Indonesia Umumkan Wabah Demam Babi Afrika

- Editor

Kamis, 19 Desember 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah Indonesia melaporkan wabah demam babi afrika di 16 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara ke Organisasi Kesehatan Hewan Dunia.

Pemerintah Indonesia melaporkan wabah demam babi afrika di 16 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara. Laporan wabah demam babi afrika tersebut dimuat dalam situs web Organisasi Kesehatan Hewan Dunia, 17 Desember 2019.

DOKUMENTASI PDHI–Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia drh Muhammad Munawaroh berdialog dengan para peternak babi di Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Senin (16/12/2019).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Informasi laporan wabah tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) drh Muhammad Munawaroh kepada Kompas di Jakarta, Rabu (18/12/2019).

”Menurut situs web OIE (Office International Des Epizooties, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia), Indonesia telah melaporkan ASF (african swine fever, demam babi afrika) tanggal 17 Desember 2019 dan telah diumumkan OIE pada tanggal yang sama,” tutur Munawaroh.

Menurut dia, Indonesia sudah menjadi anggota OIE sehingga wajib melaporkan kejadian penyakit baru jika ditemukan di negara Indonesia.

Munawaroh juga menerima salinan Surat Keputusan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo Nomor 820/KPTS/PK.320/M/12/2019 tentang pernyataan wabah demam babi afrika di beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara. Surat keputusan tersebut ditandatangani 12 Desember 2019.

Dalam surat itu disebutkan 16 kabupaten/kota yang terjadi wabah ASF. Ke-16 kabupaten/kota itu adalah Kabupaten Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Karo, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun, Pakpak Bharat, Langkat, Kota Tebing Tinggi, Kota Pematang Siantar, dan Kota Medan.

Dalam situs web OIE (https://www.oie.int/wahis_2/public/wahid.php/Reviewreport/Review?page_refer=MapFullEventReport&reportid=32482) tertulis, laporan Indonesia disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan drh I Ketut Diarmita tanggal 17 Desember 2019.

Dalam laporannya disebutkan ada 392 wabah di peternakan rakyat di 16 kabupaten/kota di Sumatera Utara (Sumut). Dalam laporan itu disebutkan ada 34 kabupaten/kota di Sumut. Yang benar terdapat 33 kabupaten/kota di Sumut.

Wabah pertama terjadi pada 4 September 2019 di Kabupaten Dairi dan dengan cepat menyebar ke 16 kabupaten lainnya. Konfirmasi ASF dilakukan pada 27 November 2019. Diagnosis penyakit ASF dilakukan Balai Veteriner Medan dengan uji PCR dan nekropsi atau bedah mayat. Penyebabnya adalah virus ASF. Sumber penularan disebutkan ”tidak dikenal dan tidak meyakinkan”.

”Sumber infeksi tidak dapat disimpulkan, tetapi penilaian risiko yang cepat menunjukkan bahwa pengangkutan babi hidup dari daerah lain dan terkontaminasi muntahan dari penanganan hewan, kendaraan, dan pakan ternak berperan dalam infeksi ini. Pembuangan babi mati, pembersihan, dan disinfeksi sedang dilaksanakan,” demikian komentar epidemiologis dalam laporan di situs web OIE tersebut.

KOMPAS/NIKSON SINAGA–Peternak menunjukkan ternak babinya yang diduga terjangkit demam babi afrika (ASF) di Desa Helvetia, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Senin (9/12/2019).

Berdasarkan Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan, terdapat 1.228.951 babi di Sumut. ASF menyebabkan kematian 28.136 babi. Tingkat kematian sebesar 2,29 persen. Tingkat fatalitas 100 persen.

Untuk mengontrol ASF, dalam laporannya Pemerintah Indonesia melakukan tindakan berupa kontrol di dalam negeri, surveilans, karantina, pembuangan resmi karkas, produk sampingan, dan limbah, zonasi, desinfeksi, vaksinasi jika ada vaksin, dan tidak ada perawatan hewan yang terkena dampak ASF.

Mantan penyidik penyakit hewan, drh Soeharsono, membenarkan Indonesia telah melaporkan secara resmi wabah ASF ke OIE. Menurut dia, laporan ini sangat penting bagi Indonesia untuk melakukan tindakan pengamanan, terutama wilayah yang belum tertular. Laporan ini juga diperlukan oleh Australia dan negara tetangga lain untuk lebih waspada.

”Pernyataan ini tidak berarti aib bagi Indonesia. ASF memang sulit dihindari ketika kita sudah dikepung. Memang ada keterlambatan empat bulan untuk melapor ke OIE. Semoga ini tidak terjadi jika ada wilayah lain yang tertular. Deklarasi ASF di tempat baru mengakibatkan lalu lintas babi hidup masuk dan keluar wilayah tertular ditutup. Ini mengurangi risiko penyebaran,” kata Soeharsono.

Oleh SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 18 Desember 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 1 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB