Batan Kenalkan Varietas Unggul Kedelai Hitam

- Editor

Senin, 6 Juli 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dua varietas unggul kedelai hitam hasil teknik iradiasi, yaitu Mutiara 2 dan Mutiara 3, dikenalkan Badan Tenaga Nuklir Nasional. Dua varietas ini lebih unggul daripada generasi terdahulu Mutiara 1 dan varietas kedelai hitam lainnya.

“Salah satu kelebihannya berukuran super jumbo,” kata Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi Batan Hendig Winarno, Jumat (3/7) di Jakarta. Peluncuran resmi hasil riset itu dilakukan Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto, Kamis lalu.

Varietas kedelai hitam jenis Mutiara, akronim mutan aplikasi teknologi isotop dan radiasi, punya berat rata-rata 23,3 gram per 100 biji, hampir dua kali lipat dari rata-rata kedelai unggul nasional. Kedelai itu dilepas Kementerian Pertanian tahun 2010.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hendig menjelaskan, Mutiara 3 lebih baik daripada generasi Mutiara 2 dan Mutiara 1. Dalam uji coba di sejumlah lokasi, Mutiara 2 berpotensi menghasilkan maksimal 3 ton per hektar dan Mutiara 3 3,2 ton per hektar.

Produksi rata-rata kedelai Mutiara 2,4 ton per hektar di atas produksi rata-rata varietas Burangrang atau Wilis yang 2,2 ton dan 2,3 ton per hektar.

Kedelai super jumbo itu hasil teknik iradiasi kedelai varietas Muria. Penelitiannya dimulai tahun 2004 dan sudah dilakukan uji penanaman di 16 lokasi.

Keunggulan varietas Mutiara berumur pendek (genjah), dipanen umur 83 hari. Kedelai ini tahan penyakit karat daun (Phakopsora pachyrhizi), hawar daun (Cercospora sp), dan hama penggerek pucuk (Melanagromyza sojae), serta tahan rebah. Varietas kedelai ini juga dapat dibudidaya di lahan sawah dan tegalan.

Kedelai ini cocok sebagai bahan baku pembuatan tahu ataupun tempe. Varietas Mutiara 1 mampu mengganti kebutuhan industri tahu dan tempe nasional yang saat ini tergantung dari kedelai impor berbiji besar. Rendemennya 50 persen lebih tinggi bila diolah jadi tahu. Kandungan proteinnya tinggi, 37,7 persen.

Swasembada
Pelepasan dua varietas unggul itu oleh Batan diharapkan turut meningkatkan produksi kedelai nasional hingga swasembada kedelai tahun mendatang. Saat ini, produksi domestik baru memenuhi 50-60 persen kebutuhan nasional. Untuk menutupi kekurangan, pemerintah mengimpor. “Terutama dari Amerika Serikat dan Brasil,” ujar Djarot.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, produksi kedelai Indonesia sangat rendah. Produksi pada 2013 hanya 807.568 ton dari luas panen 554.132 hektar (rata-rata produktivitas perkebunan kedelai 1,46 ton per hektar).

Jumlah produksi itu jauh di bawah kebutuhan nasional yang 2,7 juta ton per tahun. Selain itu, penyediaan benih kedelai bersertifikat di dalam negeri baru 8 persen kebutuhan nasional.

Kontribusi Batan pada program kemandirian nasional produksi kedelai dilakukan melalui penelitian pengembangan dan penerapan teknik mutasi radiasi. Hingga tahun 2014, Batan menghasilkan delapan varietas unggul kedelai kuning. (YUN)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Juli 2015, di halaman 14 dengan judul “Batan Kenalkan Varietas Unggul Kedelai Hitam”.

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 50 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB