Home / Profil Ilmuwan / Arthur Ashkin, Gérard Mourou, Donna Strickland: Cahaya yang Mempermudah Manusia

Arthur Ashkin, Gérard Mourou, Donna Strickland: Cahaya yang Mempermudah Manusia

Sinar laser yang kuat dan berwarna-warni sering ditampilkan pada berbagai pertunjukan. Laser juga banyak digunakan sebagai mainan yang sering dikeluhkan mengganggu penerbangan. Nyatanya, manfaat laser jauh lebih besar dari itu. Laser sudah mampu mewujudkan sebagian mimpi manusia untuk bisa memindahkan atau memotong benda dengan cahaya.

Nada suara Arthur Ashkin (96) datar saat panitia pengumuman Hadiah Nobel Fisika 2018 meneleponnya dan menyampaikan selamat atas capaiannya. Tak ada ekspresi berlebih meski ia sempat terkejut saat ada telepon dari Swedia pada Selasa (2/10/2018) pukul 5 pagi waktu New Jersey, Amerika Serikat.

REUTERS–Arthur Ashkin

“Aku sudah sangat tua dan sudah menyerah untuk mengharapkan segala sesuatu, termasuk Hadiah Nobel,” katanya kepada The Associated Press. Ia memang sempat mengharap penghargaan sains paling prestisius itu beberapa tahun lalu hingga akhirnya kemenangan itu datang saat ia sudah merelakannya. “Tentu saya bangga,” tambahnya.

Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia, Selasa siang di Solna, dekat Stockholm, mengumumkan Ashkin (96) bersama Gérard Mourou (74) dari Perancis dan Donna Strickland (59) dari Kanada menjadi pemenang Hadiah Nobel Fisika 2018. Anugerah diberikan atas temuan inovatif mereka di bidang fisika laser.

Mereka bertiga berhak atas hadiah sebesar 9 juta krona atau sekitar Rp 15 miliar. Separuh hadiah untuk Ashkin dan separuh sisanya dibagi rata antara Mourou dan Strickland.

Tertua
Ashkin kini jadi pemegang rekor penerima Nobel tertua. Anugerah itu diberikan atas temuannya tentang pinset optik, yaitu sinar laser yang direkayasa hingga mampu mengambil partikel, atom, virus dan sel hidup lainnya. Temuan itu ia hasilkan saat masih bekerja di Bell Laboratories, Holmdel, AS pada 1952-1991.

Namun, saat panitia Nobel menanyakannya tentang rekor penerima Nobel tertua itu, Ashkin hanya tertawa dan tidak merasa sebagai peraih Nobel tertua. Baginya, riset hanyalah riset, yang bisa dilakukan siapa saja tanpa kenal usia.
Di usianya yang menjelang satu abad, Ashkin masih meneliti dan membaca berbagai jurnal ilmiah. Saat ini, ia sedang meneliti energi Matahari di rumahnya. Riset itu dia lakukan sekedar sebagai hobi.

REUTERS–Gerard Mourou

“Aku katakan kepada istriku, hanya inilah (riset) satu-satunya hal yang sangat aku kuasai,” katanya.

Ashkin meneliti pemanfaatan sinar laser (light amplification by stimulated emission of radiation) pada 1960-an, sesaat setelah sinar laser ditemukan. Saat itu, ia bermimpi, cahaya bisa digunakan untuk memindahkan benda, termasuk asteroid, seperti di film fiksi ilmiah Star Trek.

Saat ia menyampaikan idenya untuk memindahkan makhluk hidup dengan cahaya kepada rekan-rekannya, mereka menganggapnya berlebihan.

Tanggapan itulah yang justru melecutnya hingga pada 1987, dia mampu melakukan terobosan baru dengan menangkap bakteri hidup menggunakan pinset optik tanpa melukainya. Kini, teknik itu dimanfaatkan di banyak laboratorium untuk menyelidiki sistem dan mesin biologi, mulai dari protein, sistem penggerak molekul, asam deoksiribonukleat (DNA), hingga sistem di dalam sel.

Pemanfaatan sinar laser itu juga dikembangkan oleh Mourou dan Strickland pada 1985. Mereka mengembangkan metode untuk menghasilkan pulsasi alias denyutan sinar laser yang sangat kuat dan singkat. Teknologi baru untuk menghasilkan sinar laser itu mereka hasilkan saat mereka bekerja di Universitas Rochester, AS. Saat itu, Strickland adalah mahasiswa doktoral Mourou.

Teknik pembuatan sinar laser intensitas tinggi dan ultrapendek itu disebut chirped pulse amplification (CPA). “Dengan teknik ini, sinar laser yang dihasilkan mampu memiliki kekuatan hingga 1 juta-1 miliar kali dibanding sebelumnya,” kata Mourou yang hingga kini masih mengajar di École Polytechnique (Sekolah Politeknik) di Palaiseau, selatan Paris, Perancis dan profesor emeritus Universitas Michigan, Ann Arbor, AS.

Dengan kekuatan yang besar itu, pemanfaatan laser pun menjadi makin luas. Kini, laser banyak digunakan di bidang medis, teknologi informasi, industri hingga militer.

Tindakan medis yang memanfaatkan laser pun beragam, mulai dari khitan pada laki-laki hingga operasi perbaikan kornea mata melalui operasi lasik (laser assisted in-situ keratomileusis) bagi mereka yang mengalami gangguan penglihatan. Di industri, laser digunakan untuk memotong, mengebor hingga melubangi berbagai material mulai dari kertas hingga baja dengan ketepatan tinggi.

“Aku sangat senang berbagi hadiah dengan mantan muridku Donna Strickland, juga orang yang sangat aku hormati, Arthur Ashkin,” ujarnya.

Mourou saat ini tengah bergabung di proyek sejumlah negara Eropa, Extreme Light Infrastructure, yang diharapkan akan menghasilkan sinar laser terkuat di dunia. Jika berhasil, laser itu diharapkan bisa membantu menangani berbagai masalah manusia lain, mulai dari penanganan limbah nuklir, mengobati tumor hingga membersihkan sampah antariksa.

Namun semua itu harus dilakukan setahap demi setahap. Dalam riset, lanjutnya, tidak ada “Eureka!” yang instan.

REUTERS–Donna Strickland

Perempuan
Secara terpisah, Strickland yang kini jadi dosen di Universitas Waterloo, Kanada mengaku terkejut atas anugerah tersebut. Hadiah Nobel, khususnya Fisika, jadi suatu hal yang sulit dijangkau perempuan hingga menimbulkan isu bias gender dan misogini setiap penganugerahannya.

Selama 112 kali penyelenggaraan Hadiah Nobel Fisika sejak tahun 1901, penganugerahan Nobel ditiadakan beberapa kali selama Perang Dunia I dan II, sudah 210 ilmuwan yang menerimanya. Namun, di antara penerima itu, hanya tiga orang fisikawan perempuan atau 1,4 persen yang pernah menerimanya.
Strickland jadi perempuan ketiga penerima Nobel Fisika. Perempuan penerima Nobel Fisika sebelumnya adalah Marie Curie pada 1903 dan Maria Goeppert-Mayer pada 1963.

Nobel Fisika itu juga tidak pernah ada dalam bayangan Strickland. Baginya, ia hanya berusaha menjadi yang terbaik di setiap usaha yang dilakukannya, termasuk saat menjadi mahasiswa program doktoral yang membawanya pada anugerah ini. Namun akhirnya, semua itu berbuah manis dan tidak ada yang sia-sia.

“Kita perlu merayakannya karena fisikawan perempuan nyata ada di luar sana. Saya merasa terhormat jadi salah satu dari perempuan (peraih Nobel Fisika) tersebut,” ujarnya.

Arthur Ashkin
Lahir : New York, AS, 2 September 1922
Pendidikan Doktoral : Universitas Cornell, Ithaca, AS 1952
Institusi : Bell Laboratories, Holmdel, AS

Gérard Mourou
Lahir : Albertville, Perancis, 22 Juni 1944
Pendidikan Doktoral : Universitas Pierre and Marie Curie, 1973
Institusi : École Polytechnique, Palaiseau, Perancis
dan Universitas Michigan, Ann Arbor, AS

Donna Strickland
Lahir : Guelph, Kanada, 1959
Pendidikan Doktoral : Universitas Rochester, AS, 1989
Institusi : Universitas Waterloo, Kanada

M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 4 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sri Budiarti Melawan Bakteri Resisten Antibiotik

Sri Budiarti memilih mendalami mikrobiologi, terutama penelitian terapi bakteriofag untuk membunuh bakteri resisten antibiotik. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: