Home / Berita / teknologi nuklir; Benih Kedelai, Vaksin Malaria, hingga Terapi Kanker

teknologi nuklir; Benih Kedelai, Vaksin Malaria, hingga Terapi Kanker

PAPARAN radiasi nuklir bisa fatal, tetapi radioaktivitasnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti pertanian, pangan, kesehatan, dan kedokteran. Pada pameran aplikasi nuklir ”Atomos Day” yang digelar Badan Tenaga Nuklir Nasional, di Jakarta, Jumat (29/11) hingga Minggu (1/12), ditampilkan berbagai pencapaian riset di bidang-bidang tersebut.

Di stan Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi Batan, dr Tatin Rustin menjelaskan aplikasi nuklir untuk vaksin malaria. Vaksin dihasilkan dari iradiasi sinar gamma, yaitu untuk mengiradiasi Plasmodium sp, penyebab malaria. Saat ini, vaksin temuan Mukh Syaifudin dan tim itu masih tahap uji praklinis pada hewan.

Di stan itu dipajang pula empat macam peta Indonesia yang menunjukkan kandungan radiasi gamma konsentrasi radionuklida alam, yaitu Radium 226, Thorium 232, dan Kalium 40. Dari empat peta itu, Sulawesi merupakan daerah dengan kandungan sedang-tinggi untuk empat jenis bahan nuklir itu. Radioaktivitas tertinggi di Mamuju dan Polewali, Sulawesi Barat.

Varietas unggul
atomos dayPada stan Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR) Batan, dipajang varietas unggul tanaman pangan pokok yang diluncurkan tahun ini. Varietas unggul dihasilkan dengan memanfaatkan teknik radiasi dan pemuliaan tanaman. Varietas unggul itu dinamai kedelai Gamasugen 1 dan 2, sorgum varietas Pahat, dan gandum tropis varietas Ganesha-1.

Kedelai Gamasugen dihasilkan dari iradiasi sinar gama pada varietas Tidar. Dua varietas ini tergolong supergenjah yang dipanen setelah 66-69 hari. Varietas Gamasugen-1 tahan hama kerat daun, sementara Gamasugen-2 tahan bercak daun. Keduanya cocok untuk tempe.

Varietas Gandum Ganesha-1 dihasilkan lewat iradiasi sinar gamma pada varietas terdahulu, WL-2265. Ganesha-1 tumbuh di dataran tinggi. Hasil rata-rata 5,4 ton per hektar, melebihi varietas gandum nasional, 4,6 ton per hektar.

Teknik iradiasi juga diterapkan pada produk pangan olahan. Selain produk berbentuk padat seperti bebijian, iradiasi juga pada tahu. ”Iradiasi mematikan mikroba dalam makanan sehingga lebih awet. Tahu umumnya tahan dua minggu, setelah diiradiasi tahan sebulan,” ujar Eko Madi dari Pusat Dokumentasi dan Informasi Nuklir Batan.

Di bidang alat kedokteran, ungkap Hari Nurcahyadi dari Pusat Rekayasa Perangkat Nuklir Batan, alat uji fungsi ginjal atau Renograf yang mulai dikembangkan 1983 kini dalam tahap standardisasi. Siap masuk tahap produksi di industri.

Kini juga dikembangkan alat terapi kanker rahim, disebut Brakiterapi. Inilah fungsi teknologi, jadi solusi bagi persoalan manusia. (YUN)

Sumber: Kompas, 2 Desember 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: