Home / Artikel / Optimisme Kombinasi Obat Covid-19

Optimisme Kombinasi Obat Covid-19

Rektor Universitas Airlangga Prof Mohamad Nasih mengumumkan sendiri hasil temuan perisetnya yang menggemparkan ilmuwan Indonesia, Jumat (12/6/2020). Sejumlah ilmuwan menoleh sambil mengernyitkan alis.

Rektor Universitas Airlangga Prof Mohammad Nasih mengumumkan sendiri hasil temuan perisetnya yang menggemparkan ilmuwan Indonesia, Jumat (12/6/2020). Bagaimana tidak, sejumlah tahapan uji kepatutan obat belum dilakukan, press release sudah ditebarkan. Wajar kalau sejumlah ilmuwan menoleh sambil mengernyitkan alis.

Rektor Universitas Airlangga (Unair) mengumumkan lima macam kombinasi obat: loprinavir-ritonavir-azitromisin, loprinavir-ritonavir-doxixiclin, loprinavir-ritonavir-klaritomisin, hidroksiklorokuin-azitromisin, dan hidroksiklorokuin-doksisiklin.

Sejumlah besar ilmuwan Indonesia, bahkan di kalangan Unair sendiri, terutama kalangan medis-kedokteran, ragu menunjukkan dukungan. Bukankah uji in vivo pada manusia belum sempurna dilakukan, tetapi obat dimaksud telah diumumkan secara luas atas nama UA-BIN-Satgas Covid Indonesia (12/6/2020).

Secara umum, setuju atau tidak, merupakan masalah wajar dalam dunia medis atau dalam bidang apa pun. Tengok saja di Amerika Serikat (AS), remdesivir yang diklaim sebagai obat manjur atasi Covid-19 belum memberikan dampak efektivitas yang hebat, bahkan bagi negara itu sendiri. Terbukti kasus positif Covid-19 terus meningkat semenjak obat itu dideklarasikan kepada dunia, 2 Mei 2020.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) memastikan remdesivir sebagai obat yang bisa digunakan untuk pasien virus korona (Covid-19), 2 Mei 2020. Sejak diumumkan, Gilead sebagai produsen remdesivir telah mendapatkan izin untuk memproduksinya secara luas.

Pada 14 Juni 2020, Worldometers merilis informasi 10 besar negara dengan kasus terbanyak di dunia. Pertama, Amerika Serikat dengan 2.142.224 kasus, 117.527 orang meninggal dan 854.106 orang sembuh. Berikutnya berurutan: Brasil, Rusia, India, Inggris, Spanyol, Italia, Peru, Jerman, dan Iran. Satu setengah bulan setelah obat remdesivir diizinkan diproduksi, terbukti remdesivir belum menunjukkan dampak penurunan Covid-19, bahkan AS menunjukkan peringkat tertinggi perolehan kasus. Dari sini rilis Rektor Unair bisa dinilai wajar.

Jumat (13/6/2020), muncul informasi sangat menarik dari diskusi webinar para guru besar pakar etik penelitian Indonesia. Webinar yang dilakukan atas prakarsa Fakultas Kedokteran Unair ini melibatkan pakar etik penelitian nasional yang bereputasi internasional. Mereka mengaku patofisiologi, perjalanan pasti SARS-CoV-2 sejak mulai hadir, selama di dalam tubuh manusia, sampai ketika korban positif Covid-19 meninggal dunia, masih belum jelas secara pasti.

Patofisiologi SARS-CoV-2 belum jelas dipahami oleh seluruh ilmuwan, nasional dan internasional. Oleh karena itu, wajar kalau seluruh tata laksana pencegahan, pengelolaan selama terinfeksi, protokol terapi, dan penanganan pada korban meninggal masih menjadi upaya serius para peneliti untuk menemukan yang terbaik.

Problem utamanya adalah pandemi Covid-19 sedang terjadi sehingga upaya yang belum sepenuhnya jelas ini pun sedikit ”dipaksakan” daripada tidak sama sekali.

Optimisme dan sembuh
Renè Descartes, lahir 31 Maret 1596 di kota kecil la Haye, Perancis, terkenal dengan quote-nya: Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada. Aku adalah apa yang menjadi keyakinanku. Setelah berlalu masa yang panjang, kutipan itu diulang dengan kalimat yang lebih bernuansa optimistis dalam bahasa Inggris, You can if you think you can. Kamu bisa jika kamu yakin bisa.

Tentang optimisme sembuh, Dr Bruno Klopfer pernah melaporkan contoh kasus limfoma maligna (tumor ganas kelenjar getah bening) yang dirawatnya. Sejumlah tumor besar terdapat di sekujur tubuh pasien. Dada pasien dipenuhi cairan, sulit bernapas. Kondisinya sangat mengkhawatirkan.

Dalam keyakinan Klopfer, pasien itu akan meninggal dalam dua minggu ke depan jika seluruh perawatan dilepaskan kecuali oksigen. Langkah terakhir yang dilakukan Klopfer adalah menginjeksi pasien dengan Krebiozen. Obat eksperimental yang kemudian diumumkan bahwa obat itu mubazir.

Kisah yang digambarkan Klopfer setelah injeksi itu: ”Saya sangat takjub! Saya meninggalkannya dalam keadaan demam, sulit bernapas, kondisinya sangat lemah.

Sekarang ia berjalan-jalan di sekitar ruangan-ruangan di rumah sakit. Dengan riangnya berbincang bersama para perawat, membawa pengaruh keceriaan kepada siapa pun yang mau mendengarkan. Benjolan tumor itu meleleh seperti bola salju di dalam oven.

Hanya dalam beberapa hari ukuran tumornya sudah separuh ukuran awal. Pastilah hal ini merupakan penyusutan yang lebih pesat dibandingkan dengan tumor mana pun yang bisa didiagnosis dengan diagnosis tingkat tinggi. Tidak ada perawatan lain selain satu suntikan yang kemudian diketahui sia-sia itu.”

Boleh jadi optimisme Rektor Unair selaku penanggung jawab perguruan tinggi (PT)—apalagi telah diberikan kepercayaan oleh pemerintah—lebih menunjukkan semangat perjuangannya yang melebihi tahapan riset obat. Tinggal siapa pun yang mau berusaha menangkap optimisme itu melalui dukungan yang membangun, meluruskan hal yang masih diperlukan, dan menambahkan hal lain yang butuh penyempurnaan.

Katakanlah penemuan periset Unair baru dalam tahap awal, sebagai ilmuwan yang mementingkan kerja sama, sukakah memilih upaya saling mendukung menuju tahapan berikutnya? Jika belum bergabung dalam satu tim, bisa jadi solusi positif merupakan usaha elegan daripada membuka pintu pesimisme dan mengunggah ujaran yang memicu ketegangan.

Bukankah kerja keras UA-BIN-Satgas Covid Indonesia bermuara pada penanggulangan pandemi Covid-19 dunia dan Indonesia khususnya? Jika belum sejalan, boleh jadi usulan positifnya bagaimana?

(Abdurachman, Guru Besar FK Universitas Airlangga, Past President of Indonesia Anatomists Association (IAA), Executive Board Member APICA)

Sumber: Kompas, 20 Juni 2020

Share
x

Check Also

Otopsi Jenazah Korban Covid-19

Pada Covid-19 ini, otopsi kembali menunjukkan peran pentingnya. Otopsi telah menghasilkan beberapa temuan penting yang ...

%d blogger menyukai ini: