Home / Berita / 66 Tahun PDHI, Dari Drh RA Copiters ke Drh JA Kaligis

66 Tahun PDHI, Dari Drh RA Copiters ke Drh JA Kaligis

Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) berusia 66 tahun pada tanggal 9 Januari 2019. Namun embrio dari PDHI ini telah dirintis 69 tahun sebelumnya tahun 1884 pada zaman Hindia Belanda. Anggotanya dokter hewan Belanda, belum ada dokter hewan pribumi. Penduduk pribumi yang menjadi dokter hewan pertama adalah Drh JA Kaligis yang lulus dari Sekolah Dokter Hewan Pribumi di Bogor tahun 1910.

Dalam buku “100 Tahun Dokter Hewan Indonesia” (Penerbit Hemerazoa, 2010) diceritakan bahwa tahun 1820 Pemerintah Hindia Belanda mendatangkan seorang dokter hewan asal Belanda bernama RA Copiters. Dia tercatat sebagai dokter hewan yang pertama ada di Hindia Belanda. Tugas Copiters adalah menangani masalah kesehatan hewan dan pelaksanaan program seleksi dan kastrasi atau kebiri hewan.

Beberapa wabah penyakit hewan terjadi di Hindia Belana pada abad ke-19 itu, di antaranya pes pada sapi tahun 1875, penyakit ngorok dan radang limpa pada sapi tahun 1884.

ALBERTUS SUBUR TJAHJONO–Sumber: 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia (Penerbit Hemerazoa, 2010)

Para dokter hewan Belanda di Hindia Belanda itu membentuk Perhimpunan Dokter Hewan Hindia Belanda bernama Nederlandsch Indische voor Diergeneeskunde itu tahun 1884. Tahun 1888, organisasi ini sudah menerbitkan majalah bernama Nederlandsch Blaaden voor Diergeneeskunde yang terbit dua kali sebulan.

Mengingat masalah penyakit menular hewan di Hindia Belanda makin mengkhawatirkan, tahun 1892, anggota Parlemen Belanda bernama Kuneman mengusulkan mencetak dokter hewan pribumi (inlandsche veeartsen) yang mendapat pendidikan seperti Sekolah Kedokteran untuk Orang Pribumi atau Aspirant Inlandsche Geneeskundigen.

Sekolah Dokter Hewan Pribumi atau Indische Veeartsen School itu baru terbentuk 16 tahun kemudian, tahun 1907. Alumnus pertama sekolah tersebut adalah Drh JA Kaligis tahun 1910, disusul Drh R Noto Soediro dan Drh R Soetedjo tahun 1911. Tahun 1914 sekolah tersebut menjadi Nederlandsch Indische Veeartsen School.

ALBERTUS SUBUR TJAHJONO–Suasana Kongres I PDHI (sumber: 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia, Penerbit Hemerazoa, 2010).

Para dokter hewan pribumi ini tidak kalah prestasinya dengan dokter hewan Belanda dan berhimpun dalam organisasi yang sama. Setelah kemerdekaan, nama perhimpunan masih dalam Bahasa Belanda yaitu Vereeniging voor Huisdier Wetenschap in Indonesie atau Perhimpunan Ilmu Kehewanan di Indonesia yang diketuai Drh R Soetrisno D Poesponegoro.

Tahun 1950-an, Bahasa Indonesia mulai digunakan lebih luas. Dalam rapat anggota Perhimpunan Ilmu Kehewanan di Indonesia 19 Desember 1950 diputuskan agar kedudukan dan susunan perhimpunan disesuaikan dengan perubahan zaman.

Susunan pengurus sementara Perhimpunan Ilmu Kehewanan di Indonesia ditetapkan panitia ad hoc di Jakarta 4 Maret 1952 setelah melalui angket atau referendum seluruh anggota perhimpunan.

Perhimpunan Ilmu Kehewanan di Indonesia menggelar rapat umum di Lembang, Bandung, 8 – 10 Januari 1953. Rapat umum itu melahirkan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) 9 Januari 1953.

“Atas dasar itu maka tanggal 9 Januari dijadikan hari lahir PDHI dan Rapat Umum Perhimpunan Ilmu Kehewanan di Indonesia ditetapkan sebagai Kongres I Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia,” tulis tim penyusun Buku “100 Tahun Dokter Hewan Indonesia” itu. Ketua terpilih dalam Kongres I PDHI adalah Drh R Hoetamadi.

ALBERTUS SUBUR TJAHJONO–Sumber: 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia (Penerbit Hemerazoa, 2010)

Terakhir, PDHI menggelar Kongres ke-18 pada 1-3 November 2018 di Bali. Terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar PDHI periode 2018 – 2022 Drh Muhammad Munawaroh, seorang pengusaha dan konsultan klinik hewan.

“Dengan usia yang sudah cukup matang, PDHI masih memiliki pekerjaan rumah yang masih perlu dipikirkan. Salah satunya mewujudkan Lembaga Otoritas Veteriner yang Peraturan Pemerintah-nya sudah terbit sejak tahun 2017. Otoritas Veteriner merupakan lembaga yang akan memberikan naungan para dokter hewan yang melaksanakan kegiatan kesehatan hewan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” kata Munawaroh, di Jakarta, Rabu (9/1/2019).

DOK DINAS PERTANIAN DAN PERIKANAN KOTA BEKASI–PDHI Jabar V menggelar bakti sosial di Kota Bekasi, Rabu (9/1/2019).

Berbagai kegiatan digelar untuk memperingati 66 tahun PDHI, salah satunya kegiatan bakti sosial yang digelar PDHI Cabang Jawa Barat V di Kota Bekasi. Mereka bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Bekasi.

Kegiatan meliputi vaksinasi rabies, pelayanan pemeriksaan, dan pengobatan hewan, yang diikuti pemilik hewan. Selain itu diadakan pendaftaran sterilisasi kucing gratis yang akan diadakan dalam waktu dekat.

“Pemilik hewan sangat antusias dan kegiatan ini mereka mengharapkan secara rutin dilakukan apalagi kalau bisa dekat ke rumah mereka. Pemerintah kecamatan dan kelurahan setempat sangat responsif dan bantuan dari staf kelurahan sangant membantu. PDHI sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kota Bekasi, terutama Dinas Pertanian dan Perikanan dalam terselenggaranya kegiatan ini,” tutur Drh Jack Ruben Simatupang, Wakil Ketua PDHI Jabar V.

Dirgahayu PDHI ke-66. “Manusya Mriga Satwa Sewaka” adalah motto PDHI yang berarti “Mengabdi Kemanusiaan Melalui Dunia Hewan”.

Oleh: SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 9 Januari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: