Virus Korona Pemicu Flu Babi Berpotensi Menular ke Manusia

- Editor

Kamis, 15 Oktober 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jenis virus korona yang baru-baru ini menyerang peternakan babi berpotensi menyebar ke manusia. Virus korona pemicu flu babi ini awalnya muncul pada kelelawar dan menginfeksi babi di China.

Penelitian baru dari University of North Carolina menunjukkan, jenis virus korona yang baru-baru ini menyerang peternakan babi berpotensi menyebar ke manusia. Jenis virus korona, yang dikenal sebagai swine acute diarrhea syndrome coronavirus atau SADS-CoV, ini awalnya muncul dari kelelawar dan menginfeksi kawanan babi di seluruh wilayah China sejak pertama kali ditemukan pada tahun 2016.

Ancaman potensial virus terhadap manusia ditunjukkan dalam tes laboratorium yang mengungkapkan SADS-CoV secara efisien direplikasi dalam sel hati dan usus manusia serta sel saluran pernapasan. Temuan ini telah dipublikasikan di jurnal PNAS pada 12 Oktober 2020.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun berada dalam keluarga virus yang sama dengan betacorona SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit pernapasan Covid-19 pada manusia, SADS-CoV merupakan virus alphacorona yang menyebabkan penyakit saluran cerna pada babi. Virus ini menyebabkan diare dan muntah parah serta mematikan bagi anak babi.

SADS-CoV juga berbeda dari dua alphacoronavirus flu biasa yang beredar pada manusia, HCoV-229E dan HCoV-NL63. ”Sementara banyak peneliti fokus pada potensi munculnya betacoronavirus seperti SARS dan MERS, sebenarnya alphacoronaviruses mungkin terbukti sama berdampak buruk terhadap kesehatan manusia, mengingat potensi mereka untuk melompat antarspesies,” kata Ralph Baric, profesor epidemiologi di UNC-Chapel Hill Gillings School of Global Public Health, dalam keterangan tertulis, Rabu (14/10/2020).

Meskipun SADS-CoV hingga kini belum diketahui telah menyerang manusia, pandemi Ccovid-19 menjadi pelajaran penting bahwa banyak jenis virus korona yang ditemukan pada hewan berpotensi menginfeksi manusia. Apalagi, bukti di laboratorium menunjukkan, virus ini bisa bereplika di dalam sel manusia.

Caitlin Edwards, peneliti di UNC-Chapel Hill yang menjadi penulis pertama dalam paper ini, menyebutkan telah menguji beberapa jenis sel dengan menginfeksi mereka menggunakan bentuk sintetis SADS-CoV untuk memahami seberapa tinggi risiko paparan lompatan virus ke spesies lain.

Dari penelitian itu dibuktikan bahwa berbagai sel mamalia, termasuk paru-paru manusia dan sel usus, rentan terhadap infeksi. Menurut Edwards, SADS-CoV menunjukkan tingkat pertumbuhan sel usus lebih tinggi yang ditemukan di usus manusia, tidak seperti SARS-CoV-2 yang terutama menginfeksi sel paru-paru.

”SADS-CoV berasal dari virus korona kelelawar yang disebut HKU2, yang merupakan kelompok virus heterogen dengan sebaran di seluruh dunia,” kata Edwards.

”Tidak mungkin untuk memprediksi apakah virus ini, atau strain kelelawar HKU2 yang berkerabat dekat, dapat muncul dan menginfeksi populasi manusia. Namun, jangkauan luas inang SADS-CoV, ditambah dengan kemampuan untuk mereplikasi di paru-paru manusia primer dan sel-sel lain, menunjukkan potensi risiko kemunculan di masa depan pada populasi manusia dan hewan,” ujarnya.

Menanggapi temuan ini, Edwards dan tim menguji remdesivir antivirus spektrum luas sebagai metode pengobatan potensial untuk infeksi. Bekerja dengan Gilead Sciences, remdesivir dikembangkan oleh Lab Baric untuk memerangi semua virus korona yang dikenal, termasuk SADS-CoV.

Hasil awal dari studi ini menunjukkan, ia memiliki aktivitas kuat terhadap SADS-CoV meskipun Edwards memperingatkan, lebih banyak pengujian diperlukan pada jenis sel tambahan dan hewan untuk mengkonfirmasi temuan ini.

Sekalipun belum ada bukti penularan kepada manusia, SADS-CoV saat ini menjadi ancaman bagi ekonomi dunia, khususnya AS, yang menempati urutan ketiga dalam produksi daging babi global pada tahun 2019. Pada tahun 2012, industri daging babi AS dihancurkan oleh berbagai virus korona babi yang muncul dari China.

”Tidak mengherankan, saat ini kami mencari mitra untuk menyelidiki potensi calon vaksin SADS-CoV untuk melindungi babi,” kata Baric. Pengawasan dan pemisahan awal babi yang terinfeksi dari induk babi memberi kesempatan untuk mengurangi wabah lebih besar dan potensi penyebaran ke manusia. Adapun vaksin bisa menjadi kunci untuk membatasi penyebaran global dan kejadian kemunculan manusia di masa depan.

Para peneliti ini merekomendasikan agar pekerja di peternakan babi dan populasi babi terus dipantau terkait indikasi infeksi SADS-CoV guna mencegah terjadinya kembali wabah dan kerugian ekonomi besar-besaran.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 14 Oktober 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 14 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB