskipun secara statistik tidak signifikan, pasien yang menerima remdesivir memiliki waktu lebih cepat secara klinis untuk peningkatan klinis dibandingkan dengan mereka yang menerima plasebo dengan durasi gejala 10 hari atau kurang,” kata Yeming Wang dan kawan-kawan yang terlibat riset tersebut, dalam artikel yang diterbitkan jurnal The Lancet pada Rabu (29/4/2020).

Cara terapi
Remdesivir yang dikembangkan Gilead Sciences Inc merupakan obat antivirus spektrum luas yang diberikan lewat infus harian. Pengujian in vitro oleh Gilead menunjukkan remdesivir aktif terhadap virus pemicu Covid-19. Keamanan dan kemanjuran remdesivir untuk terapi Covid-19 sedang dievaluasi dalam beberapa uji klinis fase tiga.

Sejauh ini remdesivir bekerja dengan meniru nukleotida, blok pembangun molekul RNA. Obat itu bisa menyusup RNA virus, mengganggu urutan genetiknya, dan membuat seluruh bagian tidak berguna. ”Obat ini memblokir enzim yang digunakan virus yang dikenal sebagai RNA polymerase, yang memungkinkan virus membuat salinan materi genetikanya,” kata Fauci, sebagaimana dikutip livescience, Kamis (30/4/2020).

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Petugas medis menunggu obat yang disiapkan petugas medis lain di ruangan yang digunakan untuk merawat pasien Covid-19 di Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kamis (30/4/2020). RSPJ merawat pasien untuk kategori pasien dalam pengawasan dan pasien yang telah terkonfirmasi positif Covid-19 dengan gejala klinis sedang, berat, dan kritis.

Semula Gilead Sciences merancang remdesivir untuk mengobati pasien ebola, tetapi obat tersebut terbukti tidak efektif ketika diuji untuk tujuan itu. Ketika diuji pada hewan coba dari infeksi virus korona, remdesivir menunjukkan kemanjuran dalam mengobati sindrom pernapasan akut parah (SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS).

Ketika SARS-CoV-2 muncul, para ilmuwan menemukan virus berhenti bereplikasi ketika terkena obat itu dalam uji laboratorium. Remdesivir juga mencegah virus menginfeksi sel manusia yang dikembangkan di laboratorium sesuai hasil studi yang dipublikasikan pada jurnal Nature. Data awal itu menjadi dasar pertimbangan FDA menyetujui penggunaan remdesivir bagi pasien Covid-19.

Sejak itu, beberapa kelompok riset menguji klinis keamanan dan kemanjuran obat tersebut. Sejumlah riset kecil menunjukkan remdesivir mengurangi gejala Covid-19, termasuk demam dan sulit bernapas, tetapi tak memasukkan kelompok kontrol yang tak diobati. Tanpa kelompok kontrol, dokter tak bisa menentukan remdesivir menyebabkan pasien membaik.

Di Indonesia
Dalam jangka panjang, dokter menginginkan sejumlah obat antivirus yang dengan berbagai cara menonaktifkan virus. Di Indonesia, menurut Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny K Lukito, informatorium obat Covid-19 di Indonesia telah diterbitkan untuk memberi informasi obat-obat utama Covid-19.

KOMPAS/PRASETYO EKO P–Tangkapan layar saat komputer melakukan folding untuk membantu penelitian mencari obat Covid-19.

”Ada 16 obat dipilih berdasarkan tata laksana terapi di Indonesia dan beberapa negara lain, seperti China, AS, dan Singapura. Informasi pada informatorium ini sesuai perkembangan terapi dan bisa diperbarui sesuai kemajuan obat dan tata laksana Covid-19,” ujarnya. Belasan obat itu meliputi antivirus seperti loponavir, favipiravir, dan remdesivir (Kompas, 14/4/2020).

Ke depan, NIAID dan kolaboratornya berencana menguji remdesivir dalam kombinasi dengan obat lain, termasuk perawatan anti-inflamasi atau peradangan, untuk melihat apakah efek positifnya dapat diperkuat. Sementara itu, studi remdesivir akan diselesaikan dan diserahkan dalam jurnal peer-review.

Hasil akhir uji coba obat itu oleh NIAID yang diperkirakan akhir Mei nanti dinanti banyak pihak. Sebagai pengganti vaksin, yang bisa lebih dari setahun lagi, terapi yang efektif amat penting dalam mengurangi kematian dan membatasi kerusakan ekonomi akibat pandemi.

Oleh EVY RACHMAWATI

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 1 Mei 2020

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: