Home » Profil Ilmuwan

Warsito, Satu-satunya Peneliti Indonesia di Industrial Research Consortium, Ohio State

28 February 2006 762 views No Comment

Sempat Kuliah di UGM, Keluar karena Tak Bisa Bayar

Di AS, ada sebuah lembaga penelitian bernama Industrial Research Consortium di Ohio State University. Beberapa perusahaan minyak raksasa seperti ExxonMobil dan Shell menggunakan jasa lembaga itu. Di antara 15 peneliti di sana, ada nama Warsito, satu-satunya dari Indonesia.

ZAINAL ABIDIN – Jakarta

Penampilannya low profile. Sekilas, mungkin orang tak akan menyangka bahwa pria 39 tahun tersebut mempunyai prestasi yang tak bisa dianggap remeh. Dialah Warsito. “Nama saya memang hanya itu,” kata pria berkacamata minus tersebut ketika ditanya nama lengkapnya.

Sabtu siang lalu, dia sedang berada di Jakarta. Tepatnya, Warsito sedang mengikuti pertemuan di gedung Masyarakat Ilmuwan Teknologi Indonesia (MITI) di Jl Duren III, Jakarta Selatan. “Setahun dua kali saya pulang ke Indonesia. Semua keluarga saya di sini (Jakarta),” ungkapnya.

Bagi dia, perjalanan hidupnya bagai mimpi. “Saya benar-benar tak menyangka bisa seperti sekarang ini,” ujarnya.

Sejak 1999, Warsito menjadi salah seorang peneliti Industrial Research Consortium, Ohio State University. Orang awam mungkin asing terhadap nama lembaga tersebut. Tapi, tidak demikian halnya dengan sejumlah perusahaan minyak raksasa di dunia. Misalnya, ExxonMobil, Conoco Phillips, dan Shell.

“Perusahaan-perusahaan itu selalu menggunakan hasil temuan para peneliti di lembaga penelitian tersebut,” jelasnya. Untuk bisa diterima di lembaga penelitian bergengsi di AS itu, Warsito mengandalkan hasil temuannya yang dinamai Volume Tomography.

“Itu adalah instrumen untuk melihat bagian dalam sebuah pipa pengilangan minyak saat pengilangan minyak berlangsung. Dengan alat tersebut, bagian dalam pipa bisa dilihat secara tembus pandang dalam empat dimensi,” jelasnya.

Itu hanya salah satu di antara empat karya Warsito yang sudah dipatenkan. Saat ini, lanjut dia, Volume Tomography yang dipatenkan pada 2001 tersebut juga digunakan Department of Energy USA. Bahkan, dia kini sedang bernegosiasi dengan Shell, perusahaan minyak raksasa yang berpusat di Denhaag, Belanda, yang melirik instrumen temuannya tersebut. “Selain itu, perusahaan seperti ExxonMobil serta Dow Chemical sering bekerja sama untuk penelitian di bidang perminyakan. Termasuk, memberikan grant (bantuan, Red),” katanya.

Awal bergabung di lembaga penelitian AS tersebut, Warsito mengaku sempat minder. Maklum, syarat yang dipatok bagi peneliti dari negara lain cukup tinggi. Di antaranya, harus ber-IPK minimal 3,8 dan TOEFL score 650.

Beruntung, jalan ayah empat anak itu terbilang cukup mulus. Berkat rekomendasi seorang profesor anggota National Academy of Engineering (penasihat kongres AS di bidang teknologi), dirinya bisa lolos dan terpilih menjadi salah satu di antara 15 peneliti di lembaga tersebut.

Menurut dia, sebagian besar yang menjadi peneliti di lembaga tersebut adalah warga Tiongkok dan India. “Herannya, malahan tidak ada orang AS yang bisa lolos,” tegasnya.

Warsito menceritakan, awal pertemuannya dengan sang profesor terjadi ketika dirinya menyampaikan presentasi di sebuah konferensi internasional bidang reaktor di Amsterdam, Belanda. “Prof L.S. Fan namanya,” ungkapnya. Ketika itu, dirinya baru meraih gelar PhD di Shizuoka University, Jepang.

Memang, sebelum bergabung dengan Ohio State University, Warsito sudah 11 tahun berdomisili di Jepang. Perjalanannya menjadi seorang peneliti kelas dunia itu berawal saat dirinya berhasil lolos seleksi beasiswa Badan Penerapan dan Pengembangan Teknologi (BPPT) 1987. Selanjutnya, dia berhasil meraih beasiswa studi S-1, S-2, dan S-3 di Shizuoka University.

Sebelum ke Jepang, dia sempat mengenyam kuliah di jurusan teknik kimia Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta. Tapi, baru sebulan duduk di bangku kuliah, dia harus keluar. Orang tua Warsito yang hanya petani kecil di Karanganyar, Solo, tak mampu membiayai kuliahnya. “Ayah dan ibu saya memang sudah mewanti-wanti bahwa hanya sanggup membiayai sekolah saya sampai SMA,” jelasnya.

Tapi, Warsito saat itu tak putus asa. Dia memutuskan menyusul kakaknya di Jakarta untuk meminta uang. Namun, bukan uang yang didapatkan. Sang kakak malah menyarankan agar dirinya berhenti kuliah. “Saya disuruh ikut tes di BPPT waktu itu,” ujarnya.

Ternyata, langkah kakinya berhijrah ke ibu kota menjadi titik awal keberhasilannya. Pria yang lahir di sebuah kota kecil di lereng Gunung Lawu tersebut akhirnya kini berhasil menjadi ilmuwan kelas dunia.

Sejauh pengamatan Warsito, memang banyak nasib ilmuwan, khususnya jebolan BPPT, yang tak seberuntung dirinya. Begitu pulang ke Indonesia, kata dia, tak sedikit temannya yang akhirnya “menganggur”. “Biasanya, teman-teman yang bernasib seperti itu menyebut dirinya mengalami brain drained (otaknya mengering, Red),” katanya.

Karena itu, bersama rekannya sesama ilmuwan yang sempat mengenyam pendidikan di luar negeri, dia membentuk MITI. Wadah ilmuwan yang baru dibentuk sekitar dua tahun lalu tersebut mencoba memberdayakan para ilmuwan Indonesia.

Kenyataan bahwa para ilmuwan sering tidak “dipakai” di negeri sendiri tak mengurangi semangat Warsito dan teman-temannya untuk mencoba membantu memajukan dunia ilmu pengetahuan teknologi di Indonesia. Melalui MITI, mereka menjalin kerja sama dengan pihak asing untuk melakukan penelitian di dalam maupun luar negeri. “Tidak bekerja di Indonesia bukan berarti kami tidak cinta Indonesia,” tegasnya. (*)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 28 Feb 2006,

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.