Emtek Group Berinvestasi di Bukalapak
Perusahaan perdagangan dalam jaringan lokal berharap agar investor lokal mau mendorong pertumbuhan bisnis daring Indonesia. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah menanamkan modal dan insentif pengembangan teknologi. Dengan begitu, sektor bisnis daring Indonesia akan kuat.
Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) Budi Gandasoebrata mengatakan hal tersebut kepada Kompas, Rabu (4/2), di Jakarta.
Namun, ia memberikan catatan pada investor lokal, karakteristik bisnis daring di Indonesia dan negara lain di dunia memiliki perbedaan signifikan. Meski pengguna internet aktif diperkirakan lebih dari 200 juta tahun 2020, bisnis daring di Indonesia masih menghadapi tantangan baik dari kesediaan jaringan internet cepat, produk, sistem pembayaran, maupun logistik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
”Bisnis daring di Indonesia masih konservatif. Ini berbeda dengan yang terjadi di Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang. Ketiga negara tersebut sudah ’ramah’ terhadap pengembangan bisnis daring,” ujar Budi.
Pasar perdagangan daring di Amerika Serikat, misalnya, kata Budi, prasarana teknis internet, pembayaran, dan logistik sudah maju. Kondisi tersebut mampu membuat investasi cepat terealisasi dan keuntungan bisa segera cepat diperoleh.
”Pasar perdagangan dalam jaringan di Indonesia memiliki potensi besar dalam tahun-tahun mendatang. Bisnis ini, sekarang, masih berada dalam kondisi pembangunan. Beranikah investor lokal menjawab tantangan- tantangan itu?” ujar Budi.
Hal senada dikatakan Managing Director JNE, Johari Zein. Proporsi pengguna internet yang aktif berbelanja daring masih terpusat di Jawa. Padahal, masyarakat di kawasan Indonesia timur dan daerah lainnya memiliki potensi besar untuk membeli barang secara daring. Namun, mereka kesulitan akses internet.
Menurut riset UBS (2014), ”ASEAN eCommerce: Is ASEAN at an inflection point for eCommerce”, konsumen belanja daring di Sulawesi Selatan mencapai 53 persen, Sulawesi Tenggara 53 persen, Sulawesi Utara 53 persen, Sulawesi Tengah 53 persen, Nusa Tenggara Timur 47 persen, Papua 30 persen, dan Kalimantan Selatan 53 persen.
”Kami menargetkan perolehan pendapatan mencapai Rp 3,9 triliun tahun 2015. Nilai ini diharapkan bisa diperoleh dari perdagangan daring. Produk yang bisa dijual tidak terbatas asalkan sistem pembayaran dan logistik bagus,” kata Johari.
Bukalapak.com
Pada hari yang sama, PT Kreatif Media Karya (KMK Online), anak perusahaan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek) Group, menginvestasikan dana seri B ke Bukalapak.com. Emtek Group adalah perusahaan yang bergerak di bidang media, konten, dan teknologi. Bisnis Emtek Group yang cukup terkenal adalah televisi nasional reguler, SCTV dan Indosiar.
Pendiri sekaligus Chief Executif Officer (CEO) Bukalapak.com Achmad Zaky mengatakan, nilai investasi yang diterima berjumlah ratusan miliar. Investasi tersebut akan digunakan oleh Bukalapak.com untuk pengembangan bisnis dan membina pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang sudah ataupun akan bergabung.
”Saya senang perusahaan lokal mau mendukung bisnis daring lokal. Impian Bukalapak.com adalah mengembangkan para UKM Indonesia mandiri dan berdaya saing global perlahan terwujud,” ucap Achmad.
Menurut dia, mencari investor yang mau menanamkan modal sangat sulit. Bisnis daring itu membutuhkan proses jangka panjang untuk bertumbuh.
CEO Emtek Group Sutanto Hartono menyampaikan, investasi itu sesuai dengan visi-misi untuk membangun laman pemasaran lokal terdepan. (MED/ELD)
Sumber: Kompas, 5 Februari 2015
Posted from WordPress for Android