Home / Berita / Para Peneliti Masih Menguji Efektivitas Obat Covid-19

Para Peneliti Masih Menguji Efektivitas Obat Covid-19

Peneliti di China mengumumkan, Avigan dan khlorokuin efektif mengatasi Covid-19. Namun, di kalangan peneliti di dunia masih ada pro kontra mengenai hal itu.

–Dalam upaya mencegah persebaran virus korona dan membantu warga menjaga kebersihan, Dinas Bina Marga menyiapkan tempat cuci tangan lengkap dengan air dan sabun. Tempat cuci tangan itu diletakkan di 10 titik di jalan utama Jakarta.

Dunia sedikit lega ketika para peneliti China mengumumkan bahwa Avigan (favipiravir), obat flu produksi Fujifilm-Toyama Chemical, dinilai efektif mengatasi Covid-19.

Presiden Joko Widodo pun mengumumkan, Jumat (20/3/2020), pemerintah mengimpor 5.000 dosis dan memesan 2 juta dosis Avigan untuk mengatasi wabah korona baru di Indonesia.

”Avigan terbukti aman dan efektif,” kata Zhang Xinmin, Direktur Pusat Pengembangan Bioteknologi Nasional China, lembaga di bawah Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China, pada sebuah konferensi pers di Beijing, China, Selasa (17/3/2020), sebagaimana dikutip The Guardian, Rabu (18/3/2020).

Hal itu terkait uji klinis obat tersebut pada 340 pasien positif Covid-19 di Wuhan dan Shenzhen, China. Pasien yang diberi Avigan hasil pemeriksaannya negatif virus korona baru (SARS-CoV-2) dalam waktu rata-rata empat hari. Yang tidak mendapat Avigan baru membaik rata-rata 11 hari. Hasil rontgen menunjukkan, kondisi paru 91 persen pasien yang diberi favipiravir membaik dibandingkan kondisi paru 62 persen pasien yang tidak mendapat obat itu.

Namun, sebuah sumber di Kementerian Kesehatan Jepang menyatakan kepada Mainichi Shimbun bahwa obat tersebut kurang efektif pada pasien yang virusnya telah bereplikasi atau sudah parah.

Saat ini tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sedang meneliti remdesivir, obat antivirus lain yang pada hewan percobaan cukup efektif melawan SARS dan MERS, untuk mengatasi Covid-19. Namun, uji klinis yang antara lain dilakukan di AS dan China belum diumumkan hasilnya.

Hambat replikasi virus
Avigan bekerja dengan mengganggu replikasi virus, demikian berita di Nikkei Asian Review, Sabtu (21/3/2020). Tidak seperti obat antiflu lain, seperti Tamiflu (oseltamivir) dan Relenza (zanamivir) yang melumpuhkan kemampuan virus influenza untuk menyebar dari sel ke sel tubuh lewat penghambatan enzim neuraminidase, Avigan bekerja dengan menghentikan kemampuan gen virus untuk bereplikasi di sel yang diserang.

Obat yang diumumkan sebagai antiflu pada 2002 itu mulai mendapat sorotan dunia tahun 2014. Hasil penelitian ilmuwan Jerman yang dimuat di laman Elsevier.com menyatakan, obat itu terbukti efektif melawan virus ebola yang merebak di Afrika Barat. Tahun 2016, Jepang memasok Avigan ke Republik Guinea untuk mengatasi wabah ebola.

Agustus 2017, Institut Kesehatan Nasional (NIH) Amerika Serikat, mengutip penelitian para peneliti Fujifilm-Toyama Chemical yang menyatakan, favipiravir (T-705; 6-fluoro-3-hydroxy-2-pyrazinecarboxamide) efektif terhadap sebagian besar tipe dan subtipe virus influenza. Obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas polimerase RNA dari virus.

Belakangan, Fujifilm berkolaborasi dengan Zhejiang Hisun Pharmaceutical merintis uji klinis Avigan pada pasien Covid-19 di Wuhan dan Shenzhen. Kini, Fujifilm bersiap melakukan uji klinis obat tersebut di Jepang.

PHILIP FONG / AFP–Petugas yang mengenakan masker menuangkan cairan pembersih kepada warga yang akan menyaksikan Api Olimpiade Tokyo 2020 yang dipamerkan di luar stasiun kereta api di Tono, Prefektur Iwate, Jepang, Minggu (22/3/2020). Api Olimpiade tiba di Jepang dari Yunani, dua hari sebelumnya, dalam upacara yang disederhanakan menyusul pandemi virus korona (Covid-19) yang melanda seluruh dunia, yang membuat Olimpiade Tokyo 2020 terancam ditunda.

Masih diteliti
Terkait obat antimalaria klorokuin, menurut kajian di laman Elsevier.com, 5 Maret 2020, ada dua riset di China yang mengklaim khlorokuin menunjukkan hasil menjanjikan. Penelitian dari tim Manli Wang ataupun tim Jianjun Gao menyatakan, klorokuin efektif mengatasi pneumonia pada pasien Covid-19. Namun, menurut kajian Franck Touret dan Xavier de Lamballerie dari Perancis, kesimpulan terhadap hasil penelitian harus dilakukan hati-hati karena belum ada data lengkap untuk mendukung klaim tersebut.

Laman Medlineplus.gov menyatakan, klorokuin merupakan obat keras yang penggunaannya harus sesuai petunjuk dokter karena memiliki sejumlah efek samping antara lain sakit kepala, gangguan lambung, diare, gangguan penglihatan dan pendengaran.

CNN, Jumat (20/3/2020), menyatakan, klaim Presiden Donald Trump bahwa Badan Pengawas Makanan dan Obat (FDA) AS telah menyetujui khlorokuin sebagai obat Covid-19, terlalu dini.

Kenyataannya, menurut Komisioner FDA Stephen Hahn, belum ada terapi ataupun obat yang disetujui FDA untuk mengatasi Covid-19. Klorokuin disetujui untuk obat malaria. Dokter diperbolehkan meresepkan meski belum disetujui (allowed to prescribe it for the unapproved) untuk mengobati penyakit akibat virus korona baru. Namun, keamanan dan efektivitasnya terkait virus korona belum dibuktikan.

Lebih lanjut, Hahn menyatakan, FDA sedang bekerja sama dengan lembaga pemerintah dan kalangan akademis untuk meneliti apakah khlorokuin mampu mengurangi gejala ringan sampai sedang pada pasien Covid-19 secara lebih cepat dan aman.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan tim peneliti di berbagai pusat penelitian juga masih menguji klinis sejumlah obat untuk mengatasi Covid-19. Sejauh ini, belum ada pengumuman mengenai hasilnya.

Karena itu, terhadap Avigan dan klorokuin, kita perlu hati-hati. Tak bisa menggunakan sembarangan walau klorokuin. Di rumah sakit, para dokter pun akan memberikan sesuai indikasi klinis setiap pasien.

Oleh ATIKA WALUJANI MOEDJIONO

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 23 Maret 2020

Share
x

Check Also

Endcorona, Aplikasi Deteksi Mandiri Risiko Covid-19 Buatan Mahasiswa UI

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia berkolaborasi membuat platform self-assessment atau deteksi ...