Ikan Spesies Invasif; Penebaran Nila Ancam Danau Sentani

- Editor

Senin, 22 Juni 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelepasan 1 juta bibit ikan nila ke Danau Sentani di sela-sela Festival Danau Sentani 2015 di Kabupaten Jayapura, Papua, dikritik keras sejumlah pihak. Meski ikan nila dilepaskan di keramba, sifat predator ikan asal Afrika itu mengancam kelangsungan ikan endemis setempat dan pakan budidaya menyisakan soal penurunan mutu perairan setempat.

“Menurut Kementerian Lingkungan Hidup (kini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Danau Sentani ialah danau prioritas diselamatkan dan ekosistemnya dipulihkan dengan menambah populasi ikan endemis. Tetapi malah ditabur 1 juta bibit ikan nila,” kata Henderite Loisa Ohee, pakar ikan pelangi dan Ketua Program Pascasarjana Jurusan Biologi, Fakultas MIPA Universitas Negeri Cenderawasih, Minggu (21/6), di Jakarta.

Ia menanggapi penaburan 1 juta benih ikan nila dalam rangkaian acara Festival Danau Sentani 2015 yang dibuka Sabtu (20/6). Pelepasan sejuta benih oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, serta sejumlah pejabat pemerintah/ TNI/kepolisian di Papua itu pun dimasukkan rekor Muri. Benih itu dilepas di keramba jaring apung (KJA) Kampung Asei, di wilayah Danau Sentani.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw mengatakan, ikan nila ada sejak dulu. “Ikan nila atau mujair enggak apa-apa di Danau Sentani asal bukan ikan louhan (ikan red devil),” ucapnya.

Namun, menurut Henderite, meski dilepas di KJA, nila berpotensi lepas di perairan bebas di danau. Budidaya di danau juga memicu masalah seperti kematian ikan massal di Danau Maninjau akibat mutu perairan turun karena timbunan pakan.

Pelepasan ikan introduksi dinilai mempersulit pemulihan ikan endemis dan ikan asli Danau Sentani. Sejak 1958, introduksi ikan asing jenis mujair, tawes, dan gurami mulai dilakukan, lalu disusul ikan gabus toraja (Channa striata), nila, dan jenis lain hingga 17 spesies asing yang diintroduksi di Danau Sentani.

Introduksi jenis asing invasif (JAI) itu membuat ikan-ikan endemis seperti ikan pelangi Sentani (Chilatherina sentaniensis), ikan pelangi merah (Glossolepis incisus), dan ikan gobi terdesak. Mereka jadi mangsa dan telur turut dimangsa atau tak bisa menetas. Selain itu, ikan gabus sentani (Oxyeleotris heterodon) sulit didapat. Contohnya, perilaku mujair yang gemar mengaduk substrat membuat telur ikan pelangi sulit menetas.

Ahmad Poernomo, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, menjelaskan, introduksi asing seharusnya diawali kajian analisis risiko, misalnya interaksi ikan introduksi dan ikan endemis. Pelepasan 1 juta bibit nila di Danau Sentani itu tanpa konsultasi dengan Balitbang KP.

“Jika tak terkendali, ikan introduksi bisa mendominasi populasi dan membawa penyakit,” ujarnya. (ICH/DNE/FLO)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Juni 2015, di halaman 14 dengan judul “Penebaran Nila Ancam Danau Sentani”.

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 130 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB