Home / Berita / Berjualan Lele di Ponsel dan Internet

Berjualan Lele di Ponsel dan Internet

Berjualan daging ikan lele sudah dilakoni Nurul Wachdiyyah sejak 15 bulan terakhir. Dia mengirimkan fillet ikan yang sudah dibekukan ke Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Bermodalkan jaringan internet, Nurul mengolah bisnis beromzet Rp 10 juta per bulan itu.


Sampai kini, bisnis bernama Fish Express itu tidak memiliki toko atau kantor. Semua komunikasi dengan konsumen dilakukan Nurul dari layar sentuh telepon seluler (ponsel) pintarnya. Nurul memanfaatkan media sosial dan blog untuk memperkenalkan produk dan usahanya, termasuk melayani konsumen yang memesan. Dua tetangganya di Kabupaten Bandung dan beberapa orang direkrut menjadi agen di Tangerang, Bekasi, dan Sidoarjo.

”Internet bagus pisan buat promosi dan pemasaran. Semua orang sepertinya memakai smartphone (ponsel pintar). Pasar utama fillet ikan saya selalu terhubung dengan media sosial,” kata Nurul.

Dari Desa Kecomberan, Kecamatan Talun, Cirebon, Jawa Barat, Sri Nurul Hidayah menggerakkan usaha kerajinan Kameha Shop yang dijual secara daring. Dia merekrut sedikitnya 10 orang untuk membuat tas buat suvenir acara. Rata-rata dalam sebulan, Sri Nurul memproduksi 5.000 tas. ”Saya bersyukur karena ada internet yang memudahkan pelanggan melihat barang kami,” ujar Sri Nurul yang serius menekuni usahanya sejak tahun 2009. Sri Nurul juga terbantu setelah bergabung ke toko daring seperti Tokopedia.

Besarnya pengaruh dunia maya juga dirasakan pengelola pakaian perempuan bermerek ThisIsApril. Sejak 2012, usaha ini dirintis dengan memanfaatkan aneka media sosial, seperti Instagram, Facebook, Twitter, hingga Blackberry Messenger.

”Kami juga punya toko offline. Namun, penjualan secara online yang kencang,” kata Jasmine, Marketing Communication ThisIsApril.

Sebagian besar pembeli produk lokal ini berusia 15-40 tahun. Harga baju yang dijual Rp 149.000-Rp 269.000 sehingga relatif terjangkau untuk pekerja awal. Setelah sukses di media sosial, penjualan ThisIsApril dikembangkan dengan membuat situs. Belakangan, merek ini juga masuk dalam katalog situs belanja Zalora.

Lokal dan internasional
Pemilik situs bisnis daring juga melihat potensi produk lokal yang tidak kalah dibandingkan dengan merek internasional. Ferry Tenka, CEO Bilna, mengatakan, ada 10-15 persen produk lokal yang dititipkan di Bilna.

Situs ini khusus menjual produk anak dan keluarga. Produk lokal, seperti tas popok, tas anak, dan pakaian, ini diminati pembeli sebab harganya lebih murah dibandingkan dengan harga produk impor. ”Sayangnya, sering kali produsen lokal tak bisa memenuhi volume pemesanan yang agresif,” katanya.

Kesiapan produksi dalam negeri perlu ditingkatkan untuk menghadapi peningkatan pembeli seperti saat Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) sepanjang Jumat (12/12). Ada 78 situs belanja daring dan puluhan komunitas daring berpartisipasi dalam Harbolnas.

Ferry mengatakan, peningkatan pengunjung Bilna saat Harbolnas sampai tujuh kali dibandingkan dengan hari biasa. Salah satu penggagas Harbolnas, Rizki Suluh Adi, mengatakan, Harbolnas merupakan gerakan untuk mendukung industri digital. Bukan hanya untuk situs bisnis daring, melainkan juga jasa pengiriman, jasa pembayaran, serta media sosial.

”Harbolnas ini meningkatkan transaksi minimal dua kali daripada transaksi di hari biasa. Tahun lalu, ada satu situs belanja mendapatkan pesanan sampai 2.000 per jam,” tuturnya.

Meskipun demikian, pangsa pasar di bisnis daring ini baru mencakup 1 persen dari keseluruhan pasar ritel di Indonesia. ”Peluang bisnis online masih sangat besar,” ujar Rizki.

Pasar gemuk
Geliat bisnis daring merupakan buah penetrasi internet di Indonesia. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia terus meningkat dari 63 juta pada tahun 2012 menjadi 71,9 juta pada tahun 2013, dan tahun 2014 diperkirakan mencapai 82 juta.

Indonesia disebut sebagai negara dengan populasi pengguna Facebook yang besar, 70 juta orang dan 44 juta di antaranya mengakses dari gawai.

Beberapa model bisnis perdagangan elektronik yang marak di Indonesia adalah eceran dan iklan baris. Model ini kerap disebut mal daring. Beberapa contoh seperti Lazada dan Elevenia memiliki barang hingga stok tertentu dan menjualnya kepada konsumen. Sementara Tokopedia, Berniaga, dan Jualo bertindak sebagai perantara dari pengguna yang ingin menjual barang ke pengguna lain.

Pertumbuhan bisnis daring tak lepas dari makin murahnya harga ponsel pintar. APJII mencatat, pengguna ponsel pintar tumbuh dari 63 juta jiwa pada tahun 2012 menjadi 71,19 juta jiwa tahun 2013, mewakili 28 persen populasi. Tahun 2015, pengguna ponsel pintar diperkirakan mencapai 139 juta jiwa.

Infografis yang dirilis Adways Indonesia menyatakan, pertumbuhan pengguna perdagangan elektronik menjadi 27 juta orang pada 2014, padahal tahun 2013 masih 20 juta. Nilai bisnis pun meningkat dari 8 miliar dollar AS ke 12 miliar dollar AS.

Pada bulan Oktober misalnya, Tokopedia mendapatkan pendanaan tambahan Rp 1,2 triliun dari Softbank dan Sequoia Capital. Dana tersebut digunakan untuk ekspansi pasar serta mempersiapkan Tokopedia dalam merambah lini usaha baru.

Telkom juga serius menggarap bidang ini. Melalui anak perusahaan PT Multimedia Nusantara (Metra), Telkom meluncurkan situs blanja.com dengan skema bisnis antarkonsumen, seperti Tokopedia. Metra bekerja sama dengan perusahaan raksasa AS, eBay, yang saat ini memiliki saham 40 persen.

Pelaksana Tugas Direktur Utama Telkom Indra Utoyo mengatakan, kerja sama tersebut bertujuan sebagai transfer teknologi untuk belajar mengenai sistem perdagangan elektronik yang sudah mapan.

Oleh: Didit Putra Erlangga R/Agnes Rita Sulistyawaty

Sumber: Kompas, 13 Desember 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: