Ambon Memiliki Jejak Gempa Besar

- Editor

Kamis, 2 November 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rentetan gempa yang mengguncang wilayah Ambon, Maluku, Selasa (31/10) malam, menimbulkan kerusakan bangunan di sejumlah tempat. Gempa utama berkekuatan M 6 dan gempa susulan terus terjadi hingga Rabu (1/11). Secara geologis, Ambon berada di zona tektonik aktif yang memiliki sejarah gempa besar pada masa lalu.

Gempa utama berkekuatan M 6 dengan gempa pendahuluan (foreshocks) berkekuatan M 5,7, M 5,6, dan M 4,4. “Setelah itu terjadi gempa susulan (aftershocks). Hingga Rabu pukul 18.00 WIB terjadi 71 kali dengan kekuatan rata-rata M 3-M 4,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono.

Menurut Daryono, aktivitas gempa yang terjadi secara beruntun sebelum dan sesudah gempa utama semacam ini dalam ilmu gempa merupakan hal biasa. Hanya saja hal seperti ini jarang terjadi di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ambon secara tektonik sangat rawan gempa. Secara geologis, Ambon dan Pulau Seram dijepit dua sumber gempa utama. Dari utara wilayah ini didesak zona subduksi Seram yang aktif dan dari selatan terdapat struktur sesar yang dikenal sebagai South Seram Thrust,” katanya.

Struktur sesar ini sangat aktif karena terbentuk oleh efek adanya tumbukan lempeng dan hujaman balik sistem subduksi Seram sehingga wajar jika sumber gempa ini menyimpan medan tegangan kulit bumi yang dapat terlepaskan sebagai peristiwa gempa kuat. Indikator ini tampak dari seluruh gempa yang terjadi memiliki mekanisme sumber berupa sesar naik (thrust fault) yang berarah barat-timur.

Tingginya tingkat aktivitas kegempaan di Ambon, kata Daryono, bisa dilihat dari peta seismisitas dan catatan sejarah gempa merusak yang terjadi pada masa lalu. Catatan sejarah, gempa kuat Ambon terjadi pada 1674, 1899, 1950, 1980, dan 2001. Gempa pada 1674 ada pada catatan naturalis Georg Everhard Rumphius dalam bukunya, Amboina, tentang gempa dahsyat disusul tsunami dahsyat yang menghancurkan desa-desa di Pulau Ambon dan Seram. Gempa pada 1899 berkekuatan M 7,9 dan pada 1950 berkekuatan M 7,6.

Dampak kerusakan
Sekalipun kekuatannya tergolong kecil, gempa kali ini memicu banyak kerusakan. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bangunan yang rusak antara lain Bandara Pattimura, Kampus Unpattu Poka, Kantor Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Ambon, SDN 1 dan 3 Poka, SDN 2 Poka, serta pusat perbelanjaan Maluku City Mall.

Selain itu, kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, 31 rumah rusak. Rata-rata kerusakan pada dinding dan atap plafon yang rontok.

Ahli konstruksi bangunan tahan gempa yang juga anggota Dewan anggota Dewan Pengarah BNPB, Sarwidi, mengatakan, banyaknya bangunan publik yang rusak ini mencerminkan buruknya kualitas bangunan. “Berdasarkan kekuatan gempanya, seharusnya tidak menimbulkan kerusakan jika konstruksinya benar,” katanya.

Gempa juga memicu kepanikan warga. Apalagi seusai gempa utama muncul isu bahwa Ambon akan dilanda tsunami. Di sejumlah tempat terdengar teriakan aer nae (air naik atau tsunami). Warga yang tinggal di pesisir pantai berlari mencari perbukitan. Seorang warga, Erma Suitela (61), meninggal akibat terjatuh saat berlari hendak menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.

Kemarin, pukul 12.39, gempa berkekuatan M 4,9 mengguncang wilayah Garut selatan dan Pangandaran. Belum ada laporan kerusakan akibat gempa yang berpusat di laut selatan Jawa tersebut. (AIK/FRN/TAM)

Sumber: Kompas, 2 November 2017

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 37 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB