Home / Berita / Usaha Rintisan Digital; Persoalan Mendasar Masih Terus Dialami

Usaha Rintisan Digital; Persoalan Mendasar Masih Terus Dialami

Pemanfaatan data internet berdampak terhadap pertumbuhan industri aplikasi di kawasan Asia Tenggara. Persoalan mendasar, seperti pendanaan, manajemen keuangan, konsep solusi teknologi, dan pembinaan pelaku usaha rintisan berbasis teknologi, masih kerap dialami.

Direktur Utama Internasional Singtel Mark Chong, di sela-sela kegiatan Singtel Group-Samsung Regional Mobile App Challenge, Selasa (8/12), di Jakarta, berpendapat, tantangan terbesar lain adalah konsep solusi teknologi informasi yang diusung oleh pemilik usaha rintisan.

Jika solusi yang ditawarkan sesuai kebutuhan pengguna ponsel pintar, penetrasi aktif pemakaian aplikasi akan cepat. Tarif aplikasi juga menjadi tantangan tersendiri setelah pasar mampu menerima konsep solusi itu.

Vice President of Singtel International Group Oliver Foo mengatakan, konsep aplikasi yang diusung perlu mengangkat persoalan masyarakat lokal di negara masing-masing. Dengan demikian, ekosistem industri digital dalam negeri mampu berkembang kuat.

Presiden Direktur PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) Ririek Adriansyah menyampaikan, tren yang terjadi sekarang adalah pengembangan aplikasi yang mampu memberikan dampak sosial kepada masyarakat.

Dalam kompetisi aplikasi Telkomsel NextDev 2015, misalnya, beragam solusi teknologi informasi yang ditawarkan oleh usaha rintisan lokal adalah untuk kota cerdas.

Community Lead IOTA, Elymar Apao, mengungkapkan, pertumbuhan usaha rintisan di Filipina terjadi sejak tiga tahun lalu, di mana ini ditandai oleh kompetisi pembuatan aplikasi 24 jam (hackaton) Startup Weekend Manila. Kompetisi yang berkelas global tersebut mendorong usaha rintisan lokal Filipina bermunculan.

Beberapa lembaga pembinaan atau inkubator mulai berdiri, baik yang dikembangkan oleh Globe Telecom atau perusahaan swasta. Globe Telecom adalah perusahaan penyedia telekomunikasi di Filipina yang menawarkan produk seperti layanan telepon, pita lebar, dan internet.

“Sayangnya, jenis aplikasi masih berkutat pada sektor kesehatan dan perdagangan secara elektronik dengan konsep bisnis ke bisnis. Pekerjaan rumah bagi negara berkembang seperti kami adalah mengembangkan aplikasi nonmedia jejaring sosial. Akan tetapi, aplikasi yang mampu memberikan nilai lebih kepada konsumen,” ungkap Elymar.

Senior Vice President Product Management Advance Info Service Public Company Limited (AIS) Thailand Suvit Arayavilaipong, mengungkapkan, peluang aplikasi lokal berkompetisi di pasar global cukup besar.

Dari segi kapabilitas teknologi yang diusung, lanjut Suvit, usaha rintisan lokal Thailand ataupun Asia Tenggara tidak kalah dengan negara dari negara Eropa dan Amerika Serikat. Sayangnya, presentasi dan konsep bisnis aplikasi yang diusung masih belum matang.

Singtel Group-Samsung Regional Mobile App Challenge merupakan kompetisi pembuatan aplikasi yang dilakukan di negara-negara kawasan operasional Singtel Group, yakni Asia, Australia, dan Afrika. Kompetisi ini telah berlangsung kali kedua.

Pada tahun 2015, 700 aplikasi berkompetisi. Tema aplikasi yaitu, antara lain, gaya hidup, ekonomi, kesehatan, dan internet untuk segala jenis keperluan (Internet of Things/IOT). Dari 700 aplikasi yang masuk, panitia memilih 15 finalis, di mana dua di antaranya berasal dari Indonesia. Pemenang kompetisi, yaitu Social Giver asal Thailand dan OTTO dari Australia. Kedua aplikasi ini berkesempatan bekerja sama dengan Singtel Group dan Samsung untuk pemasaran. (MED)
————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Desember 2015, di halaman 20 dengan judul “Persoalan Mendasar Masih Terus Dialami”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: