Home / Berita / Bencana Hidrometeorologi Masih Dominan, Longsor Lagi di Lombok Barat

Bencana Hidrometeorologi Masih Dominan, Longsor Lagi di Lombok Barat

Bencana hidrometeorologi masih mendominasi jumlah korban tewas dan kerusakan infrastruktur akibat bencana alam di Indonesia sepanjang 2015. Seiring dengan pemanasan global, frekuensi bencana yang dipicu oleh cuaca dan buruknya tata kelola lingkungan ini diprediksi akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana alam menewaskan 240 orang tahun ini. Penyebab kematian tertinggi adalah longsor yang menewaskan 147 orang, disusul banjir sebanyak 34 orang, puting beliung 29 orang, kebakaran hutan dan lahan 24 orang, kombinasi banjir dan longsor 5 orang, serta gelombang pasang 1 orang.

“Lebih dari 95 bencana alam sepanjang tahun 2015 disebabkan hidrometeorologi, meliputi puting beliung, longsor, dan banjir,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Sabtu (19/12). “Bencana ini diprediksi masih akan mendominasi ke depannya. Khusus untuk longsor, harus ada upaya komprehensif.”

Di Indonesia, longsor yang merupakan bencana hidrometeorologi menempati pembunuh utama setidaknya dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data BNPB, sejak 2012 hingga akhir 2013, longsor terjadi 705 kali menyebabkan korban tewas 369 dan 16.332 luka. Longsor juga menjadi bencana paling mematikan di Indonesia sepanjang tahun 2014 dengan korban jiwa mencapai 372 orang.

Penduduk yang tinggal di zona rentan longsor terindikasi semakin banyak seiring dengan kerusakan daya dukung lingkungan di daerah hulu. Berdasarkan data BNPB, saat ini ada 40,9 juta penduduk yang terpapar bahaya longsor yang tersebar di 274 kabupaten/kota.

Kejadian longsor terkini terjadi pada Sabtu ini sekitar pukul 03.30 di Dusun Landungan, Desa untur Macan, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Menurut Sutopo, 4 rumah tertimbun longsor dan menyebabkan 3 orang tewas, 1 masih dicari, 12 orang luka berat, dan 3 orang luka ringan.

4359eefb3d9e4ccfb39672914afe94efKOMPAS/GREGORIUS MAGNUS FINESSO–Warga, personel TNI, dan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Jawa Tengah, memasang jaring pengaman longsor dari anyaman sabut kelapa di perbukitan Desa Pengadegan, Kecamatan Majenang, Selasa (17/11). Setelah dipasang, di sela-sela jaring ditanam juga rumput akar wangi untuk memperkuat struktur tanah. Penahan longsor dari sabut kelapa dan akar wangi tersebut lebih ramah lingkungan dan efisien.

Korban yang ditemukan tewas adalah Riswandi (21), Laelatul Hasnah (10), dan Dahrin (80). Sementara yang amsih dicari adalah Multazam (21). “Longsor juga menimbun 1 warung, 2 sepeda motor, 2 sapi, dan jalan. Saat ini kami masih berupaya mencari korban,” kata Sutopo.

Tren global
Dominasi bencana hidrometeorologi di Indonesia sebenarnya sudah terjadi sejak setidaknya tiga dasawarsa terakhir. Dalam tiga dasawarsa terakhir, tren bencana hidrometeorologi di Indonesia meningkat drastis, baik intensitas, frekuensi, sebaran, maupun kekuatannya. Berdasarkan Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI) selama tahun 1815-2011 terdapat 11.910 kejadian bencana yang menyebabkan 329.585 orang meninggal dan hilang serta lebih dari 15,8 juta orang mengungsi.

555e47e7c0a545f8ad917305df492c06Dari jumlah itu, 77 persen termasuk bencana hidrometeorologi, 3 persen bencana geologi, sisanya bencana karena ulah manusia dan biologi. Bencana banjir sebanyak 2.712 kejadian (40 persen) total bencana di Indonesia. Selain banjir, puting beliung menunjukkan peningkatan paling pesat.

Indikasi kenaikan bencana hidrometeorologi juga terjadi di seluruh dunia. Secara global, 76 persen bencana dalam kurun 1900-2011 adalah bencana hidrometeorologi dan menunjukkan tren meningkat. Badan PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) memperingatkan, bencana hidrometeorologi merupakan tantangan besar masyarakat dunia di masa mendatang.

79524d4a921945b1999ff88c1d3a3f82Lokasi longsor tebing pinggir jalur rel di RT 008 RW 005 Kampung Buaran rata-rata tinggi 4-5 meter. Tebing lebih banyak ditumbuhi perdu dan pohon buah yang batang utamanya tidak terlalu besar.–KOMPAS/RATIH P SUDARSONO

0245265b59f34a599c5ef3ad85c47789Kondisi salah satu sisi Bukit Camang, Bandar Lampung, yang dijadikan lokasi penambangan batu, Minggu (6/12). Penjabat Wali Kota Bandar Lampung Sulfakar telah mengeluarkan larangan aktivitas tambang di Bukit Camang menyusul longsor yang menewaskan satu orang petambang di bukit batu tersebut.–KOMPAS/ANGGER PUTRANTO

Berdasarkan hasil penelitian UNISDR dengan Louvain University Centre for Research on the Epidemiology of Disasters (CRED), banjir merupakan bencana paling kerap terjadi di Asia dalam beberapa tahun terakhir, mencapai 44 persen. Bencana ini menimbulkan korban jiwa terbanyak dan kerugian ekonomi terbesar. Sebanyak 54 persen korban tewas di Asia akibat banjir dan 56 persen dari total kerugian ekonomi di Asia disebabkan banjir.

Antisipasi 2016
Melihat tren sejak beberapa tahun terakhir, Sutopo memprediksi, bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, dan puting beliung) masih akan mendominasi pada 2016. “Puncak bencana hidrometeorologi kemungkinan pada Januari-Februari 2016,” katanya.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemungkinan fenomena La Nina menguat di pertengahan 2016. Namun, dampaknya terasa pada musim hujan 2017 sehingga potensi banjir, longsor, dan puting beliung akan makin meningkat pada tahun itu.

Terkait ancaman banjir, menurut Sutopo, 315 kabupaten/kota di Indonesia saat ini berada di daerah bahaya banjir sedang hingga tinggi. Jumlah penduduk terpapar dari bahaya sedang-tinggi banjir mencapai 63,7 juta jiwa.

Khusus untuk Jakarta, banjir dipreediksi terjadi pada awal minggu ketiga Januari 2016. “Ancaman banjir Jakarta tersebar di 37 kecamatan, 125 Kelurahan, dan 634 RW dengan jumlah penduduk yang berpotensi terdampak mencapai 276.999 jiwa,” ujarnya.

Staf Ahli Kebencanaan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono mengatakan, dominasi bencana hidrometeorologi disebabkan dalam beberapa tahun terakhir tak ada erupsi gunung api dan gempa bumi yang signifikan. Meski frekuensinya jarang dan belum bisa diprediksi, bencana geologi bisa sangat mematikan. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap bencana geologi, terutama gunung api dan tsunami, tak boleh kendur.

6a50bc2660354a99a4f6db9506a5f6f4KOMPAS/ZULKARNAINI–Jalan antarkabupaten yang menghubungkan Pidie dengan Meulaboh, Aceh Barat, putus total akibat diterjang banjir pada Kamis (10/12) malam. Titik amblas itu terdapat di Desa Blang Dhot, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh.

AHMAD ARIF

Sumber: Kompas Siang | 19 Desember 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: