Home / Sosok / Alwy Herfian, Inovator dari Sleman

Alwy Herfian, Inovator dari Sleman

Alwy Herfian Satriatama memang baru berusia 26 tahun. Namun, pemuda asal Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini sudah menjadi pemimpin dari delapan perusahaan rintisan berbasis teknologi.

Di usia yang masih muda, Alwy Herfian Satriatama (26) memimpin dalam usaha rintisan di bidang teknologi. Pemuda asal Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini terus mengembangkan sayap usahanya hingga bisa mengekspor produknya ke berbagai negara.

Karier Alwy dalam dunia wirausaha dirintis sejak berkuliah di Universitas Gadjah Mada, mulai tahun 2013. Selama kuliah, ia bergabung dengan organisasi pengembangan kewirausahaan mahasiswa, yakni UGM Innovative Academy. Di sana ia mendirikan sebuah perusahaan rintisan bernama Majapahit Tech.

”Saya mulai dengan modal Rp 300.000. Diputar-putar terus sampai akhirnya menjadi semakin besar,” kata Alwy saat ditemui di Kantor Widya Robotics, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (29/4/2021).

Salah satu produk yang membuat nama Majapahit Tech banyak dikenal publik, yaitu Gupala. Produk tersebut berupa sistem pengamanan sepeda motor. Lewat sistem itu, pemilik sepeda motor harus memasukkan sejumlah kode sebelum menyalakan sepeda motornya. Jika tidak, bakal ada alarm yang berbunyi. Ide awal inovasi bermula dari salah seorang teman kuliahnya yang kehilangan motor.

Selanjutnya, Alwy mengembangkan lagi produk lainnya bernama Kebon. Kebon merupakan instalasi penyiraman kebun otomatis. Penyiraman kebun cukup dilakukan dengan mengirim pesan singkat atau SMS dari ponsel pemilik kebun.

Inovasi teknologi yang diproduksi Alwy mengantarkannya kepada sejumlah penghargaan. Pada 2018, ia berhasil menyabet dua penghargaan lomba kewirausahaan, yakni Juara Pertama Wirausaha Mandiri Muda Indonesia dan Juara Kedua Samsung Global Start Up Acceleration Program.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO—Alwy Herfian Satriatama, CEO Widya Robotics, merinti usaha rintisan bidang teknologi sejak masih duduk di bangku kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

”Setelah itu, ada investor yang tertarik berinvestasi. Mereka dari UMG Idea Lab, perusahaan capital venture yang berbasis di Asia Tenggara,” kata Alwy.

Investasi yang datang bersamaan dengan mentasnya Alwy dari bangku perkuliahan. Bisnisnya terus dikembangkan. Dari semula personel timnya hanya berjumlah empat orang bertambah menjadi 19 orang. Personel tambahan diperoleh dengan merekrut para lulusan baru dari kampusnya.

Lalu, kantornya pun berpindah. Awalnya Alwy memanfaatkan ruangan berukuran 3 meter x 4 meter milik UGM Innovative Academy. Setelah memperoleh investasi, Alwy menyewa kontrakan tujuh kamar di Pogung, Kabupaten Sleman, DIY. Dengan kepindahan itu, Majapahit Tech juga berganti nama menjadi Widya Robotics pada awal 2019. Nama tersebut bertahan hingga saat ini.

Lewat Widya Robotics, Alwy menghasilkan produk-produk yang berfokus pada bidang kecerdasan buatan, robotik, dan automasi. Dalam kurun waktu dua tahun, Widya Robotics membentuk tujuh ”perusahaan saudara” (sister company).

”Kami lakukan spin off untuk setiap produk yang dihasilkan sehingga menjadi perusahaan baru. Harapannya, agar pruduk dapat dikembangkan secara lebih fokus,” kata Alwy.

Salah satu produk yang paling menarik perhatian bernama ”Widya Load Scanner”. Produk tersebut berupa alat pengukur muatan truk berbasis kecerdasan buatan. Beban muatan truk diketahui lewat pemindaian menggunakan light detection and ranging (LIDAR). Sejak diluncurkan pada 2020, alat tersebut sudah terpasang lima unit di tiga lokasi berbeda, yakni di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Myanmar.

”Sudah ada yang pesan lagi. Hanya kami produksinya butuh waktu. Jadi seperti inden begitu. Sekarang yang sedang inden dari Myanmar,” kata Alwy.

Alwy menceritakan, alat itu dibuat berdasarkan permasalahan yang kerap ditemui di lapangan. Dalam sebuah proyek konstruksi, potensi kecurangan muncul dalam penghitungan muatan truk pengangkut material. Penghitungan volume hanya dilakukan secara manual. Waktu yang dibutuhkan pun mencapai 10 menit dalam satu kali penghitungan.

Dengan alat tersebut, satu truk hanya butuh waktu dua menit untuk dihitung muatannya. Potensi kecurangan juga dihindari karena penghitungan dilakukan menggunakan mesin.

”Di luar negeri, alat ini sudah cukup masif. Tetapi, di Indonesia memang belum. Masalahnya harga alat ini mahal. Bisa lebih dari Rp 1 miliar. Yang kami bikin harganya hanya Rp 500 juta. Peluangnya masih sangat besar,” kata Alwy.

KOMPAS/ FERGANATA INDRA RIATMOKO—Alwy Herfian Satriatama mendirikan Majapahitech saat masih kuliah di UGM. Usahanya semakin berkembang ketika mendapat investor dan berubah nama menjadi Widya Robotics.

Produk lainnya berupa QHSE (Quality, Health, Safe, and Environment) Recognition dan vending machine nitrogen. QHSE Recognition digunakan untuk mendeteksi kelengkapan pakaian seorang pekerja sesuai dengan standar keamanan di lingkungan proyek. Alat tersebut sudah digunakan di tiga BUMN dalam bidang konstruksi.

Sementara itu, vending machine nitrogen adalah alat pengisi nitrogen pada ban secara otomatis. Tidak perlu ada operator pengisi ban. Pembayaran juga dilakukan secara mandiri lewat mesin tersebut menggunakan uang elektronik.

”Saat ini (vending machine) sudah ada 23 titik. Ini akan bertambah jadi 38 titik. Itu ada di tol, rest area, dan SPBU di beberapa daerah,” kata Alwy.

Respons orangtua
Semula Alwy tidak sepenuhnya mendapat dukungan orangtuanya begitu memulai berwirausaha. Sebab, ada pengalaman dari saudara-saudaranya yang tidak berhasil menyelesaikan kuliahnya karena berbisnis sambil kuliah.

”Akhirnya, saya bikin perjanjian dengan orangtua. Saya ingin buktikan kalau saya bisa lulus tepat waktu. Lalu, kalau IPK di bawah 3,5, saya akan stop organisasi dan bisnis,” kata Alwy.

Alwy pun membuktikan dengan lulus dalam waktu empat tahun dari Jurusan Elektronika dan Instrumentasi Fakultas MIPA UGM. Selama delapan semester, nilainya selalu di atas 3,5.

Restu orangtua baru diperoleh Alwy setelah lulus kuliah. Sebab, begitu lulus kuliah, pada 2018, Kantor Staf Presiden juga mengirimnya ke Jerman untuk mengamati kemajuan teknologi negara tersebut.

”Sebelum itu, saya belum pernah ke luar negeri. Setelah dapat pengakuan tersebut, pandangan ibu saya terbuka. Waktu itu saya dinilai berprestasi di bidang kewirausahaan teknologi,” kata Alwy.

Restu ibu membuat jalan Alwi dalam berwirausaha semakin lapang. Perjalanan luar negeri semakin sering ditempuhnya. Bisnis usahanya pun dilirik investor hingga berkembang seperti sekarang. Jumlah orang yang dipekerjakannya mencapai 250 orang dari awalnya hanya empat orang.

Sumber daya manusia masih menjadi tantangan yang dihadapi Alwy. Banyak lulusan-lulusan hebat sudah diambil lebih dulu oleh perusahaan yang lebih besar. Namun, ia tak kecil hati sembari terus mengembangkan perusahaannya agar kian diakui publik.

Kini, Alwy bercita-cita agar Widya Robotics berkembang semakin besar. Ia ingin membesarkan nama Indonesia dalam kancah industri teknologi. Diharapkan perusahaan rintisannya itu menjadi yang terbesar di Asia.

”Kami ingin berjaya di Asia. Jadi salah satu perusahaan acuan di Asia. Mungkin, awalnya dari Indonesia, setelah itu Asia Tenggara, selanjutnya di Asia. Sebab, kami sudah punya klien di Myanmar dan Korea (Selatan),” kata Alwy.

Alwy Herfian Satriatama

Lahir: Gunungkidul, Yogyakarta, 23 September 1994

Riwayat Pendidikan:
2019 – Massachusetts Institute of Technology (Deep Technology Bootcamp)
2014-2018 – Elektronika dan Instrumentasi, Universitas Gadjah Mada
2013- 2014 – Teknik Industri, Universitas Gadjah Mada

Prestasi:
Juara Pertama Wirausaha Muda Mandiri Indonesia 2018
Peringkat Kedua Samsung Global – Startup Acceleration Program 2018
Juara Pertama – Invention Tradition Indonesia 2017
Juara Pertama Teras Usaha Mahasiswa Indonesia 2016
Peraih Medali Emas Pimnas 2016

Oleh NINO CITRA ANUGRAHANTO

Editor: MARIA SUSY BERINDRA

Sumber: Kompas, 8 Mei 2021

Share
%d blogger menyukai ini: