Bagaimana Iflix dan Spotify Merengkuh Pasar di Indonesia?

- Editor

Jumat, 17 November 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah usaha rintisan internasional dalam perdagangan daring dan media hiburan, seperti Iflix dan Spotify, berprinsip menggunakan teknologi kelas dunia, tetapi meraih pasar dengan pendekatan secara lokal. Oleh karena itu, mereka memiliki strategi khusus untuk mendekatkan produknya kepada masyarakat Indonesia.

Co-founder dan Group Chief Executive Officer Iflix Mark Britt menyatakan, Indonesia merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara. Karena itu, pendekatan pemasaran kepada masyarakat Indonesia membutuhkan strategi yang tepat. Jasa yang ditawarkan Iflix berupa akses pada film dan acara televisi, baik lokal maupun internasional, pada gawai yang digunakan pelanggannya.

Mark memaparkan, pihaknya telah meneliti karakteristik pasar di Indonesia. ”Secara mayoritas, Indonesia memiliki ketertarikan pada tayangan-tayangan bersifat lokal. Contohnya, pertandingan sepak bola dalam negeri, film-film yang dimainkan oleh artis dalam negeri serta film lokal itu sendiri,” tuturnya dalam acara Wild Digital, di Jakarta, Kamis (16/11).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk meningkatkan pelayanannya di Indonesia, Iflix menggandeng Screenplay Films yang kerap memproduksi film-film lokal, misalnya London Love Story (2016), I Love You from 38.000 feet (2016), Headshot (2016), dan Jailangkung (2017). Founder dan Chief Operating Officer Screenplay Films Wicky V Olindo mengatakan, keunggulan strategi pemasarannya terletak pada pendekatan dengan pemirsa melalui media sosial. ”Kami memperbarui informasi terkait tanggal penayangan perdana dan video-video cuplikan film lewat akun media sosial kami,” kata Wicky.

Berbeda dengan Iflix, Spotify memperkuat analisis datanya untuk mengoptimalkan pendekatan kepada pendengar musik di Indonesia. Managing Director Spotify di Asia Sunita Kaur mengatakan, segala pengalaman pendengar musik di Spotify dikumpulkan sebagai data mentah untuk diolah. Secara sederhana, pengalaman yang dimaksud berupa riwayat pilihan-pilihan lagu yang didengarkan dan riwayat pencarian.

Bagi Spotify, kumpulan data itu penting dalam analisis pasarnya. ”Kami memiliki tanggung jawab untuk memberikan akses bagi pendengar ke lebih dari 30 juta lagu. Sementara itu, kami juga bertanggung jawab untuk menghubungkan penyanyi kepada 140 juta pelanggan kami di seluruh dunia,” kata Sunita.

Sampai saat ini, Spotify telah merebak di 62 negara. Berdasarkan hasil analisisnya, setiap negara, bahkan tiap kota, memiliki genre dan artis favoritnya masing-masing. Sunita mencontohkan, London, Chicago, dan Jakarta sebagai perbandingan.

Dari contoh tersebut, Sunita memaparkan, pendengar di London cenderung menyukai musik indie. Sementara itu, pelanggan di Chicago memfavoritkan aliran musik hip-hop. Untuk pilihan artisnya, kedua kota ini tidak memiliki preferensi khusus.

Jakarta berbeda. Sunita mengatakan, pendengar di Jakarta lebih menyukai musik-musik artis lokal. Nama Raisa, Afgan, dan Isyana menjadi tiga teratas. Setelah musik lokal, lagu-lagu K-pop menjadi favorit nomor dua.

Dari hasil analisis tersebut, Spotify akan menyuguhkan informasi terkait lagu terbaru dan album terbaru dari penyanyi dan aliran musik yang serupa pada beranda aplikasinya. ”Tiap orang akan mendapatkan rekomendasi yang berbeda-beda tergantung seleranya,” kata Sunita.

Meskipun menghubungkan pendengar dengan musisi secara digital, Sunita mengatakan, pihaknya tetap mengusahakan interaksi langsung. Contohnya adalah Spotify on Stage pada Agustus lalu di Jakarta. Dalam pentas itu, Spotify menghadirkan penyanyi-penyanyi, baik dalam negeri maupun mancanegara, yang difavoritkan oleh Indonesia. (DD09)–M PASCHALIA JUDITH J

Sumber: Kompas, 16 November 2017

Informasi terkait

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Berita ini 17 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB