Home / Berita / Beasiswa Luar Negeri Jadi Tumpuan

Beasiswa Luar Negeri Jadi Tumpuan

Beasiswa masih menjadi tumpuan utama bagi orang-orang Indonesia yang ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri. Berbagai kemungkinan memperoleh beasiswa pun dicari, baik dari Pemerintah Indonesia, perguruan tinggi, maupun lembaga-lembaga lain.

Coba kita simak kisah Dina Novita Sari (24), anak dari seorang sopir angkutan umum asal Magetan, Jawa Timur. Lulus kuliah S-1 dengan beasiswa ikatan dinas dari sebuah perusahaan multinasionalpada 2012, perempuan itu sempat bekerja di lembaga swadaya masyarakat (LSM). Setelah bergelut di LSM selama 1,5 tahun, tiba-tiba muncul keinginan untuk kuliah lagi.

Dia pun mencari beasiswa ke luar negeri dan mengincar program magister bidang corruption and governance (korupsi dan pemerintahan). “Ketika kita mendengarkan suara hati untuk mengejar tujuan hidup, selalu ada jalan,” katanya betekad.

Dalam satu tahun, dia melamar tiga beasiswa DAAD Pemerintah Jerman, Chevening Pemerintah Indonesia, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Pemerintah Indonesia. Ternyata, dia diterima di ketiga beasiswa itu. Dina lantas memilih LPDP. “Dengan beasiswa Pemerintah Indonesia, saya jadi duta bangsa. Saya juga harus mempertanggungjawabkan kuliah saya untuk Indonesia,” katanya.

Beasiswa, peluang terbuka
Peluang untuk bisa kuliah di luar negeri, bahkan di perguruan tinggi paling top di dunia, terasa semakin terbuka dengan adanya beasiswa. Salah satunya, beasiswa dari pemerintah dengan memanfaatkan bunga hasil pengembangan dana abadi pendidikan. Kuota satu angkatan beasiswa LPDP untuk program magister dan doktor bisa mencapai lebih dari 100 orang.

Beasiswa jenis ini mencakup Beasiswa Pendidikan Indonesia untuk program magister dan doktor, presidential scholarship atau Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI), bantuan afirmasi untuk lulusan beasiswa Bidikmisi, serta mereka yang tinggal di daerah perbatasan dan tertinggal. Informasi beasiswa yang dikelola Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Agama ini bisa dilihat di laman www.lpdp.kemenkeu.go.id.

5fdb2f36e02e4bdba7222623e336027bKOMPAS/YUNIADHI AGUNG–Pengunjung mencari informasi sekolah dan universitas luar negeri yang berpartisipasi dalam acara World Education Expo di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (9/10). Melanjutkan studi ke luar negeri menjadi salah satu pilihan untuk mencari pendidikan yang lebih baik.

Berliana Oktoviani dari bagian pemasaran LPDP menuturkan, beasiswa ini tidak memiliki kuota. “Semua orang boleh mendaftar dengan syarat mereka sudah diterima di salah satu dari 280 kampus luar negeri yang bekerja sama dengan LPDP,” ujarnya. Syarat lain, mereka harus mengikuti penataran selama satu pekan untuk meningkatkan nasionalisme.

Iman Santoso, penerima beasiswa LPDP program doktor bidang metalurgi di Aalto University, Finlandia, mengatakan, beasiswa jenis ini cukup untuk hidup layak di luar negeri dan besarnya tidak kalah dari beasiswa lain. Pencairan dana beasiswa itu juga lancar.

“LPDP tetap akan membiayai kuliah di universitas-universitas mahal, seperti Harvard dan MIT (Massachusetts Institute of Technology). Untuk yang membawa keluarga juga ada tambahan nominal,” ujar Iman yang sebelumnya mendapat beasiswa S-2 dari Australia Awards.

Hal senada disampaikan Shyntia Kurniawan (31), penerima beasiswa LPDP yang berkuliah di University of Sussex, Inggris. “Transferan beasiswa selama ini lancar,” katanya.

Iman berharap pemerintah serius membangun sistem pengelolaan beasiswa ketika penerima terus bertambah. LPDP juga didorong agar mempertimbangkan syarat memiliki pengalaman kerja. Sebab, mulai banyak penerima yang merupakan lulusan baru, bahkan ada yang baru pegang surat keterangan lulus. Jika lulus S-2, tetapi belum bekerja atau belum tahu akan mengerjakan apa, mereka bisa berpotensi jadi penganggur terdidik.

Tak cukup akademik
Selain dari Pemerintah Indonesia, pusat-pusat pendidikan asing juga menjadi alternatif tempat pencarian beasiswa. Misalnya, Nuffic Neso Indonesia yang merupakan pusat pendidikan Belanda. Mereka menawarkan empat jenis beasiswa dari Pemerintah Belanda, yaitu Stuned, Holland Scholarship, Orange Tulip, dan Netherlands Fellowship Programme.

Menurut Student Councillor Neso Indonesia Nyimas Dian Fitriani, beasiswa terpopuler ialah Stuned yang khusus untuk mengambil pendidikan strata dua (S-2). Pasalnya, Belanda dikenal memiliki kualitas pendidikan yang bagus, tetapi dari segi harga lebih murah ketimbang negara-negara Eropa lain, seperti Inggris, Jerman, dan Perancis.

Dana dari Stuned juga cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari dan masih tersisa untuk menabung. “Dari penelitian Neso, setiap bulan, mahasiswa di Belanda membutuhkan biaya 860 euro hingga 1.100 euro untuk makan, transportasi, dan hiburan. Beasiswa Stuned memberi lebih dari jumlah itu,” tuturnya.

Pelamar beasiswa ini dipersyaratkan untuk membuktikan surat penerimaan di perguruan tinggi di luar negeri, disertai transkrip S-1 dengan indeks prestasi kumulatif minimal 3,00. Dari sisi kemampuan berbahasa Inggris, harus dibuktikan dengan sertifikat TOEFL dengan skor paling rendah 580, bisa juga menggunakan IELTS dengan nilai 6.

Namun, Nyimas menekankan bahwa pelamar sebaiknya juga memiliki pengalaman berorganisasi atau aktif di masyarakat, seperti di ekstrakurikuler olahraga, organisasi kemahasiswaan, dan organisasi kemasyarakatan. Itu memperlihatkan bahwa pelamar tidak hanya pandai secara akademis, tetapi juga manusia yang berbakti kepada komunitasnya.

Spesifik
Pendekatan berbeda dilakukan oleh beasiswa Prestasi USAID. Beasiswa ini hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat untuk memajukan bidang-bidang strategis dalam pembangunan. Beasiswa ini tersedia untuk 31 program, yaitu 6 program pendidikan dasar serta 25 program ilmu lingkungan dan ekonomi. Jadi, prioritas penerima beasiswa tersebut adalah guru, petani pengusaha, dan profesional di bidang-bidang itu.

“Beasiswa Prestasi sangat fleksibel karena ada kemungkinan bidang-bidang yang diprioritaskan sewaktu-waktu berubah,” kata Direktur Prestasi USAid Randall Martin.

Ada pula beasiswa dari Pemerintah Inggris, Chevening. Citra Lestari, salah seorang penerima yang saat ini kuliah di Inggris, mengatakan, mahasiswa bisa memilih tempat kuliah di program dan universitas mana pun di Inggris, termasuk di Wales, Skotlandia, atau Irlandia. Untuk bisa sukses lolos beasiswa ini mesti punya IELTS minimal 6,5. Namun, lebih aman minimal 7 karena banyak kampus yang meminta nilai 7. (DNE/ELN)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Oktober 2015, di halaman 23 dengan judul “Beasiswa Luar Negeri Jadi Tumpuan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: