Banyak Varietas Unggul, Petani Masih Enggan Tanam Kedelai

- Editor

Selasa, 24 Februari 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teknologi dan banyak varietas kedelai unggul ditemukan di Tanah Air. Namun, hal itu tidak mendongkrak produksi kedelai dalam negeri karena petani enggan menanam kedelai. Petani memilih menanam padi dan jagung karena lebih menguntungkan.


”Indonesia memiliki 84 varietas unggul kedelai yang cocok ditanam di beberapa wilayah Indonesia, mulai dari sawah, lahan kering masam (tanah marjinal), lahan pasang surut, ataupun hutan. Semua varietas unggul itu bisa dibudidayakan di lahan yang sesuai jika ingin memperluas areal tanam dan mendongkrak produksi kedelai dalam negeri,” kata Kepala Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Didik Harnowo, Senin (23/2), di Malang, Jawa Timur.

Beberapa varietas kedelai unggul temuan Balitkabi, antara lain, Dena 1 dan Dena 2, yakni kedelai toleran pada naungan sehingga cocok ditanam tumpangsari di perkebunan atau hutan, serta varietas Tanggamus, kedelai yang cocok ditanam di lahan kering masam. Varietas lain adalah GH2013-4, yakni kedelai yang cocok ditanam di lahan sawah, serta varietas Anjasmoro, Grobogan, dan Argomulyo, yakni jenis kedelai berbiji besar yang mutunya lebih bagus dari kedelai impor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Teknologi dan varietas kedelai di Indonesia banyak. Tinggal di mana akan ditanam dan siapa mau menanamnya,” kata Didik. Petani enggan menanam kedelai karena harga jualnya rendah, sehingga kalah bersaing dengan komoditas pertanian lain, seperti padi dan jagung.

Lahan kedelai di Indonesia saat ini sekitar 700.000 hektar, dengan rata-rata produktivitas lahan 1,4 ton kedelai per hektar. Jadi, total volume produksi kedelai sekitar 980.000 ton per tahun. ”Padahal, kebutuhan kedelai di Tanah Air 2,3 juta ton setahun,” ujar Didik.

Koordinator penelitian kedelai Balitkabi Marwoto mengatakan perlu ada komitmen bersama demi mewujudkan swasembada kedelai. ”Komitmen itu berupa mengurangi impor kedelai agar harga dalam negeri terangkat, diiringi pengembangan tanaman kedelai di lahan yang ada atau di areal baru kedelai, serta mengatur tata niaga kedelai,” ujarnya.

Selama ini harga kedelai di tingkat petani hanya Rp 6.000-Rp 7.000 per kilogram (kg). Harga itu jauh di bawah harga pokok pembelian pemerintah, yakni Rp 7.600 per kg. Akibatnya, petani enggan menanam kedelai.

Sebagai perbandingan, 1 ha lahan jika ditanami kedelai menghasilkan 1,4 ton dengan harga jual Rp 6.400 per kg. Sementara 1 ha lahan jagung menghasilkan 5 ton dengan harga jual Rp 3.000 per kg, dan 1 ha sawah menghasilkan 7 ton gabah dengan harga jual Rp 3.300 per kg.

”Harga kedelai hanya sekitar Rp 6.000 per kg, produksinya pun tak banyak, sehingga di sini tidak ada yang menanam kedelai. Dulu ada yang tanam kedelai, tetapi merugi karena hasil sedikit dan harga murah,” kata Bisri, petani Desa Cungkal, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Petani sebenarnya mau menanam kedelai jika didukung pemerintah, misalnya ada jaminan harga pupuk, benih, dan sarana murah serta mudah didapat. (DIA)

Sumber: Kompas, 24 Februari 2015

Posted from WordPress for Android

Informasi terkait

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Berita ini 20 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB