75.000 Orang Wuhan Diperkirakan Telah Terinfeksi Korona

- Editor

Selasa, 4 Februari 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Laju epidemi global virus korona baru tak terkendali. Lebih dari 75.000 orang diperkirakan telah terinfeksi virus korona di Wuhan pada 25 Januari 2020.

Lebih dari 75.000 orang diperkirakan telah terinfeksi virus korona di Wuhan pada 25 Januari 2020, yang merupakan titik nol dari darurat kesehatan global. Jumlah kasus ini sepuluh kali lipat dari angka yang terkonfirmasi. Dengan tingginya orang di Wuhan yang diduga terinfeksi, virus baru korona ini bisa menjadi pandemi yang sulit dihentikan.

Perhitungan matematis oleh tim ilmuwan dari University of Hong Kong yang dilaporkan dalam jurnal internasional The Lancet pada 31 Januari 202 ini lebih banyak 10 kali lipat dari angka resmi yang terkonfirmasi. ”Kami memperkirakan 75.815 orang telah terinfeksi di Wuhan pada 25 Januari 2020,” sebut Gabriel Leung, yang memimpin studi ini dalam pernyataan tertulis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KOMPAS/PRIYOMBODO–Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto secara simbolis menyematkan hand badge kepada personel tim evakuasi untuk menjemput warga negara Indonesia dari Wuhan, China, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (1/2/2020). Sebanyak 250 WNI di Wuhan dievakuasi karena merebaknya virus korona baru. WNI yang dievakuasi dari Wuhan bersama tim evakuasi, termasuk kru pesawat, lebih dulu diisolasi untuk diobservasi kesehatannya di pangkalan militer di Natuna, Kepulauan Riau.

Pada akhir 31 Januari tersebut, Pemerintah China mengonfirmasi jumlah kasus infeksi mencapai 9.700 penderita dan 213 kematian. Untuk Provinsi Hubei, termasuk Wuhan, kota di China tengah yang berpenduduk 11 juta jiwa, angka resminya hampir 6.000 kasus yang dikonfirmasi dan lebih dari 200 kematian.

Pada Senin (3/2/2020) pagi, kasus infeksi di China telah mencapai 16.884 dan 361 kematian. Secara global, virus korona baru atau 2019-nCoV ini telah menginfeksi 17.065 orang di 27 negara dengan korban meninggal dunia 362 orang. Satu-satunya korban jiwa di luar China dilaporkan di Filipina.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Kamis lalu menyatakan wabah itu sebagai darurat kesehatan global, tetapi tidak merekomendasikan pembatasan perdagangan internasional atau perjalanan. ”Perbedaan yang tampak antara perkiraan model kami tentang infeksi 2019-nCoV dan jumlah aktual kasus yang dikonfirmasi di Wuhan bisa disebabkan beberapa faktor,” kata Leung.

Faktor tersebut meliputi antara lain jeda waktu antara infeksi dan timbulnya gejala, keterlambatan orang yang terinfeksi mendapat perawatan medis, serta waktu untuk mengonfirmasi kasus dengan tes laboratorium. ”Semua dapat memengaruhi pencatatan dan pelaporan secara keseluruhan,” katanya.

Epidemi berlipat ganda
Studi ini menemukan bahwa setiap orang yang terinfeksi virus, yang muncul pada Desember 2019, dapat menginfeksi rata-rata dua hingga tiga orang, dan bahwa epidemi berlipat ganda setiap 6,4 hari.

Jika virus itu menyebar secepatnya dalam skala nasional, menurut Joseph Wu, profesor di Universitas Hong Kong yang terlibat kajian ini, ”Ada kemungkinan epidemi bisa meningkat di beberapa kota besar di China, dengan jeda waktu satu hingga dua minggu setelah wabah di Wuhan.”

Wu menambahkan, ”Kota-kota besar di luar negeri dengan jaringan transportasi yang dekat ke China berpotensi juga menjadi pusat wabah.”

Riset sebelumnya oleh Qun Li dari Chinese Center for Disease Control and Prevention dan tim yang diterbitkan di The New England Journal of Medicine pada 29 Januari 2020 juga menunjukkan, 2019-nCoV telah menular dari manusia ke manusia dua minggu lebih awal sebelum virus ini pertama kali diidentifikasi.

Di laporan itu disebutkan, virus korona baru ini awalnya diidentifikasi pada 29 Desember 2019 di kota Wuhan, tetapi pada pertengahan Desember 2019 virus ini telah menular dari orang ke orang. Itu berarti orang yang terinfeksi awal oleh binatang dari Pasar Wuhan bisa jauh lebih awal.

Jika kajian-kajian para ilmuwan ini akurat, itu berarti tingkat kematian virus 2019-nCoV secara signifikan lebih rendah daripada angka-angka awal, yaitu jauh di bawah 1 persen. Namun, hal ini masih dapat menghasilkan sejumlah besar kematian jika virus menyebar luas.

Sebagai perbandingan, influenza musiman, misalnya, menurut WHO telah membunuh 290.000-650.000 orang per tahun, Di Amerika Serikat, menurut data Pusat Pengendalian Penyakit (Center for Disease Control/CD) Amerika Serikat, angka kematian di antara orang yang terinfeksi influenza mencapai 0,13 persen.

Perlu dicatat, 2019-nCoV adalah bagian dari keluarga coronavirus, yang merupakan sumber dari dua epidemi mematikan sebelumnya. Dua epidemi itu adalah wabah sindrom pernapasan akut parah atau SARS 2002-2003 yang dimulai di Provinsi Guangdong dan menewaskan 774 orang dari total 8.096 yang terinfeksi.

Berikutnya adalah wabah sindrom pernapasan timur tengah atau MERS pada 2012 menewaskan 858 orang dari 2.494 yang terinfeksi. Tingkat kematian masing-masing untuk pasien SARS dan MERS adalah 9,5 persen dan 34,5 persen, jauh lebih tinggi daripada untuk virus korona baru.

Pantau wabah
Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Kementerian Riset dan Teknologi Amien Soebandrio, di Jakarta, mengatakan, rendahnya tingkat kematian akibat infeksi korona baru ini menggembirakan. Namun, hal itu juga menjadi tantangan besar untuk membatasi penularan. ”Karena gejalanya ringan, bahkan sebagian orang yang terinfeksi tanpa gejala, maka penderita bisa bepergian jauh, bahkan ke luar negeri dan menularkan virus ini tanpa diketahui,” katanya.

Dengan kondisi ini, sejumlah negara kini menutup sementara penerbangan dari dan ke China, termasuk Indonesia. Negara-negara lain yang juga menutup lebih dulu penerbangannya ke China adalah Amerika Serikat, Singapura, Jepang, Italia, Mongol, Australia, dan Vietnam. Negara-negara ini juga untuk sementara tidak lagi menerima kunjungan warga negara lain yang sebelumnya berada di China dalam waktu 14 hari terakhir.

Meski demikian, lanjut Amin, penutupan penerbangan dari China saat ini kemungkinan tidak efektif lagi karena virus korona ini telah menyebar ke banyak negara lain. ”Memperketat pintu masuk hanya salah satu cara. Hal lain yang lebih penting adalah memeriksa secara intensif orang-orang yang memiliki kontak dengan negara yang terinfeksi,” ungkapnya.

Dia juga menyarankan agar pemerintah mengintensifkan pantauan tentang kemungkinan terjadinya wabah, yaitu jika ada gejala peningkatan gejala radang di dalam satu kelompok masyarakat. ”Sampai saat ini belum ada dan semoga memang tidak ada,” kata Amin.

Di tengah meluasnya infeksi di luar negeri, terutama di negara-negara yang menjadi tujuan utama perjalanan orang dari Wuhan, hingga saat ini Indonesia belum mengonfirmasi adanya kasus positif. Belum adanya konfirmasi infeksi di Indonesia telah menjadi tanda tanya tentang kemampuan deteksi dini kita.

Oleh AHMAD ARIF

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 3 Februari 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 0 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB