Home / Artikel / Apa Setelah Demam Babi Afrika, Covid-19, dan Flu Babi?

Apa Setelah Demam Babi Afrika, Covid-19, dan Flu Babi?

Selama belum ada vaksin ASF, penerapan biosecurity secara ketat perlu dilakukan agar ternak babi aman. Di Bali, sebagian kecil peternakan babi skala kecil mulai bangkit meskipun ancaman ASF belum lenyap.

China bagaikan sudah jatuh ditimpa tangga pula. Agustus 2018, untuk pertama kali China tertular penyakit paling ganas pada babi, demam babi Afrika. Diperkirakan 25 persen dari ratusan juta populasi babi mati sehingga pada April 2020 negara tersebut harus mengimpor 400.000 ton daging babi (Reuters).

Pada bulan Desember 2019 muncul wabah Covid-19, kemudian menjadi pandemi. Jumlah kasus hampir 18 juta, lebih dari 566.000 orang meninggal, tersebar di 213 negara atau wilayah (Worldometers, 8/7/2020).

Belum selesai dengan dua masalah di atas, baru-baru ini peneliti di China menemukan virus flu babi baru (G4 EA H1N1) yang menulari 10 persen peternak, dan disebut berpotensi menjadi pandemi (Proceedings of the National Academy of Sciences). Ini berarti virus flu babi telah menular dari babi ke orang.

Bagaimana kita melihat tiga penyakit ini ke depan?

ASF
Demam babi Afrika (ASF) menyebar dari Afrika ke China, melalui Eropa, Rusia, baru China. Penyakit ini tidak menular ke manusia.

Dari China, ASF menyebar ke Asia Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia. Sumatera Utara paling dulu tertular (September 2019), dikonfirmasi dengan PCR oleh Balai Besar Veteriner Medan, lalu diumumkan oleh Menteri Pertanian pada Desember 2019.

Kematian babi dalam jumlah banyak juga ditemukan di Bali (Desember 2019), daratan Timor (Februari 2020), Sumba (Maret 2020), dan Mentawai (Maret 2020).

Secara epidemiologis, klinis dan patologis, kematian babi ini sangat mirip dengan yang terjadi di Sumatera Utara, tetapi belum terdengar pernyataan resmi nama penyakitnya. Demikian juga kematian 878 babi di Palembang (Kompas, 4/7/2020).

Akibatnya, lalu lintas babi hidup dan bahan makanan mengandung babi masih terjadi. Hal ini berpotensi menyebarkan penyakit. Virus ASF mempunyai ketahanan tinggi terhadap proses penggaraman dan pengasapan sehingga sisa makanan dari hotel dan restoran dapat menularkan penyakit.

Karena belum ada vaksinnya, cara terbaik untuk menghindari penularan adalah biosecurity ketat, termasuk di dalamnya tidak memberikan sisa makanan. Salah satu peternakan besar di Pulau Bulan yang menerapkan biosecurity ketat dan menjadi pemasok babi ke Singapura masih bebas ASF sehingga ekspor tetap bisa berlangsung.

Di negara-negara maju, untuk membebaskan diri dari ASF, biasanya dilakukan melalui pemusnahan semua ternak babi dalam lokasi yang tertular. Tindakan ini bisa berhasil apabila penyakit dideteksi secara dini, pada lokasi yang sangat terbatas.

Pirbright Institute (Inggris) memublikasikan pembuatan vaksin ASF dengan teknologi vaksin sub-unit (vector), yang mampu memberikan perlindungan 100 persen (Jurnal Vaccines, Mei 2020). Temuan ini memberi harapan ASF bisa dikendalikan secara global.

Masih ada beberapa tahapan sebelum vaksin bisa dipasarkan. Selama belum ada vaksin ASF, penerapan biosecurity secara ketat perlu dilakukan agar ternak babi aman. Di Bali, sebagian kecil peternakan babi skala kecil mulai bangkit meskipun ancaman ASF belum lenyap. Cara mengawinkan dengan menyewa pejantan digantikan dengan artificial insemination (”kawin suntik”).

Covid-19
Covid-19 tidak banyak dibahas di sini karena setiap hari diberitakan perkembangannya di seluruh dunia. Bermacam cara dilakukan untuk memutus rantai penularan. Jaga jarak, rajin cuci tangan, dan memakai masker berhasil mengurangi laju penyebaran, tetapi belum dapat menghentikan.

Yang sangat ditunggu adalah vaksin. Calon vaksin dari China mulai diuji di Brasil (Kompas, 8/7/2020). Perlu dipelajari keamanan (safety) dan lamanya protective antibody (potency) dalam individu yang divaksin sebelum vaksin diproduksi secara massal.

Flu babi
Nama flu babi menunjukkan bahwa virus penyebabnya berasal dari babi. Pandemi flu babi (2009-2010) berawal dari Meksiko, menyebar ke banyak negara dengan jumlah kasus mencapai 1,4 juta, dengan 151.700-575.400 orang meninggal. Flu babi menyebar antar-orang lewat droplet.

Antara tahun 2011 dan 2018, dari 30.000 sampel swab hidung babi, peneliti China mengisolasi 179 virus flu. Dari isolat tersebut ditemukan strain baru, merupakan campuran virus flu Eropa dan Amerika, disebut G4 EA H1N1 yang berpotensi memicu pandemi. Dunia pun ramai atas temuan ini meskipun belum ada penularan antar-orang.

Anthony Fauci, Direktur National Institute of Allergy and Infectious Disease di Bethesda, berbicara di depan Senat Amerika, bahwa G4 EA H1N1 tidak merupakan ancaman dalam waktu dekat. Memang G4 mengindikasikan virus ini dapat menempel pada tipe cyalic acid yang melapisi saluran pernapasan manusia. Virus juga dapat tumbuh pada kultur sel manusia secara in vitro (dalam tabung).

Menanggapi temuan ahli di China tersebut, juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Christian Lindmeler mengingatkan, meskipun ada pandemi Covid-19, pengawasan terhadap dinamika virus flu babi tak boleh dilonggarkan.

Laboratorium kesehatan hewan di Indonesia telah mampu melakukan isolasi dan identifikasi flu babi, bahkan sampai sequencing DNA-nya. Diharapkan laboratorium ini ikut serta memonitor dinamika virus flu babi di peternakan.

Waspada perlu, tetapi tidak ikut panik.

Soeharsono, Mantan Penyidik Penyakit Hewan.

Sumber: Kompas, 17 Juli 2020

Share
x

Check Also

Data Berkualitas untuk Indonesia Maju

Inkonsistensi data merupakan salah satu isu data yang penting di Indonesia, yang disebabkan antara lain ...

%d blogger menyukai ini: