Home / Berita / Pengembangan Kedelai di Lahan Masam

Pengembangan Kedelai di Lahan Masam

Pengembangan teknologi budidaya kedelai di daerah tropis, termasuk di lahan suboptimal yang masam, berpotensi mengurangi impor dari negara subtropis. Pelaihari, Kalimantan Selatan, kini menjadi pusat pembibitan nasional kedelai lahan masam.

Kawasan itu diproyeksikan menjadi pusat unggulan pertanian terpadu di lahan suboptimal berbasis kedelai. Untuk menjadi pusat unggulan akan dikembangkan kedelai. ”Mulai dari pembibitan hingga pengolahan pasca panen dan pemasarannya,” kata Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, di Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Banjarmasin, Selasa (11/3), seusai panen perdana varietas Rajabasa bersama Bupati Tanah Laut Bambang Alamsyah.

Keterbatasan lahan subur jadi kendala peningkatan produktivitas pertanian, termasuk kedelai yang tumbuh di daerah sejuk. Pemanfaatan lahan marjinal atau suboptimal untuk budidaya kedelai, kata Gusti, dapat mencapai kemandirian dan meningkatkan ketahanan pangan.

Keunggulan Rajabasa
rajabasaGorontaloVarietas kedelai Rajabasa yang merupakan hasil iradiasi di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) memiliki keunggulan, yaitu dapat ditanam pada lahan masam dengan kadar pH 5. ”Pengembangannya sejak 2004 dan telah didesiminasikan di 20 provinsi,” kata Arwin, peneliti kedelai pada Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Batan.

Kelebihan Rajabasa dibanding varietas kedelai yang ditanam petani adalah tingkat produktivitasnya lebih tinggi. Dari lahan satu hektar di Pelaihari, dihasilkan 1,3 ton kedelai Rajabasa. Sementara dari varietas lain, seperti Anjasmoro dan Grobogan, sekitar 1 ton per hektar.

Setelah Rajabasa akan diuji coba penanaman varietas kedelai Mutiara I yang berukuran biji sama dengan kedelai impor dan mitani yang dapat ditanam di dataran rendah.

Dibandingkan dengan lokasi lain, Balai Pengkajian Pengembangan Pertanian Terpadu Pelaihari punya nilai tambah. ”Penerapan pupuk organik dari bahan limbah dan pemanfaatan limbah setelah panen untuk pakan ternak,” kata Anis Wahdi, Koordinator Program Pengembangan Kedelai Kalsel.

Selama ini, untuk mengatasi kemasaman dilakukan penambahan kapur. Namun, di BP3T Pelaihari ditambah pupuk kompos hasil inovasi peneliti Universitas Lambung Mangkurat. Pupuk organik yang disebut Trikokompos merupakan hasil pengembangan peneliti di Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat.

Pemberian kompos dalam jangka panjang akan meningkatkan tingkat kesuburan lahan.

Di pusat pertanian ini, selain keterpaduan riset, juga ada sinergi dengan lembaga riset di pusat dan daerah. Itu meliputi pembibitan, pemupukan, pemberantasan hama, hingga pemberdayaan petani setelah panen.

Hasil panen perdana ini, menurut Deputi Menristek Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek Agus Puji Prasetyono, akan menjadi bibit kedelai yang juga diuji coba di lahan suboptimal di daerah lain.

Saat ini, belum ada jaminan suplai kedelai dari petani. Panen kedelai sekali setahun. ”Dengan pertanian terpadu akan ditingkatkan hingga tiga kali setahun, dan jumlah memadai,” ujar
Anis. (YUN)

Sumber: Kompas, 12 Maret 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: