Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

- Editor

Minggu, 19 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta kembali diramaikan oleh aksi tak biasa di sepanjang bantaran sungainya. Bukan sekadar pengerukan sampah plastik, kali ini ribuan ekor ikan berwarna gelap, berkulit keras, dan berwajah unik menjadi sasaran utama. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta baru saja menggelar operasi tangkap ikan sapu-sapu serentak di lima wilayah kota pada Jumat, 17 April 2026 lalu. Mengapa ikan yang dikenal sebagai “pembersih akuarium” ini kini dianggap sebagai musuh publik nomor satu di perairan ibu kota?

Sang Penjelajah dari Amazon

Ikan sapu-sapu, atau dalam terminologi ilmiah termasuk dalam famili Loricariidae, bukanlah penghuni asli sungai-sungai di Indonesia. Mereka adalah pendatang dari perairan Amerika Selatan, seperti Sungai Amazon. Dalam hierarki biologi, mereka termasuk ordo Siluriformes (ikan kumis), namun dengan adaptasi yang jauh lebih ekstrem dibanding lele biasa.

Ciri utamanya adalah tubuh yang tidak bersisik, melainkan terbungkus oleh lempengan tulang keras mirip zirah (bony plates). Mulutnya terletak di bagian bawah (ventral) dengan bentuk serupa alat penghisap (sucker mouth), yang memungkinkan mereka menempel kuat pada bebatuan sambil mengerik alga dan detritus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Invasi” yang Merusak Infrastruktur

Kehadiran ikan ini di Jakarta awalnya mungkin dianggap membantu karena sifatnya yang memakan lumut. Namun, sebagai spesies invasif, mereka tidak memiliki predator alami di sini. Ketahanan tubuh mereka luar biasa; di air yang minim oksigen dan tercemar berat sekalipun, mereka bisa bertahan hidup dengan memodifikasi lambung untuk menghirup udara langsung dari permukaan.

Dampak ekologisnya sangat nyata. Ikan sapu-sapu menguasai ruang dan makanan, membuat ikan lokal asli Jakarta tersisih. Lebih jauh lagi, ikan ini memiliki kebiasaan membuat lubang sarang di dinding tanah sungai. Ribuan lubang yang mereka bor secara kolektif dapat memperlemah struktur tanggul alami, memicu erosi, hingga meningkatkan risiko longsor bantaran sungai yang krusial bagi pengendalian banjir Jakarta.

Momentum Pembersihan April 2026

Operasi besar-besaran yang dilakukan Pemprov DKI baru-baru ini merupakan respons atas populasi yang sudah mencapai titik jenuh. Diperkirakan, lebih dari 60% populasi ikan di beberapa titik sungai Jakarta didominasi oleh spesies ini. Dalam operasi tersebut, ratusan kilogram ikan berhasil diangkat, termasuk pembersihan telur-telur ikan yang menempel di dinding turap sungai.

Salah satu poin penting dalam kampanye ini adalah edukasi mengenai bahaya konsumsi. Meski terlihat berdaging, ikan sapu-sapu dari perairan Jakarta adalah “penyerap racun” yang sangat efektif. Uji laboratorium menunjukkan kandungan logam berat seperti merkuri dan timbal dalam tubuh mereka telah melampaui ambang batas aman (di atas 0,3 mg). Oleh karena itu, hasil tangkapan dari aksi pembersihan ini tidak boleh diolah menjadi makanan, melainkan dimusnahkan dengan cara dikubur atau diolah menjadi kompos non-pangan.

Menjaga Keseimbangan Masa Depan

“Perang” melawan ikan sapu-sapu ini bukan sekadar tentang membasmi hama, melainkan upaya restorasi ekosistem. Dengan menekan populasi spesies invasif ini, pemerintah berharap ruang hidup bagi ikan lokal kembali terbuka dan integritas fisik infrastruktur sungai tetap terjaga.

Bagi kita, fenomena ini menjadi pengingat penting: melepaskan spesies asing ke perairan terbuka tanpa kajian matang dapat memicu bencana ekologis jangka panjang. Sungai Jakarta membutuhkan keseimbangan, dan terkadang, itu berarti kita harus mengeliminasi sang zirah berduri dari dasar airnya.


Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa populasi ikan ini dikendalikan secara agresif:

1. Dampak Terhadap Struktur Tanah dan Sungai

Ikan sapu-sapu memiliki perilaku membuat lubang atau sarang di dinding tanah sungai untuk bertelur. Dalam jumlah yang sangat besar, ribuan lubang ini dapat merusak struktur tanggul alami sungai, yang berpotensi menyebabkan erosi (pengikisan) atau bahkan longsornya bantaran sungai.

2. Dominasi Spesies Invasif

Ikan ini merupakan spesies invasif yang berasal dari Amerika Selatan. Mereka memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa kuat terhadap polusi dan limbah rumah tangga. Di perairan Jakarta yang tercemar, ikan sapu-sapu tidak memiliki predator alami, sehingga populasinya membeludak dan mendominasi ekosistem. Hal ini menyebabkan ikan lokal asli Jakarta sulit berkembang biak karena kalah bersaing dalam mencari makanan dan ruang.

3. Merusak Jaring Nelayan dan Alat Pembersih

Bagi petugas kebersihan sungai, ikan sapu-sapu sering kali dianggap sebagai gangguan teknis. Kulitnya yang keras, bersisik tajam, dan memiliki tulang sirip yang kuat sering kali merusak jaring atau alat penyaring sampah otomatis di pintu-pintu air.

4. Indikator Pencemaran Berat

Meskipun ikan ini dikenal sebagai “pembersih”, mereka sebenarnya mengonsumsi alga dan detritus di dasar sungai yang sering kali sudah tercemar logam berat. Oleh karena itu, ikan sapu-sapu dari sungai Jakarta tidak layak konsumsi karena berisiko mengandung zat berbahaya seperti merkuri atau timbal yang terakumulasi dalam dagingnya.


Upaya “pemburuan” ini biasanya dilakukan sebagai bagian dari pemeliharaan rutin sungai guna menjaga keseimbangan ekosistem dan mencegah kerusakan infrastruktur pengendali banjir di Jakarta.

Menangkap ikan sapu-sapu memerlukan pendekatan khusus karena karakteristik fisiknya yang keras dan habitatnya yang berada di dasar perairan yang sering kali berlumpur atau tercemar.

Berikut adalah penjelasan mengenai teknik penangkapan, alat yang digunakan, serta sistematika biologinya:

Cara dan Alat Tangkap Ikan Sapu-Sapu

Karena ikan ini cenderung berdiam diri di dasar perairan dan memiliki pergerakan yang tidak terlalu gesit, beberapa alat berikut sering digunakan:

  • Jala Lempar atau Jaring Tarik: Ini adalah alat yang paling efektif. Karena ikan sapu-sapu sering berkumpul di dasar sungai, jala yang berat akan langsung mengurung mereka di dasar. Namun, perlu hati-hati karena sirip dada mereka yang tajam sering kali tersangkut erat pada lubang jaring.
  • Serokan Besar (Tanggu): Petugas kebersihan di Jakarta sering menggunakan serokan bergagang panjang untuk mengambil ikan yang menempel di dinding sungai atau di sela-sela sampah pintu air.
  • Bubu atau Perangkap: Menggunakan perangkap yang diletakkan di dasar sungai dengan umpan berbau menyengat atau sisa sayuran bisa efektif, terutama di area dengan arus tenang.
  • Tombak Ikan (Spear Fishing): Di perairan yang agak jernih, teknik menombak bisa digunakan karena kulit ikan ini keras, sehingga anak panah atau tombak dapat menancap dengan kuat tanpa membuat ikan hancur.

Memastikan Target yang Tertangkap (Selektivitas)

Untuk memastikan bahwa yang tertangkap hanya ikan sapu-sapu dan tidak merusak populasi ikan lokal, digunakan beberapa metode:

  1. Metode Lokasi: Ikan sapu-sapu adalah spesies yang sangat toleran terhadap polusi. Di sungai-sungai Jakarta yang kualitas airnya buruk, hampir 90% populasi ikannya adalah ikan sapu-sapu, sehingga risiko salah tangkap ikan lokal cukup rendah.
  2. Sortir Manual: Jika menggunakan jala atau jaring, pemilahan dilakukan secara manual setelah jaring diangkat. Ikan lokal yang tidak sengaja tertangkap harus segera dilepaskan kembali ke air.
  3. Pengamatan Visual: Karena bentuk fisiknya yang sangat distingtif (kepala lebar, tubuh gepeng ke bawah, dan kulit kasar seperti amplas), sangat mudah bagi petugas untuk membedakannya secara visual dari ikan lain seperti nila atau gabus bahkan dari permukaan air.

Sistematika Ikan Sapu-Sapu

Secara ilmiah, ikan sapu-sapu termasuk dalam keluarga ikan kumis (catfish). Berikut adalah klasifikasi taksonominya:

Tingkatan TaksonKlasifikasi
KerajaanAnimalia
FilumChordata
KelasActinopterygii (Ikan bersirip kipas)
OrdoSiluriformes (Ordo ikan kumis)
FamiliLoricariidae (Keluarga ikan pemakan alga)
GenusHypostomus atau Pterygoplichthys (Paling umum di Indonesia)
SpesiesPterygoplichthys pardalis (Salah satu spesies yang paling banyak ditemukan)

Karakteristik Fisik Utama:

  • Loricariidae: Nama ini merujuk pada “lorica” yang berarti baju zirah, karena tubuhnya tidak bersisik biasa melainkan tertutup lempengan tulang keras.
  • Mulut Ventral: Mulutnya terletak di bagian bawah kepala dan berbentuk seperti alat penghisap (sucker mouth), yang diadaptasikan untuk mengerik alga dari batu atau kayu di dasar air.
  • Alat Pernapasan Tambahan: Mereka mampu mengambil oksigen langsung dari udara dengan memodifikasi lambung mereka, yang memungkinkan mereka bertahan hidup di air dengan kadar oksigen sangat rendah di mana ikan lain akan mati.
Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Berita ini 23 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru